Penulis: Agung Izzul Haqq Laksono – Universitas Jenderal Soedirman
Sunners, pernah nggak sih kalian bingung pas ada masalah? Mau dilawan tapi takut, mau kabur tapi kepikiran terus. Rasanya serba salah! Dalam dunia psikologi, pemicu kegalauan ini disebut dengan stressor. Secara definisi, stressor adalah segala sesuatu, baik kejadian, pikiran, maupun situasi, yang mengaktifkan respons stres di tubuh kita.
Uniknya, satu masalah yang sama bisa jadi tantangan seru buat si A, tapi jadi ancaman menakutkan buat si B. Ini tergantung penilaian kita, apakah kita merasa mampu menanganinya atau tidak. Respons yang salah bisa bikin burnout, tapi kalau tepat, stres justru bisa memotivasi atau disebut eustress. Jadi, kapan kita harus gas pol menghadapi masalah dan kapan boleh ngerem? Yuk, simak rumusnya di bawah ini!

Nggak semua masalah boleh ditinggal tidur, ya! Kamu wajib menyalakan mode “berani” saat situasi tersebut bisa diubah atau sebagian berada di bawah kendalimu, seperti belajar buat ujian atau meluruskan salah paham sama teman.
Kenapa harus dihadapi? Karena kalau kamu hindari, masalah tipe ini bakal makin parah seiring waktu, contohnya seperti utang yang numpuk atau nilai yang anjlok. Strateginya, gunakan problem-focused coping. Caranya adalah dengan memecah masalah besar jadi langkah-langkah kecil yang konkret biar nggak terasa berat. Ingat, menghadapinya sekarang bakal bikin mentalmu lebih kuat di masa depan.
Mundur itu nggak selalu berarti kalah, kok. Kadang, stressor adalah hal yang emang nggak bisa kita kontrol, seperti cuaca buruk, komentar hate speech dari troll di medsos, atau orang yang toxic dan abusif.
Kalau situasinya nggak aman atau cuma buang-buang energi tanpa hasil seperti debat kusir di internet, maka menghindar adalah langkah cerdas. Kamu bisa pasang batasan atau boundaries, matikan notifikasi, atau pergi sejenak buat recharge energi. Ini namanya strategi menyelamatkan kewarasan!
Tapi hati-hati ya Sunners, jangan jadikan “menghindar” sebagai hobi. Kalau kamu punya kebiasaan selalu lari dari masalah yang bikin cemas, seperti takut presentasi terus bolos, itu bahaya banget.
Penelitian menunjukkan kalau chronic avoidance atau kebiasaan menghindar justru bikin kecemasan makin tinggi dan distress berkepanjangan. Kenapa? Karena otakmu nggak pernah dapat bukti kalau sebenarnya kamu mampu menghadapinya. Masalah kecil yang ditumpuk terus lama-lama bisa meledak jadi krisis, lho.
*****
Jadi, kunci menghadapi stressor adalah fleksibilitas. Kalau bingung, pakai “Rumus 1 Bulan” ini. Coba tanyakan ke dirimu sendiri, “Kalau aku hindari masalah ini selama sebulan, kondisinya bakal membaik, sama aja, atau makin parah?”.
Jika jawabannya makin parah, maka kamu wajib menghadapinya meski pelan-pelan. Namun jika jawabannya sama saja atau membaik, maka boleh kamu hindari demi kesehatan mental.
Nah, sekarang coba cek masalah yang lagi kamu pikirin. Masuk kategori mana nih, harus dihadapi atau dihindari? Ceritain di kolom komentar ya, biar kita bisa diskusi bareng!

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
