Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Replaced

Penulis: Shafa Nurul Azmi P- UPI

26 Desember 2025, 4 hari sebelum acara drama musikal yang selalu diadakan setiap tahun oleh Teater Kembara. Menurut coach aziz, ia merasa bahwa tahun ini akan menjadi tahun untuk Teater Kembara yang sudah memenangkan 4 kejuaraan klub teater di 2025.

Kembara Ujung Cerita: Teror Tahun Baru

“Okay, temen-temen… aku pengen ini jadi best performance kita in twenty twenty five, so please kasih penampilan terbaik, aku percaya kita semua bisa, aku doain especially for Giska, Arindi and Sita as the main character bisa kasih best moment buat nanti dan semua yang ada disini anak-anak kembara-ku,nikmati panggung ini” ucap coach Aziz.

 

Aaminn, ucap semua anggota.

“Giska, nanti pas scene lu ngejar gue sama arindi kayanya better pake yang kita obrolin kemarin deh, jadi lu ada ketawanya gitu.”

“Oh iya rin, aman emang kayaknya lebih enak kaya gitu ya! tapi kemarin tuh blocking banget kalo lu lari ke arah kanan jadi better aga zigzag deh ga straight gitu langkahnya,” ucap Giska,

“Eh iya bener, gue juga ngerasanya aga gitu sih rin, terlalu cepet juga,” timpal Sita.

“Oh oke deh, aman aja.”

Mereka berlatih sekitar 25 menit berlalu, Giska, Arindi dan Sita menghentikan latihan mereka. Giska merebahkan dirinya di atas bean bag berwarna oranye, kakinya terasa sangat kram setelah berlari-lari untuk memperdalam perannya,

“Huft,” keluh Giska, Arindi dan Sita lalu duduk disamping Giska.

“Anyway sebenernya gue ga mau-mau banget meranin Anne di drama ini, kalo temanya horor gua suka ngeri sendiri, suka tiba-tiba aneh,” Arindi mencoba memulai obrolan,

“Gua juga, suka mendadak ada member baru,” timpal Giska.

Di balik tirai teater, sosok yang mirip muncul dan mengambil alih peran. Sebuah teror psikologis tentang doppelgänger, Replaced

“Hus, ngomongnya jangan suka sembarangan, lagian kita kan udah biasa sama kondisi latihan yang ga kenal jam rehat,” jawab Sita sedikit kesal.

Mereka lalu menyudahi percakapan itu lalu menyelesaikan latihan itu kembali.Semua orang sedang sibuk pada bagiannya masing-masing, menyusun setiap detail yang perlu ditambahkan di atas panggung, detail kostum, gerakan penampil sampai mereka tak menyadari bahwa pintu aula teater terbuka begitu saja, mereka tak menghiraukan siapapun meskipun suara tawa Giska yang mencekam menyusup di antara heningnya malam.

Hari Penampilan

Hari yang ditunggu telah tiba, semua sibuk bersiap, Home Theater berbau debu lampu, keringat, dan cat wajah murah. Semua orang bergerak cepat, seperti semut yang tahu sarangnya akan runtuh jika satu saja salah langkah. Di sudut ruang rias, Sita memeriksa naskah untuk kesekian kalinya, sementara Arindi berdiri di depan cermin, membetulkan pita hitam di rambutnya. Namun ada seseorang yang belum terlihat, iya, Giska. dua jam sebelum penampilan justru tak dihiraukan, padahal semua orang sudah sibuk, bahkan sangat sibuk. para penonton sudah mulai memenuhi ruangan, pembawa acara sudah bersiap untuk membuka, namun lagi-lagi, Giska yang justru menjadi pemeran utama belum juga datang.

Coach Aziz mondar-mandir, ponselnya tak berhenti di tangan. Panggilan tak terjawab. Pesan tak dibaca. Keringat mulai mengalir di pelipisnya, bukan karena panas, tapi karena ketakutan akan satu hal yang paling dibenci dalam teater, ketidakhadiran .“Ada yang bisa ganti Giska sementara?” teriak coach Aziz sambil gelisah, suaranya dipaksa tenang.

Seorang pemeran pembantu ditunjuk. Tangannya gemetar saat menerima wig dan kostum, ia langsung dibawa menuju ruang rias untuk menggantikan Giska sementara. Coach Aziz menunggu dari luar sambil berharap Giska sudah sampai.
Pertunjukan dimulai.

Di atas panggung, Sita dan Arindi memainkan adegan pembuka. Lampu redup. Musik pelan mengalun. Penonton tenang, menunggu teror yang dijanjikan judul besar di spanduk: Teater Musikal: Teror Tahun Baru. Di balik panggung, keributan kecil terjadi, beberapa kru sudah meminta pemeran pengganti segera siap, namun coach Aziz meminta adegan dibuat menjadi selambat mungkin karena ia tidak ingin ada kesalahan sedikit pun pada riasan peneror. Saat itulah seseorang muncul dari lorong gelap belakang Home Theater.

Ia sudah siap sepenuhnya, baju bergaris dengan rambut sedikit ikal. Wajah dengan kontur muka tajam dan bibir yang berwarna merah pekat serta riasan mata yang gelap dan justru lebih tebal dari latihan terakhir. Matanya menatap lurus, kosong, namun tajam. Persis seperti Giska… terlalu persis. Dalam kondisi yang kacau, kru tersebut hanya memberikan perintah untuk masuk tanpa mengetahui apa apa, ia lalu masuk kedalam adegan

“Hallo it’s Lizzie, wanna play with me?”

Semua orang bersorak saat melihat karakter lizzie yang menyeramkan, baju bergaris dengan jumpsuit selutut tanpa sepatu.Gerakannya terlalu halus. Senyumnya terlalu lama. Tatapannya tidak mencari cahaya lampu, tidak mencari lawan main melainkan menatap langsung ke mata mereka, seakan tahu ketakutan yang sedang mereka sembunyikan. Arindi dan Sita tak lama menyadari bahwa ini bukan Giska maupun pengganti Giska, di belakang layar, coach Aziz datang bersama pemeran pengganti, namun ia terkejut dengan apa yang terjadi, beberapa kru yang keheranan pun ikut panik dan memeriksa setiap anggota yang hadir,

“Coach, maaf kayanya aku teledor tapi ak gatau in-”

“Ssst.. gapapa, liat orang-orang” pandangan coach Aziz seperti orang yang tak pernah mereka kenal, matanya seakan takjub dengan penampilan sosok yang tidak dikenal ini. Di adegan puncak, sang badut peneror menari. Bukan tarian yang ada di naskah.”

Ia berputar terlalu cepat, tertawa keras tanpa mikrofon, tawanya memantul di dinding Home Theater seperti pecahan kaca. Musik tak lagi mengiringi; tubuhnya sendiri yang menjadi irama. Penonton terpukau. Tepuk tangan pecah. Sorak sorai memenuhi ruangan.Di balik panggung, beberapa orang disana ketakutan begitupun penari latar yang terlihat pucat menahan takut saat kembali ke balik layar, Saat tirai seharusnya tertutup, sosok itu berhenti. Menatap penonton. Membungkuk sedikit lalu berjalan pergi ke lorong gelap, masih tertawa kecil, seperti orang gila yang puas memainkan perannya. Tak ada yang mengejar. Coach Aziz hanya bertepuk tangan gembira diantara anggota yang ketakutan tidak berdaya,

drap drap drap

derap langkah itu semakin terdengar jelas,

“Coach! maaf banget, Giska telat, Giska ga bisa bangun hampir satu setengah jam! Coach maafin Giska dan ga maksud bikin kacau acara ini..” jawab Giska dengan suara parau menahan tangis,
Coach Aziz menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis.
“Semua sudah berjalan,” katanya pelan.
“Kamu… datang sia-sia.”

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Hari Penampilan

Ini Judul
(Harus ada Keyphrase di dalamnya)

Penulis: Nama Lengkap – Institusi

Paragraf pertama
(harus ada keyphrase)

Sub Sub Judul 2 atau Html 4
(Tidak harus ada keyphrase di setiap sub judul)

paragraph isi
(di setiap paragraf isi gak perlu ada keyphrase)

Sub Sub Judul 2 atau Html 4
(Tidak harus ada keyphrase di setiap sub judul)

paragraph isi
(di setiap paragraf isi gak perlu ada keyphrase)

(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Ini paragraf kesimpulan atau penutup
(Tidak harus ada keyphrase di dalamnya!)

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 21