Penulis: Rizma Ardhana Kamaria- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Raflan berhenti di halte TransJakarta. Bangkunya kosong. Ia duduk dan menyandarkan punggung, menatap jalan tanpa tujuan jelas. Lampu halte menyala terang, kontras dengan jalan yang mulai sepi.
“Capek juga,” gumamnya pelan.
Siang tadi terasa panjang. Kuliah, tugas, pesan dari grup kelas, pertanyaan di rumah yang ujung-ujungnya selalu sama. Semua datang berurutan, nyaris tanpa jeda. Raflan tidak sedang marah atau kesal, hanya lelah. Dan malam terasa seperti satu-satunya waktu di mana tidak ada yang menuntutnya menjelaskan apa pun.
Di jam segini, kota terasa berbeda. Tidak ada klakson bertubi-tubi, tidak ada orang yang berjalan tergesa. Raflan bisa duduk tanpa merasa dikejar waktu. Ia memperhatikan jalan di depannya, garis-garis marka yang memanjang, dan lampu lalu lintas yang tetap berganti warna meski hampir tidak ada kendaraan lewat.
Di seberang jalan, minimarket masih buka. Lampunya terang, rak-raknya terlihat rapi dari luar. Seorang pegawai keluar sebentar untuk merokok. Raflan melirik jam lagi, lalu menatap ke arahnya.
“Masih buka, Bang?” tanya Raflan.
“Iya, dua empat jam,” jawabnya singkat sambil tersenyum tipis.
Raflan mengangguk. Ia sempat terpikir untuk menyeberang, tapi urung. Ia kembali duduk. Tidak ada yang benar-benar ia butuhkan malam itu.
Tak lama kemudian, seorang pengendara ojek berhenti tak jauh dari halte. Mesin motornya dimatikan. Ia menatap ponsel cukup lama, lalu menghela napas.
“Sepi, ya?” katanya tiba-tiba.
Raflan menoleh. “Iya. Enak sih, tapi.”
“Tapi?” tanya pengendara itu.
“Kadang bikin kepikiran,” jawab Raflan jujur.
Pengendara itu terkekeh kecil. “Malam emang gitu. Kalau siang kebanyakan suara.”
Setelah itu mereka sama-sama diam. Tidak ada obrolan lanjutan, tapi Raflan tidak merasa canggung. Di jam segini, keheningan justru terasa wajar. Setiap orang seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.

Raflan memperhatikan gedung-gedung kantor di sekeliling halte. Sebagian besar lampunya sudah mati. Dari bawah, gedung-gedung itu terlihat biasa saja, tidak lagi terlihat megah seperti siang hari. Kota seolah menurunkan nadanya.
Ia membuka ponsel. Tidak ada pesan baru. Biasanya itu membuatnya gelisah, seakan ia tertinggal sesuatu. Tapi malam ini tidak. Ia justru merasa lega. Tidak ada yang perlu dibalas, tidak ada yang harus segera diselesaikan.
Lampu lalu lintas kembali berganti warna. Angin malam bertiup pelan. Raflan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Pulang, Mas?” tanya pengendara ojek sambil menyalakan mesin.
“Iya. Bentaran lagi,” jawab Raflan.
“Oke. Hati-hati.”
Motor itu melaju pelan dan menghilang di ujung jalan. Raflan masih berdiri di tempatnya beberapa saat, menatap jalan yang kembali kosong. Ia lalu melangkah pergi, menyusuri trotoar dengan langkah santai.
Tidak ada jawaban besar yang ia temukan malam itu. Tapi ada rasa lebih tenang. Seolah kota sudah mendengarnya, meski tanpa benar-benar berbicara. Jakarta tetap hidup di belakangnya, dan Raflan pulang membawa sunyi yang tidak lagi terasa berat.

Tidak ada jawaban besar yang ia temukan malam itu. Tapi ada rasa lebih tenang. Seolah kota sudah mendengarnya, meski tanpa benar-benar berbicara. Jakarta tetap hidup di belakangnya, dan Raflan pulang membawa sunyi yang tidak lagi terasa berat.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
