Penulis: Agung Izzul Haqq Laksono – Universitas Jenderal Soedirman
Sunners, siapa di sini yang hobinya scrolling foto vintage atau dengerin lagu city pop 80-an, terus tiba-tiba dada rasanya sesak karena kangen? Padahal, kamu lahir tahun 2000-an. Bingung, kan? Secara definisi, nostalgia adalah perasaan rindu pada kenangan masa lalu yang pernah kita alami. Tapi, kalau rindu pada masa yang gak pernah kita alami, itu namanya apa? Tenang, kamu nggak halusinasi. Perasaan unik itu bernama Anemoia

Istilah Anemoia mungkin belum masuk KBBI, tapi istilah ini sangat populer di psikologi pop. Anemoia didefinisikan sebagai kerinduan mendalam terhadap waktu, tempat, atau era yang tidak pernah dialami seseorang secara pribadi.
Istilah ini diciptakan oleh John Koenig dalam bukunya The Dictionary of Obscure Sorrows, diambil dari bahasa Yunani anemos (angin) dan noos (pikiran). Filosofinya seperti “angin yang membentuk pohon” perasaan yang dibentuk oleh imajinasi kita akan masa lalu, bukan memori nyata.
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa fenomena ini meledak banget di kalangan Gen Z? Jawabannya ada pada kondisi dunia saat ini. Gen Z tumbuh di era digital yang serba cepat, penuh tekanan, dan notifikasi tanpa henti.
Kalau nostalgia adalah soal memutar ulang memori di otak, maka anemoia adalah soal imajinasi. Penyebab utamanya biasanya adalah konsumsi media seperti film hitam putih, musik lo-fi, atau foto jadul.
Media ini bertindak sebagai mesin waktu. Saat melihat visual tahun 80-an, otakmu tidak mengambil data dari ingatan, melainkan membangun skenario imajinatif baru. Kamu merasa terhubung secara emosional seolah pernah hidup di sana, padahal itu cuma “mimpi” yang dibangun otakmu.

Biar makin yakin kalau kamu terkena anemoia, coba cek apakah hal-hal ini yang sering bikin kamu baper:
Sering merasa sedih karena “lahir di salah generasi”? Jangan khawatir. Meskipun anemoia punya rasa bittersweet (manis tapi getir) seperti nostalgia pada umumnya, dampaknya tidak buruk bagi kesehatan mentalmu.
Berbeda dengan nostalgia biasa yang kadang menyakitkan karena kita sadar momen itu sudah hilang (sense of loss), anemoia tidak memiliki rasa “kehilangan yang nyata” itu—karena memang kita tidak pernah memilikinya sejak awal.
Ini adalah bentuk wisata mental (mental travel) yang aman. Bagi banyak orang, anemoia justru memicu inspirasi, kreativitas, dan harapan. Perasaan ini mengizinkan otak kita untuk beristirahat sejenak di “dunia imajinasi” yang lebih indah daripada realita saat ini.
Jadi, sudah paham kan bedanya? Kalau nostalgia adalah rindu kenangan lama, Anemoia adalah rindu imajinasi lama. Fenomena ini membuktikan betapa hebatnya imajinasi manusia, kita bisa merasa terhubung secara emosional dengan sejarah dan orang-orang yang hidup puluhan tahun sebelum kita lahir.
Nah, sekarang giliran kamu cerita. Era apa yang paling sering bikin kamu kena serangan Anemoia? Apakah era Victorian yang elegan, atau era 90-an yang grunge abis? Tulis curhatan “salah generasi” kamu di kolom komentar, ya!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
