Penulis: Helen Luo
Ada kala seseorang harus diam walaupun ia tahu kebenarannya. Benar bukan?
Seorang bapak tua sedang duduk di teras rumahnya, sebelah rumahku. Semenjak awal berkenalan dengannya, menyapanya, semua terasa begitu aneh.
“Tetangga itu aneh mi,” ucapku kepada mama saat aku disuruh mengantar parsel kerumahnya. Namun karena ibuku memaksa, dengan berat hati harus kuantarkan parsel itu ke rumahnya.

“Permisiii…”
“Peeeermiiisiiiiiii…”
Kata “permisi” kuucapkan berkali-kali di depan rumahnya.
“Haduh, tuh bapak tua ke mana sih? Nanti ku harus kembali untuk mengantar parsel lagi dong? Haduh males banget ah..”
Akhirnya aku membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya ketika melihat keadaan rumahnya. Jujur, ini pertama kali ku masuk ke dalam rumahnya walau aku sudah lama pindah dan menjadi tetangganya.
Bau amis menyelimuti seisi rumahnya. Terlihat kaca pecah dan tirai yang koyak dan sangat lusuh. Semua itu menggetarkan diriku. Dengan langkah besar, aku segera berbalik dan..

“AHH”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk masuk ke mari, eeh.. Maaf, aku harus segera kembali ini parsel kiriman mami”
Baru satu langkah ku berjalan, bahuku ditahan “Hei, anak muda. Jangan ceritakan ini kepada siapapun atau kau akan tahu akibatnya.”
Dan semenjak malam itu, teror terus mendatangi diriku walau aku tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun. Entah misteri apa yang disimpan bapak tua tersebut. Semua itu sangat kusesali, seandainya tidak berurusan dengannya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
