Penulis: Najwa Haifa – Politeknik Negeri Jakarta
Memasuki usia 20-an sering kali terasa seperti berada di fase persimpangan hidup. Banyak pilihan besar yang harus diambil, mulai dari soal pendidikan, karier, keuangan, hingga pencarian jati diri. Tidak jarang, hal-hal tersebut memunculkan kebingungan, tekanan, bahkan rasa cemas tentang masa depan. Dalam situasi seperti ini, membaca bisa menjadi cara terbaik untuk menemukan arah. Melalui rekomendasi buku yang tepat, kamu tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga inspirasi, pengalaman, bahkan mentor diam-diam yang bisa membantu menjalani fase penting dalam hidup ini dengan lebih percaya diri.
Usia 20-an adalah masa penuh pencarian dan percobaan. Banyak orang bertanya-tanya ingin jadi apa, bagaimana cara meraih sukses, hingga bagaimana cara mengatur hidup agar tetap seimbang. Namun, sayangnya tidak semua orang memiliki mentor atau lingkungan yang bisa memberikan arahan jelas. Di sinilah buku mengambil peran penting.
Buku bukan hanya sekadar rangkaian kata, tetapi juga wadah pengalaman, pemikiran, dan kebijaksanaan dari penulis yang sudah lebih dulu melalui berbagai fase kehidupan. Dengan membaca, kita bisa “belajar cepat” dari pengalaman orang lain tanpa harus jatuh ke dalam kesalahan yang sama.
Karena itu, membaca buku di usia 20-an bukan hanya soal hobi, melainkan sebuah investasi diri. Melalui buku, kita bisa memperluas cara pandang, membentuk kebiasaan positif, dan menemukan arah yang lebih jelas untuk masa depan.
Buku ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak harus dimulai dengan langkah besar, tapi bisa melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. James Clear membongkar bagaimana kebiasaan bekerja, mulai dari pemicu, rutinitas, hingga hasil, dan bagaimana kita bisa memanfaatkan pola tersebut untuk membentuk kebiasaan positif dalam hidup. Di usia 20-an, ketika produktivitas dan disiplin menjadi kunci untuk mengejar mimpi, Atomic Habits bisa jadi peta yang membantu kamu mengubah rutinitas kecil menjadi pondasi kesuksesan besar.
Melalui buku ini, Henry Manampiring berhasil memperkenalkan filsafat Stoikisme ke anak muda Indonesia dengan bahasa yang sederhana dan relatable. Stoikisme adalah filsafat kuno yang mengajarkan bagaimana kita bisa hidup lebih tenang dengan fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan tidak larut dalam hal-hal di luar kendali. Di tengah budaya modern yang penuh tekanan, overthinking, serta rasa cemas akan masa depan, Filosofi Teras menjadi semacam panduan hidup yang menguatkan. Buku ini mengajak pembaca usia 20-an untuk menerima kenyataan dengan lebih bijak, melatih ketenangan batin, dan mengurangi beban pikiran yang sering tak perlu.
Buku karya peraih Nobel Ekonomi ini membahas cara kerja otak manusia yang ternyata terbagi menjadi dua sistem: sistem cepat (intuitif, emosional) dan sistem lambat (logis, analitis). Daniel Kahneman menjelaskan bagaimana kedua sistem ini memengaruhi cara kita membuat keputusan, termasuk keputusan-keputusan besar yang sering muncul di usia 20-an, seperti memilih jurusan, pekerjaan, pasangan, hingga gaya hidup. Dengan pemahaman ini, pembaca akan lebih sadar terhadap bias kognitif yang sering menjerumuskan kita, sekaligus belajar mengambil keputusan secara lebih rasional. Thinking, Fast and Slow cocok untuk kamu yang ingin lebih kritis, hati-hati, dan bijak dalam menavigasi kehidupan.
Mark Manson menulis buku ini dengan gaya yang lugas, humoris, tapi juga menohok. Pesan utamanya adalah: hidup itu terbatas, jadi kita tidak bisa (dan tidak perlu) peduli pada semua hal. Anak muda sering terjebak pada ekspektasi orang lain, standar sosial, atau tekanan untuk selalu terlihat sukses. Buku ini dapat membantu kita memilah mana hal yang benar-benar penting untuk diperhatikan, dan mana yang sebaiknya dilepas agar hidup lebih ringan. The Subtle Art of Not Giving a F*ck adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak datang dari mencoba menyenangkan semua orang, melainkan dari fokus pada nilai-nilai yang benar-benar berarti.
Buku ini menjadi fenomena karena berhasil menyentuh perasaan banyak anak muda Indonesia. NKCTHI berisi kumpulan refleksi, kutipan, dan potongan kisah sederhana tentang keluarga, hubungan, kehilangan, dan pencarian jati diri. Dengan gaya penulisan yang puitis, Marchella FP mampu menggambarkan realita kehidupan sehari-hari yang dekat dengan pembacanya, terutama mereka yang sedang berproses di usia 20-an. Buku ini bukan hanya bacaan, tapi juga teman refleksi yang bisa menenangkan ketika kita merasa sendiri atau tidak dimengerti.
Jika ada satu buku keuangan yang wajib dibaca anak muda, mungkin inilah salah satunya. Rich Dad Poor Dad mengajarkan perbedaan pola pikir orang kaya dan orang miskin dalam memandang uang, pekerjaan, serta investasi. Robert Kiyosaki menekankan pentingnya membangun aset, belajar investasi, dan memahami bahwa kebebasan finansial datang dari pola pikir yang benar, bukan sekadar bekerja keras. Di usia 20-an, saat baru mulai mengelola gaji, tabungan, atau usaha kecil-kecilan, buku ini bisa jadi bekal berharga untuk menghindari kesalahan finansial umum yang sering dilakukan anak muda. Dengan pemahaman ini, kamu bisa menyiapkan masa depan yang lebih stabil secara finansial.
Membaca buku bukan hanya sekadar aktivitas mengisi waktu, tetapi juga investasi jangka panjang untuk memperkaya pikiran dan membentuk karakter. Enam rekomendasi buku di atas dapat menjadi bekal berharga bagi anak muda Indonesia dalam menghadapi tantangan hidup, membangun kebiasaan positif, serta memperluas wawasan. Dengan membaca, kita belajar melihat hidup dari sudut pandang berbeda. Mari mulai membiasakan diri membaca dan temukan makna baru dalam setiap lembar yang kita jelajahi.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.