Skip to main content

Majalah Sunday

White Lies: Berbohong Demi Perasaan Orang

Penulis: Adit Raffi Saputra – Universitas Bina Sarana Informatika

Pernah ga kamu bilang “ga apa-apa” padahal sebenarnya sedang kesal? Atau memuji sesuatu yang diberikan teman meskipun sebenarnya kamu kurang menyukainya? Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita terkadang memilih mengatakan sesuatu yang ga sepenuhnya benar karena ga ingin membuat orang lain kecewa. Kebohongan kecil seperti ini dikenal sebagai white lies atau kebohongan putih. Biasanya, kebohongan ini dilakukan bukan untuk merugikan orang lain, melainkan untuk menjaga perasaan, menghindari konflik, atau membuat situasi menjadi lebih nyaman.

Misalnya, kamu sebenarnya ga ingin ikut nongkrong, tetapi malah mengarang alasan karena ga enak menolak ajakan teman. Atau ketika seseorang bertanya apakah penampilannya bagus, kamu menjawab “bagus banget” meskipun pendapatmu sebenarnya berbeda. Kamu mungkin merasa bahwa berkata jujur hanya akan membuat suasana menjadi canggung.

Sekilas, white lies memang terlihat seperti cara sederhana untuk menjaga hubungan. Namun, pernahkah kamu berpikir mengapa kita terkadang lebih memilih berbohong daripada mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan? Apakah kita benar-benar melakukannya demi menjaga perasaan orang lain, atau sebenarnya kita juga ga ingin menghadapi reaksi mereka?

Apa yang Membuat Kita Memilih White Lies?

Illustrasi Berbohong Demi Menjaga Perasaan Orang Lain

Salah satu alasan kita melakukan white lies adalah karena ga ingin mengecewakan orang lain. Kita mungkin sudah membayangkan bagaimana reaksi seseorang ketika mendengar jawaban yang sebenarnya, lalu memilih mengatakan sesuatu yang dirasa lebih aman.

Contohnya, ketika teman mengajakmu pergi pada akhir pekan, padahal kamu sedang ingin beristirahat di rumah. Kamu bisa saja mengatakan bahwa kamu sedang ga ingin pergi. Namun, kamu khawatir temanmu mengira kamu ga mau menghabiskan waktu bersamanya. Akhirnya, kamu memilih beralasan sedang ada acara keluarga agar dia ga merasa ditolak.

Hal serupa juga terjadi ketika teman meminta pendapat tentang sesuatu yang sudah susah payah dibuatnya. Kamu melihat masih ada beberapa bagian yang kurang bagus, tetapi memilih mengatakan, “Bagus kok!” karena ga ingin membuatnya sedih. Kamu ingin menghargai usahanya, meskipun harus sedikit menyembunyikan pendapat sendiri.

Selain ga ingin mengecewakan orang lain, kita terkadang juga takut dianggap buruk. Kita ingin menjadi teman yang menyenangkan, ga mau dianggap terlalu sensitif, atau khawatir hubungan dengan seseorang berubah hanya karena satu perkataan. Akibatnya, kita lebih memilih jawaban yang sekiranya aman daripada mengambil risiko membuat suasana menjadi canggung.

Misalnya, ketika semua teman sepakat memilih tempat makan yang sebenarnya ga kamu sukai, kamu mungkin hanya berkata, “Terserah, aku ikut saja.” Kamu ga ingin dianggap merepotkan atau menjadi satu-satunya orang yang mempermasalahkan pilihan tersebut. Sekilas, ga ada masalah. Namun, keputusan seperti ini juga menunjukkan bahwa terkadang kita mengesampingkan keinginan sendiri demi menjaga suasana tetap nyaman.

Ada juga saat ketika kita sebenarnya ingin bercerita, tetapi kesulitan mengungkapkan apa yang dirasakan. Ketika teman bertanya, “Kamu kenapa? Ada masalah?” kita mungkin menjawab, “Ga, aku cuma capek,” padahal sebenarnya sedang sedih atau kecewa. Bukan berarti kita ga percaya kepada teman sendiri. Bisa jadi, kita belum siap bercerita atau takut membuatnya ikut khawatir.

Dari contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa white lies ga selalu muncul karena kita ingin menipu. Terkadang, kita melakukannya karena ingin menjaga hubungan sekaligus menghindari situasi yang membuat kita ga nyaman. Kita ingin orang lain tetap merasa baik-baik saja, tetapi pada saat yang sama juga ga ingin menghadapi kemungkinan munculnya konflik atau kekecewaan.

Apakah White Lies Selalu Berdampak Baik?

Dalam situasi tertentu, white lies mungkin bisa membantu menjaga suasana. Misalnya, memberikan tanggapan yang lebih lembut ketika teman sedang merasa ga percaya diri dapat membuatnya merasa lebih nyaman. Namun, bukan berarti semua kebohongan kecil selalu memberikan dampak yang baik.

Masalahnya, ketika terlalu sering berbohong demi menjaga perasaan orang lain, kita bisa terbiasa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan. Kita terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiran.

Bayangkan kamu punya teman yang beberapa kali membatalkan janji secara mendadak. Kamu sebenarnya kecewa, tetapi selalu menjawab, “Ga apa-apa, santai saja.” Awalnya, kamu mungkin hanya ingin memaklumi kesibukannya. Namun, jika hal itu terus terjadi, rasa kecewa tersebut bisa menumpuk. Temanmu pun mungkin menganggap tindakannya bukan masalah karena kamu ga pernah mengatakan bahwa kamu merasa terganggu.

Akhirnya, kebohongan kecil yang awalnya dimaksudkan untuk menghindari konflik justru bisa membuat masalah semakin sulit diselesaikan. Kamu merasa ga dihargai, sedangkan temanmu ga memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika masalah tersebut akhirnya dibicarakan, kamu mungkin sudah terlanjur kesal karena terlalu lama memendam perasaan.

Kebiasaan seperti ini juga bisa membuat kita merasa lelah secara emosional. Bayangkan harus terus berpura-pura senang ketika sebenarnya sedang sedih, atau mengatakan bahwa kamu ga keberatan ketika sesuatu terus mengganggumu. Semakin sering kamu menyembunyikan perasaan, semakin sulit pula bagi orang lain untuk memahami keadaanmu.

Dalam beberapa situasi, kebiasaan berbohong juga bisa menimbulkan rasa bersalah atau kecemasan. Kamu mungkin terus memikirkan apakah orang lain akan mengetahui kebohonganmu atau khawatir jika suatu saat harus menjelaskan alasan di balik perkataanmu. Dampaknya tentu berbeda bagi setiap orang, tetapi menyembunyikan perasaan secara terus-menerus bisa membuat komunikasi terasa lebih sulit.

Selain itu, white lies juga bisa memengaruhi kepercayaan. Misalnya, kamu mengatakan menyukai hadiah dari teman agar dia ga kecewa. Namun, ketika dia mengetahui bahwa kamu sebenarnya ga menyukainya, dia mungkin mulai bertanya-tanya apakah tanggapanmu selama ini benar-benar jujur. Persoalannya bukan hanya tentang hadiah tersebut, tetapi juga tentang bagaimana kebohongan kecil bisa membuat seseorang meragukan perkataan kita.

Lalu, apakah itu berarti kita harus selalu mengatakan semua hal secara terus terang? Ga juga. Jujur bukan berarti harus berbicara kasar atau mengatakan segala sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ada cara untuk menyampaikan pendapat dengan jujur tanpa harus membuat orang lain merasa direndahkan.

Misalnya, ketika teman meminta pendapat tentang tugasnya, kamu ga harus memilih antara memberikan pujian palsu dan mengkritik secara tajam. Kamu bisa mengatakan, “Idenya sudah menarik, tetapi menurutku bagian penjelasannya masih bisa diperjelas.” Begitu pula ketika menolak ajakan teman, kamu bisa mengatakan, “Makasih sudah ngajak, tapi kali ini aku mau istirahat di rumah, ya.”

Jawaban seperti itu tetap jujur tanpa harus menyakiti orang lain. Kamu juga ga perlu mengarang alasan hanya karena merasa ga enak menolak. Pada akhirnya, kita bisa belajar bahwa menjaga perasaan orang lain bukan berarti harus selalu membuat mereka senang. Terkadang, kita hanya perlu menemukan cara yang lebih baik untuk menyampaikan apa yang sebenarnya kita pikirkan.

Produk Rekomendasi Sunday

White lies sering kali muncul karena kita ga ingin mengecewakan orang lain, menghindari konflik, atau takut merusak hubungan. Mulai dari berpura-pura ga tersinggung hingga memberikan pujian yang sebenarnya ga sepenuhnya kita yakini, kebohongan kecil bisa terasa seperti pilihan paling mudah dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, niat baik ga selalu membuat kebohongan menjadi solusi terbaik. Jika terus dilakukan, kebiasaan ini bisa membuat komunikasi kurang terbuka, menimbulkan tekanan emosional, dan mengurangi kepercayaan. Kita mungkin berhasil menghindari kekecewaan untuk sementara waktu, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Bukan berarti kita harus selalu mengatakan semua hal secara blak-blakan. Kita tetap bisa mempertimbangkan perasaan orang lain sambil belajar menyampaikan pendapat dengan lebih jujur dan bijak. Kita boleh menolak ajakan, mengungkapkan kekecewaan, atau memberikan kritik tanpa harus merendahkan orang lain.

Pada akhirnya, kita ga selalu bisa mencegah orang lain merasa kecewa, dan itu bukan berarti kita telah melakukan sesuatu yang salah. Hubungan yang sehat bukan tentang bagaimana kita selalu menyenangkan satu sama lain, melainkan bagaimana kita bisa saling memahami dan membangun kepercayaan.

Jadi, ketika kamu merasa ingin berbohong demi menjaga perasaan seseorang, coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah kamu benar-benar ingin melindungi perasaannya, atau sebenarnya kamu takut menghadapi reaksinya? Terkadang, yang dibutuhkan bukanlah kebohongan yang terdengar menyenangkan, melainkan kejujuran yang disampaikan dengan empati.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 4