WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Sampul Biru Langit

Aku ingin mendengar suaranya. Banyak, banyak, dan banyak lagi. Aku tidak ingin mendengar desiran nafasku. Tidak ingin dengar jatuhnya air mataku. Aku hanya ingin dengar suaranya. Banyak, banyak, dan banyak lagi.

“Hai”

Bukan dari dalam pikiran. Aku ingin dengar langsung suara itu bergetar di samping telinga. Aku tidak suka hanya membayangkannya. Aku benci hanya mengharapkannya. Kemana, suara itu membawa diriku pergi?

*****

Saya mencatat semua. Semua hal yang saya tidak tahu. Tidak ingin tahu. Sama sekali tidak mau tahu.

 

Dia beli 2 es krim dengan 2 rasa yang berbeda. Satu untuknya, satu untuk saya. Dia tetap ingin mencicipi punya saya dan meminta saya mencicipi miliknya, padahal kami sudah punya masing-masing satu. 

 

Kalau sudah punya masing-masing satu, kenapa harus berbagi? Merepotkan sekali. Ditambah, es krim yang dibeli wanita itu es krim cone. Saya risih sekali ketika wanita itu memajukan bibir tanda ingin lagi. Seharusnya ia memakan saja kedua es krim itu daripada harus memberikan es krim yang satunya kepada orang lain. Orang lain, lucu sekali.

Dia mengajak saya bermain ice skate padahal ia tidak bisa main. Saya juga tidak bisa. Kami menghabiskan uang kami untuk merambat di kaca dan tergelincir, berkali-kali. Tapi dia terus tertawa riang.

Saya bingung. Bukankah seseorang melakukan sesuatu yang bisa dilakukan? Seperti saya, saya bermain gitar karena merasa bisa setelah mencobanya dan suka. Lalu kenapa ada yang mau bermain sesuatu padahal tidak bisa dan tidak suka? Waktunya jadi terbuang sia-sia. Walaupun sebenarnya tidak juga. Selalu ada yang pertama kali kan untuk sesuatu yang disukai? Itu juga pertama kalinya wanita itu bermain. Pertama kalinya juga ia berani mencoba sesuatu yang baru secara acak. Tapi saya tetap tak habis pikir kalau ternyata ada orang yang berani menyeret orang lain untuk melakukan sesuatu hal yang sia-sia. Saya memikirkan ini sampai sesaat sebelum tidur malam.

Dia teriak paling kencang sampai suaranya habis. Keesokan harinya tenggorokannya sakit sampai tidak bisa bicara. Dia bilang tidak apa-apa dan lain kali akan teriak lebih keras lagi.

Festival seni tahuan sekolah membawa saya kembali naik panggung. Saya bermain gitar dengan serius sampai mata saya memicing-micing. Saya bergairah dengan teriakan penonton yang melonjak-lonjak. Tapi ada satu suara yang tidak serasi. Suara yang lebih heboh diantara histeria. Wah, suaranya lagi? Saya menggelengkan kepala tak habis pikir. Kegilaan wanita itu menjadikan saya semakin tak terkendalidi panggung. Tidak tahu kenapa, saya mendadak ingin jadi yang paling keren malam itu. Tidak masalah kalau besok saya kembali jadi pecundang, yang penting malam itu saya menang.

Dia minta dua porsi nasi. Satu porsinya diberikan kepada saya, padahal saya sudah punya satu. Dia bilang, itu tidak cukup. Dia tahu saya suka nasi dan dia mengambil irisan daging saya sebagai gantinya. 

Aa, wanita itu melakukannya tanpa bertanya. Saya tidak pernah bilang kalau saya sebegitunya menyukai nasi, tapi dia tahu begitu saja. Apa begitu ketara? Matanya jeli sekali. Dia melakukannya dengan terus terang tanpa keraguan. Tidak punya rasa tidak enak dan malu. Bagaimana bisa ada orang sepertinya?

Orang aneh datang tiba-tiba menghampiri. Teriak “saya suka sama kamu!” Lantang sekali setelah sesaat saya membalikkan punggung membelakanginya. Itu pengakuan pertama. Memalukan, semua orang lantas menatap kami.

Daripada malu, sebenarnya saya lebih penasaran. Saya terus berjalan setelah ia melontarkan pengakuan. Dia mengikuti saya dengan langkah berisik. Begitu juga tatapan orang-orang kepada kami. Bukannya tetap mengunci dan bersikap acuh, saya malah terbawa emosi.

“Kamu belum tau buruknya saya.”

Tapi bukannya kecewa, ia malah malah berteriak yang tidak-tidak lagi.

“Kasih tau saya semuanya.”

Suara petir langsung mengamuk setelah mulutnya mengeluarkan kalimat itu. Langit semakin gelap. Wajahnya masih berseri-seri tanpa terpengaruh muramnya langit kelabu.

“Kalo saya bisa tetep kering sampai halte tanpa berteduh, kita pacaran.”

Matanya terbuka lebar. Nefasnya tersenggal-senggal. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Langkah pertamanya begitu yakin. Langkah kedua, butiran air samar-samar mulai berjatuhan. Wajahnya meyakinkan saya lagi tepat setelah ia mulai berlari ketika makin banyak cairan yang tumpah dari cangkir teh awan yang tersenggol oleh kenekatannya.

Saya tidak membawa payung. Saya juga tidak berteduh. Saya benci hujan, termasuk juga hujan di hari itu, saya benci sekali. Sepatu putih saya jadi kotor. Dari ujung rambut sampai kaki tidak ada yang selamat. Semuanya basah.

Wanita gila itu juga pasti basah kuyup, pikir saya. Mana mungkin ia berlari sejauh 500 meter ketika intensitas hujan lebat tanpa terguyur air. Tidak mungkin. Dalam kepala saya membayangkan tubuhnya basah kuyup sendirian di antara pengantri bus, sial sekali.

“Kita pacaran.”

Salah. Dugaan saya salah. Ia kering. Tangan saya spontan menyentuh lengan kemejanya karna sempat meragukan apa yang saya lihat. Hanya ada sedikit air, itupun tidak kasat mata dan terasa di kulit.

Walaupun itu tidak berlangsung lama karena ia keluar dari halte untuk menghampiri saya. Mendongakkan kepalanya ke langit sambil memejamkan mata. Merentangkan tangan kemudian berputar-putar gembira. Membagikkan senyum bangganya kepada awan yang segera menyerah pada kericuhan yang ia ciptakan.

Kami memakai seragam hari Senin. Bahan kemeja putihnya lumayan tipis. Dia ceroboh lagi. Saya menutupinya dengan jaket yang saya kenakan tanpa pikir panjang. Mendadak, Orang-orang bersorak riuh sekali. Pertama kalinya terjadi selain ketika pentas.

Sumber : Pinterest.com

Saya tidak tahu cara lari darinya, dan itu terjadi begitu saja. Saya terjebak masalah yang lebih merepotkan daripada hujan. Namun, tangan saya enggan membuka payung. Membiarkan saja diri ini tertimpa hujaman air terjun. Entah apakah saya hanyut atau kembali ke tepian, saya juga penasaran.

*****

Perempuan itu duduk menumpu bahu pada kaca. Dalam hati ia berdoa semoga hujan segera singgah. Kerinduannya akan hujan setara dengan rindunya pada seseorang yang ada di hadapannya sekarang.

“Ini. Saya kayaknya udah gak perlu lagi.”

“Ini buku apa?”

Sumber : 123rf.com

Hanya pertanyaan retorika sebab jarinya yang tak suka menunggu jawaban segera mengibas lembar demi lembar buku itu.

“Kamu masih perlu ini.”

Bibirnya terhenti bukan karena memikirkan alasan yang tepat.

“Buku itu sudah tamat.”

Diucapkannya kalimat yang entah ia ingin katakan atau tidak. Kalimat yang dari tadi ia tahan di tenggorokan.

“Belum.”

Perempuan itu menggeser buku berkover biru langit pagi itu mendekati lawan bicarannya.

“Masih banyak yang akan kamu tulis. Masih banyak hal-hal yang kamu gak mau tahu jawabannya. Yang kamu, bahkan aku gak ngerti kenapa.”

Dia menunduk, menyembunyikan tatapan yang ia tahan selama dua tahun lamanya.

“Semuanya sudah selesai. Saya kesini cuma untuk menyelesaikan sebagaimana mestinya.”

Ia menelan air matanya kuat-kuat.

“Kamu harus berhenti melihat saya. Berhenti mengikuti saya. Dan mulai mengejar mimpi kamu yang sebenarnya.”

Titik disematkan tepat diakhir kalimat. Seakan tidak ada lanjutan lagi untuk pertemuan berikutnya. Tidak ada berikutnya setelah ia berpaling berjalan menuju pintu keluar.

“Kenapa kamu terus ngikutin saya? Saya bilang kan berhenti.”

“Kamu bilang, saya harus ngejar kamu.”

Telak. Kapan ia berkata begitu? Pintu keluar sudah hampir ditarik ketika dirinya terdorong kembali.

“Kamu bilang saya harus mengejar mimpi saya.”

Ia memohon, hari ini tolong jangan hujan.

“Iya memang. Kejarlah.”

“Saya sedang mengejarnya sekarang.”

Kilatan cahaya merambat mencoret-coret ketentraman langit.

“Kamu mimpi saya, saat di halte, ketika kamu menghilang, dan hari ini. Mimpi saya belum berubah.”

Nafas perempuan itu mulai tersenggal-senggal. Jemarinya gemetar usai suara petir mennyanggah pengakuannya.

“Tapi..kenapa,”

“Apa susahnya sih jalan bareng-bareng?”

Pelan-pelan ia berusaha mengontrol getaran pada jemarinya tapi itu terlalu sulit.

“Kamu juga butuh seseorang yang berjalan di samping kamu kan? Bukan di belakang, bukan di depan? Iya, kan?”

Meletup. Kantung matanya tidak mampu lagi menhan beban lebih lama. Hidung dan matanya mengkerut menghasilkan isak tangis tanpa suara. Dadanya yang berat mulai terlepas dari lilitan jerat keegoisan. Pelan-pelan tangan kanannya ia ulurkan ke depan, menanti sambutan yang telah lama seharusnya ia dekap.

Keduanya keluar dari kafe, pergi menduh ke tempat beratapkan awan-awan. Menyamakan ketukan 4 sepatu yang berdentuman. Sampai harapannya datang, hujan deras akhirnya terpencar kemana-mana.

 

Featured image dari Seventeen diary

 

 

Oleh Maharani Laksmi Dewi, UNJ

Leave A Comment