Majalah Sunday

Kenali Toxic Masculinity di Sini Yuk!

Halo Sunners, kali ini mimin punya topik bahasan yang ga kalah seru untuk dibahas daripada minggu lalu yaitu tentang Toxic Masculinity atau Maskulinitas Beracun.

Istilah Maskulinitas memang baik untuk membantu membangun identitas seseorang di lingkungan sosial, tapi jika orang tersebut tidak mampu mewujudkan Maskulinitas yang akan dicapai, maka akan mengarah pada Toxic Masculinity. Jika seorang lelaki tidak bisa memenuhi apa yang diminta perempuan, maka ia mungkin saja akan dianggap lemah. Salah satunya contohnya yaitu ketika lelaki tidak bisa mengangkat meja, maka ia akan diolok-olok oleh temannya.

sumber gambar : http://www.pinterest.com

Toxic Masculinity lahir dari konstruksi sosial dari masyarakat patriarki, yang mengacu pada perilaku dan sikap yang kasar yang dikaitkan dengan lelaki. Toxic Masculinity merupakan deskripsi ‘sempit’ tentang kejantanan. Kejantanan sendiri didefinisikan sebagai kekerasan, seks, agresivitas. Hal tersebut merupakan ide dari budaya kejantanan dimana kekuatan adalah segalanya sementara emosi adalah kelemahan. Laki-laki harus bisa mengendalikan emosi pada situasi yang penuh tekanan, ataupun bersikap dominan seperti apa yang patriarkisme lakukan. Masyarakat kita yang membentuk apa itu Maskulinitas dimana Laki-laki dituntut untuk bisa berpenampilan macho, tegas, tidak cengeng, memiliki jiwa kepemimpinan, dan harus selalu jago dalam berbagai hal.

berikut ini mimin kasih contoh kasus Toxic Masculinity :

sumber gambar : http://www.pinterest.com
1. Sering mengejek teman cowok yang curhat masalah hubungannya

Sebagai remaja, curhat sama teman itu hal yang biasa. Apalagi kalau yang jadi topik adalah masalah hubungan. Tapi yang sering terjadi ketika laki-laki curhat, apalagi kalau curhat ke sama-sama laki-laki, adalah ejekan dari teman seperti: “Halah, cowok kok galau urusan pacar! Air mani!”. Kesel banget rasanya! Niat curhat biar dapt solusi soal hubunganmu, eh malah dapet ejekan. Padahal, apa salahnya sih laki-laki curhat? Kan yang butuh didengerin dan dikasih saran nggak cuman perempuan doang hehe

2. Seseorang lelaki tidak baik apabila cengeng.

Kalau kata beberapa penelitian, memang perempuan lebih ekspresif secara emosional kalau masalah kegalauan dan kesedihan; tapi cowok kan tetap manusia ya, punya perasaan dan hati. Wajar dong nangis kalau pas perasaan sedang sedih. Tapi faktanya, nggak jarang kita dengar kata-kata seperti “boys don’t cry”. Cowok merasa malu dan cupu kalau nangis. Padahal, menangis itu respon emosional yang natural banget dan justru sehat jika memang dibutuhkan. no, mengetahui ini, sebagai teman, jangan malah ngatain teman yang nangis. Bayangin deh gimana perasaannya. Udah nangis karena sedih, terus diejek pula, hanya karena mereka laki-laki. Jadi makin sedih dan tertekan lah! Lagipula selain itu, kita punya hak apa buat ngatain teman yang sedang nangis? Kita nggak tahu permasalahan apa yang nggak dia ceritakan padamu sampai bikin dia nangis, jadi kita nggak punya hak apa-apa buat ngatain dia!

3. Seorang lelaki tidak akan mungkin menjadi korban pelecehan seksual

sebaliknya, lelaki malah akan menikmatinya. tidak, seperti yang kita ketahui memang perempuan banyak menjadi korban pelecehan seksual, tetapi lelaki juga bisa lho menjadi korban pelecehan tanpa kita sadari. Karena pelecehan seksual tidak memandang gender.

4. Seorang gagal dikatakan menjadi lelaki ketika ia tidak bisa menjadi seseorang yang bisa menghidupkan keluarganya.

Padahal faktanya, seorang perempuan juga bisa mencari kerja dan menafkahi keluarganya.

Cara mengubah persepsi Toxic Masculinity :


sumber gambar : http://www.pinterest.com

Laki-laki yang lahir tidak mempunyai semua kesamaan yang sama, ada yang manly, ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang lemah, ada yang macho, juga ada yang kurus. Semua hal tersebut bukanlah kesalahan dan kita tidak berhak menghakimi mereka, kita hanya harus menghargai mereka. Menangis bagi lelaki juga bukan hal yang biasa bagi lelaki, tapi menangislah jika memang ingin dan itu adalah hal yang normal bagi semua orang.

Semoga informasi kali ini bermanfaat ya bagi kita semua dan yuk ubah mindset kita tentang toxic
masculinity!

 

Oleh : Regina Apudan Kartini Sidebang, Universitas Kristen Indonesia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?