WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kambing Hitam di Alas Purwo

Hari Senin, seperti biasa aku akan terbangun pukul 04.30 pagi. Seperti biasa, aku akan langsung turun ke lantai satu untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Saat aku sedang menyeduh teh, dari kejauhan terlihat temanku yang berada di seberang jalan keluar dari rumahnya. Dia tidak sendiri kala itu, dia bersama seorang lelaki dan aku tidak pernah bertemu dia sebelumnya. 

“Ah mungkin itu saudaranya yang lain” gumamku dalam hati.

Tadinya aku berniat ingin memanggilnya, tapi belum sempat aku sudah tidak melihatnya lagi di seberang jalan. Aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan rumah, bergegas mandi karena pukul 07.00 jemputan sekolahku tiba. 

Saat itu aku sedang sarapan, dan tumben sekali temanku yang tadi aku lihat keluar rumah menelfonku, Rayya namanya. 

“Halo, kenapa Ray? Tadi pagi aku melihatmu keluar rumah bersama seseorang. Apakah itu saudara laki-laki yang kamu bicarakan beberapa minggu lalu?”

“La, hari ini kayaknya aku ngga masuk” jawabnya berbisik

“Ada apa?”

“Yaaa, aku lagi order pizza” jawabnya lagi tapi bukan menjawab pertanyaanku, tapi orang lain yang entah siapa.

“Rayya?”

“Temui aku sore ini di tempat pizza biasa kita nongkrong” jawabnya lagi-lagi sambil berbisik. 

“Pepperoni, large”. Setelah itu teleponnya mati, dan perasaanku mulai tidak enak. 

**

‘Kriiinggg….’ 

Bel tanda istirahat berbunyi, biasanya aku akan ke kantin untuk membeli makan siang lalu pergi ke halaman sekolah untuk makan bersama-sama temanku yang lain. Saat menuju halaman sekolah ternyata disana sudah ada Aima, Nayla, Saddam, dan Joe. Ya mereka semua temanku, kita sudah berteman sejak masih SD, dan pertemanan kami cukup baik hingga hari ini. 

“Kemana aja lo, tadi ngga ikut kelas sejarah ya?” tanya aku pada Saddam.

“Hehe, tadi pagi gue diare” jawabnya.

“Ih pantesan aja dari tadi gue kayak nyium bau apa gitu hahahaha” jawab Joe sambil menutup hidung.

“Sialan, kan gue diare bukan cepirit” jawab Saddam sambil memberi gestur seperti ingin memukul. Aku dan yang lain hanya ikut tertawa.

“Eh iya, tadi pagi Rayya telfon gue, dia bilang ke gue katanya dia ngga masuk hari ini. Terus yang gue heran, waktu dia telpon, dia malah kayak pura-pura pesen pizza.” 

“Ah becanda kali dia” jawab Aima.

“Kayak ngga tau dia aja lo, idupnya kan sok misterius” sahut Saddam.

“Terus dia ngajak ketemu gue nanti sore di tempat pizza biasa.”

“Yaudah temuin aja, tapi gue gakbisa nemenin nih sorry. Gue ada tambahan kelas fisika” jawab Joe.

“Sumpah ngga ada yang nanya Joe” sahut Nayla dengan nada kesal. 

Hari itu teman-temanku tidak ada yang ikut, bukan tidak mau, tapi memang mereka masih ada kelas. Aku pergi ke tempat pizza yang disebutkan Rayya pagi tadi, dan sesampainya di sana aku melihatnya sudah duduk.

“Maaf Ray, tadi aku ketinggalan mobil sekolah. Jadinya aku nunggu dulu deh.”

“Iya ngga papa kok” jawabnya.

Pertama kali aku melihatnya Rayya tidak seperti biasanya. Hari itu dia terlihat lesu, bawah matanya terlihat menghitam seperti kurang tidur. 

“Ada apa Ray?”

“Aku sepertinya akan pindah” jawabnya.

“Hah, kemana? Kok mendadak banget.”

“Aku ngga bisa jelasin banyak.”

“Kamu ngga pamit sama temen-temen yang lain?” 

Alih-alih menjawab Rayya malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku melihat ada ketakutan disana, bingung, seperti ada sesuatu yang sedang dia tutupi. 

“Kamu ngga mau ada yang diceritain?”

“Ngga, ngga ada” jawabnya sedikit gugup. Aku berusaha membaca gerak-geriknya, dan ngga lama kemudian seseorang datang. Perawakannya tinggi, badannya kurus, dia mengenakan jaket dan masker sehingga aku tidak mengenali wajahnya saat itu. Tapi ada satu yang menarik perhatianku, tato di tangan kirinya. Sekilas seperti kepala kambing, tapi badannya seperti manusia. 

“Ini siapa?” tanyaku kepada Rayya.

“Ini saudaraku, Lucas.”

“Ayo, kita pergi sekarang” kata Lucas sambil menarik tangan Rayya.

“Tunggu!! Aku akan menyusulmu ke mobil, aku janji.”

Lucas pergi, aku bisa lihat tatapannya seperti orang marah. Rayya kemudian duduk kembali dan aku hanya bisa menatapnya dengan bingung.

“Tolong lihat ini dan sampaikan kepada orang tuaku” kata Rayya sambil memberikan secarik kertas.

“Ini apa?”

“Aku pergi dulu La, selamat tinggal.”

Rayya pergi sore itu, dengan pria yang katanya adalah saudaranya, tapi perasaanku mengatakan ada yang tidak beres. Sore itu aku pulang dengan perasaan yang campur aduk, raut muka Rayya seperti ketakutan. Sesampainya di rumah aku teringat dengan kertas yang di kasih Rayya tadi, dan setelah kubaca ternyata isinya hanya angka.

72019013 011018 1520172214, 6 920138 2006

-RY

“Maksudnya apa ini?” tanyaku dalam hati. 

Malam itu aku memutuskan untuk menghubungi semua teman-temanku, dan tepat ketika aku baru saja mau memberitahu mereka soal kertas yang diberikan Rayya, Joe dan Nayla dengan serentak menunjukkan kertas kecil yang isinya juga angka-angka, dan disana juga ada inisial RY juga yang sudah pasti itu dari Rayya. 

“Kalian semua ketemu sama Rayya?” tanyaku.

“Iya barusan banget, sekitar 15 menit dia baru cabut dari rumah” jawab Nayla.

“Kalau gue ngga ketemu, tapi kertas ini tadi ada di tempat biasa nyokap gue kalo naro kunci” sahut Joe.

“Kalian?” tanyaku pada Aima dan Saddam.

“Gue ngga, gue Cuma liat dia dari jauh, dia di dalam mobil jalan ke arah rumah Aima” jawab Saddam.

“Hah? Lo masih di luar dam?” tanya Aima.

“Iya gue masih di jalan” jawab Saddam.

Ting tong 

“Guys, gue cek dulu ke bawah” jawab Aima.

Tidak lama kemudian, Aima kembali ke kamarnya dan lagi-lagi membawa kertas yang isinya angka-angka dan ada inisial RY.

“Guys, liat” kata Aima.

“Sumpah ini tuh sebenernya ada apa sih?” tanya Saddam.

“Tadi gue ketemu Rayya, di tempat pizza yang gue bilang tadi siang di sekolah. Dia bilang sama gue kalau dia mau pindah, entah kemana” jelasku.

“Eh iya tadi dia juga bilang gitu, tapi ngga kasih tau kemananya” terang Aima.

“Coba liat kalian tunjukkin kertas yang tadi di kasih Rayya, mau gue screenshot” kata Saddam.

Kami semua mengikuti perintah Saddam. Semuanya kembali hening, mencoba menelaah apa maksud Rayya memberikan pesan ini. Sekitar hampir 10 menit, tiba-tiba Saddam bersuara dan kali ini nadanya terdengar panik.

“GUYS… sumpah ini kayaknya emang ada yang ngga beres deh” sambil menunjukkan sesuatu.

*gambar orang hilang*

“Lah kok? Padahal kita semua baru ketemu dia, terus sekarang Rayya disangka hilang” kata Nayla.

“Dam, lo dimana sekarang?” tanyaku.

“Otw rumah Rayya, mau mastiin. Ketemu gue di depan rumah Rayya ya La, gue 5 menit lagi sampe.”

**

Aku dan Saddam memutuskan untuk ke rumah Rayya dan memastikan kalau apa yang kita lihat ini tidak benar. Tapi jawaban yang kita dapat justru membuat kami berdua semakin bingung.

“Rayya sudah ngga pulang sekitar 3 hari.”

“Tapi tante, pagi tadi aku lihat dia keluar dari rumah, sama saudara laki-lakinya, Lucas. Bahkan kita bertemu di tempat pizza” jelasku.

“Bahkan teman-teman yang lain juga sempat ketemu tante, om” jelas Saddam.

“Ngga mungkin, kalau dia pulang ke rumah, om sama tante pasti tahu.”

“Lucas? Jadi dia pergi sama Lucas?” tanya om Adnan.

“Ya aku sebenernya juga ngga tahu om, tapi tadi sore Rayya bilang bahwa laki-laki yang bersamanya itu namanya Lucas.”

“Lucas itu sudah meninggal lama sekali, mayatnya bahkan tidak pernah ketemu hingga saat ini.”

Setelah mendengar penjelasan orang tua Rayya, kami benar-benar khawatir dan merasa semakin yakin kalau ada yang tidak beres. Kalau yang dibilang tante dan om soal Lucas adalah benar, lalu siapa yang aku lihat tadi. Rayya kamu dimana?

**

Keesokan harinya kita, aku, Aima, Joe, Saddam dan Nayla berkumpul di rumahku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan Rayya. Kami mencocokan isi pesan yang ditulis Rayya, dan yang kami temukan..

Tolong aku

Bawa aku pulang

Hutan Alas Purwo, 6 Juni 2006

Sontak kami kaget, dengan pesan ini. Yang lebih mencengangkan karena terdapat angka 666, dan langsung teringat olehku tato di tangan kiri Lucas.

“Kepala kambing tapi berbadan manusia?” tanya Saddam.

“Itu Baphomet, aku pernah baca sebelumnya. Dia disebut sebagai sosok dewa pagan, figure okultisme…” jawab Nayla

“… dan setanisme” terang Joe melanjutkan penjelasan Nayla. 

“Hutan Alas Purwo dikenal juga karena ada kerjaan gaib, dan sudah banyak kasus orang hilang yang diduga tersesat karena terjebak di kerajaan gaib itu” jelas Joe.

“Hah? Terus ini sekarang kita harus gimana?” tanya Aima cemas.

“Kita harus ke Alas Purwo” kata Saddam.

Hari itu sebelum pergi, kami mengunjungi rumah Rayya dan menjelaskan secara rinci kepada orang tua Rayya tentang apa yang kami temukan. Akhirnya kami semua pergi malam itu bersama orang tua Rayya dan beberapa saudara Rayya yang juga ikut.

**

Kami semua tiba keesokan harinya, saat itu ketika kami sampai hari sudah malam. Jadi kami memutuskan untuk beristirahat, dan mulai melakukan pencarian pagi hari. Pencarian Rayya dimulai pukul 7 dan kami dibantu oleh polisi, dan beberapa warga sana yang mengenal tempat ini. Saat melakukan briefing, salah satu warga mengaku melihat Rayya bersama seorang laki-laki masuk ke kawasan hutan sekitar 4 hari lalu, dan kami semua kaget kalau 4 hari lalu itu adalah tanggal 6 Juni 2006. Tanggal yang sama seperti yang ada di pesan Rayya. 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah terlalu sore untuk melakukan pencarian dan kita semua masih belum menemukan Rayya. Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Nayla melihat jaket Rayya di dekat pohon bambu. Dibantu dengan anjing pelacak yang dibawa polisi hari itu, kami sangat berharap banyak menemukan sesuatu. Anjing pelacak menuntun kita ke sebuah area camping yang tidak jauh dari tempat kami menemukan jaket Rayya. Di sana kami semua disuguhkan dengan banyak benda pusaka disusun melingkar, dan di tengahnya seperti bekas api unggun. 

Guk…guk…guk

Anjing pelacak kembali menggonggong memberi isyarat, dan hari itu kami menemukan Rayya dalam keadaan sudah meninggal dunia, berada di dalam lubang yang hanya ditutupi dedaunan kering. Kami tidak menemukan Lucas, tapi kami menemukan kepala kambing hitam dengan simbol angka 666 di jidatnya, yang terkubur bersama Rayya hari itu.

 

Mutia Azura Hersta | Politeknik Negeri Media Kreatif

Leave A Comment