WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Hypnotic Influence : Metode Komunikasi Untuk Mempersuasi Orang Lain

Belajar Psychology of Influence dari Kasus Tinder Swindler

Sudah nonton dokumenter Netflix yang cukup viral, Tinder Swindler? Kita semua dibuat takjub oleh aksi sang penjahat, menipu banyak wanita dari berbagai belahan dunia, seakan dengan mudahnya. Bersama Kak Felix Markus Listiyo, yuk kita bedah trik yang dia pakai dengan teori Psychology of Influence; tentunya agar kamu bisa mendeteksi kalau ada seseorang yang mencoba modus sama kamu pakai pendekatan serupa!

Buat yang belum tahu, Tinder Swindler adalah film dokumenter mengenai seorang pria yang berpura-pura jadi taipan berlian kaya raya, merayu banyak wanita secara online, lalu menipu dan mengambil jutaan dolar dari mereka. Apa yang membuat Simon Leviev bisa menipu para korbannya? Tak lain tak bukan adalah karena ia berhasil mempengaruhi mereka sehingga menyerahkan hartanya. 

Robert Cialdini, psikolog yang khusus mempelajari  Psychology of Influence mengemukakan ada 6 faktor yang bisa membuat orang mempersuasi orang lain, yaitu:

-Otoritas

-Bukti Sosial

-Timbal Balik

-Kesukaan

-Kelangkaan

-Komitmen

Faktor-faktor inilah yang digunakan oleh Simon Leviev, seperti berikut ini:

  • Otoritas: Menunjukkan foto-foto di tempat mewah, foto palsu bersama keluarga kaya raya, menggunakan barang-barang branded.
  • Timbal balik: Mengajak korban makan di tempat-tempat mewah sebelum meminta sesuatu.
  • Bukti Sosial: Membawa orang lain untuk bercerita hal baik tentang dirinya.

Sungguh disayangkan Simon Leviev menggunakan hal tersebut untuk kejahatan. Padahal, jika kita memahami teknik-teknik persuasi, maka kita bisa lho mempengaruhi orang lain ke hal-hal yang positif. Dalam acara bersama 30 pembicara dari Akademi Trainer pada Sabtu 19 Februari 2022 lalu, Kak Felix menjelaskannya lebih lanjut. 

“Kenapa saya memilih topik ini, karena terkait dengan  pekerjaan saya di Head of Learning Centre di mana saya mengembangkan orang lain, untuk bisa mempengaruhi mereka supaya mereka menerapkan ilmu yang diajari dan mau berubah jadi lebih baik,” ujarnya.

Ia memberikan sejumlah contoh situasi di mana kita perlu mempengaruhi orang lain:

–     Ketika kita mempunyai ide, untuk menjual sesuatu.

–    Untuk membuat orang lain mengikuti apa yang kita inginkan (Pendidikan, pelatihan, pekerjaan). Misalnya untuk membangun kolaborasi yang baik dengan teman sekelompok kita.

–    Dalam konteks berkeluarga, untuk mempengaruhi pasangan, orang tua atau anak dengan tujuan kebahagiaan hidup bersama.

Nah, dalam hal ini, kita bisa memakai prinsip hypnotic influence. Apa itu hypnotic influence? Metode komunikasi untuk mempengaruhi pikiran sadar maupun bawah sadar seseorang yang bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Apa yang didapatkan dari mempelajari hypnotic influence?

–       Memahami prinsip-prinsip persuasi untuk pikiran sadar dan bawah sadar

–  Menggunakan metode praktis mempengaruhi pikiran sadar dan bawah sadar yang bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Memang, kita bisa saja langsung mempengaruhi orang berdasarkan otoritas yang kita punya, misalnya karena kita sudah kelas 12, kita lantas memerintah kelas 10 sesuka hati saja. Namun, influence yang kita andalkan berdasar status dan posisi seperti itu hanya bersifat sementara (setelah kamu lulus, otomatis hilang) dan hanya menimbulkan emosi negatif seperti  takut dan rasa terpaksa. Yang lebih baik adalah kolaborasi yang bersifat sukarela dan win/win. Ini akan bersifat jangka panjang. Misalnya, relasi abang-adek di tongkrongan yang biasanya berlandaskan respect yang sudah terbangun.

Jadi, apakah kamu sudah merasakan keinginan untuk menjadi orang yang persuasif dan bisa mempengaruhi circle kamu secara positif? Kak Felix memberikan 3 kunci, yaitu BCL!

–        Bangun relasi, biarkan temanmu berbicara, sampai mereka nyaman berbagi denganmu dan berikan sinyal penguatan yang menunjukkan kamu peduli dengan apa yang mereka katakan. Hindari bertanya dengan kata “mengapa” karena biasanya hal itu hanya akan menuju pada kecenderungan mencari objek yang bisa disalahkan.

–        Cari informasi, tunjukkan empati. Misalnya, temanmu bercerita soal pertengkaran dengan teman lain, tanyakan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan dan gali info sebanyak-banyaknya dengan penuh empati.

–        Lakukan penawaran, kaitkan penawaran dengan empati tadi. Misalnya, “Setelah bertengkar toh kamu tetap kehilangan temanmu, lain kali bagaimana kalau kamu lakukan ini…”

Selamat menggunakan skill persuasi dengan bijak ya! 

Leave A Comment