Majalah Sunday

Dia, Si Monster Kecil

Aku kini sedang termenung duduk di teras rumah ditemani semilir angin yang berhembus, terasa sedikit menusuk kulit, namun juga terasa sejuk. Aroma khas tanah basah setelah diguyur hujan semakin membuat pikiranku berkelana pada masa-masa itu. Kala itu. Ketika ia yang namanya masih saja menjadi alasan untukku tersenyum bahagia, hingga sesak yang menyebabkan air mataku ikut hadir menemani.

Radit. Lelaki pertama yang menggoyahkan segala hati dan logikaku secara bersama. Yang menggenggam penuh seluruh hatiku. Perlakuan manisnya yang selalu membuatku terhanyut dan merasa sangat dihargai. Bahkan aku rasa, tidak perlu mendengar lagi kata cinta keluar dari mulutnya.

Tapi, akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dari dirinya. Aku tidak lagi mengenal Radit yang hangat. Ia lebih sering membuatku ketakutan dengan kata-kata kasar yang keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa pernah berpikir jika apa yang ia ucapkan sungguh mengiris hatiku sedikit demi sedikit.

“Shen, kamu hari ini ada kelas kan?”

Suara itu membuatku kembali dihadapkan pada kenyataan, bahwa lelaki yang kini tengah menatapku adalah lelaki yang sama, yang telah mengambil seluruh hatiku dua tahun lalu. Fisik yang sama, malah aku merasa kini ia semakin tampan. Aku selalu saja dibuat terpesona, meski sudah tak terhitung berapa kali aku menatap wajahnya seperti ini.

Namun kini binar mataku meredup, kala teringat jika perlakuannya padaku tak lagi sama. Raganya memang sama. Tetapi kurasa jiwanya telah berubah. Aku tak lagi mengenalnya secara utuh. Ada sebagian dalam dirinya yang menghilang, digantikan dengan sosok monster kecil yang sangat mengerikan.

“Kenapa?” 

Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya padanya. Kini ia mulai tersenyum dan menatapku. Yang sampai detik ini, aku belum bisa mengartikannya. Tapi, aku tahu. Aku dalam bahaya sekarang.

“Bantuin aku ngerjain tugas di rumah, ya.”

Permintaan itu memang terdengar sangat manis. Namun, aku tahu. Ada sebuah pesan tersirat di dalamnya. Jika aku menolak, maka jangan harap esok pagi aku kembali dalam keadaan tubuh yang sama seperti sekarang.

Tanpa banyak kata, aku bangkit dari duduk, lalu menggenggam tangannya, berjalan ke arah motor hitamnya yang kini terparkir sembarangan di depan pagar rumahku.

Dan tanpa kusadari, keputusan yang kuambil ini telah mengantarkanku pada kegelapan yang sesungguhnya. Tanpa cahaya setitik pun.

Bukan lagi tubuhku yang menjadi sasarannya. Jiwaku ikut terenggut paksa keluar dari dalam raga.

“Shena.”

Ia memanggil namaku dengan suaranya yang amat lirih, namun entah kenapa membuat tubuhku sedikit bergetar, ketika melihat tatapan matanya berbeda. Matanya jauh lebih gelap dari malam-malam sebelumnya.

Aku hanya diam, namun tetap menoleh, memberanikan diri membalas tatapan matanya. Ia perlahan tersenyum lembut, mengusap perlahan kedua pipiku dengan ibu jarinya. Membuatku menikmatinya dan memejamkan mata.

Hingga aku memekik tertahan, ketika tangannya perlahan memegang leherku, erat dan menyakitkan, membuatku sulit bernapas. Aku perlahan membuka mata, dan menatap matanya yang kini mulai memerah dan menahan tangis.

Kenapa? Kamu kenapa, Radit?

Aku ingin sekali mengatakan itu. Tetapi mulutku terbuka hanya untuk mengambil pasokan udara yang semakin menipis, dengan kedua tanganku yang kini berusaha melepas cengkramannya di leherku. Namun ternyata usahaku sia-sia. Ia semakin menarik wajahku mendekat, lalu berbisik lirih di telingaku.

“Aku sungguh mencintaimu, Shena.”

Aku menggeleng sambil menatap matanya yang semakin menggelap, hingga tanpa sadar mulai menangis. Bukan tangis bahagia seperti dulu. Tangis ketakutan yang membuatku ingin segera berlari kencang, namun nyatanya tubuhku tak sanggup melakukannya.

Karena kini kedua tanganku sudah disatukan ke atas, lalu ia melilitkan benang yang entah kapan ia ambil itu di pergelangan tanganku. Membuat benang itu bergesekan dengan kulitku, dan menciptakan rasa perih ketika aku berusaha untuk melepaskannya.

Aku memejamkan kedua mataku, takut ketika melihat matanya. Ia bukan Raditku. Bukan Radit yang selama ini menemaniku. Bukan Radit yang selalu mencium keningku dengan hangat. Bukan Radit yang selalu menghapus air mataku.

Dia monster kecil itu.

Yang telah mengambil Raditku.

Aku berteriak ketika ia melepas seluruh pakaianku secara paksa dengan kasar. Memberontak dan menendang tubuhnya menggunakan kedua kakiku yang terbebas. Namun sepertinya aku salah. Kini kedua matanya semakin memerah, menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya, karena aku berusaha melawan.

Kini pipi kananku terasa panas. Sudut bibirku terasa kebas. Air mataku mengalir deras. Sungguh, walau bukan hanya sekali ini ia bersikap kasar padaku, tetapi baru kali ini aku tak menemukan sorot lembut dari kedua bola matanya. Monster kecil itu telah memakan habis jiwanya. 

 “Aku mau kamu, Shena.”

Setelah mendengar suaranya yang terdengar sangat menyeramkan, aku tak lagi bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap. Mataku kini tertutup kain hitam yang basah. Aku hanya bisa mendengar dan merasakan.

Aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Aku sungguh tidak rela. Walau ia adalah lelaki yang sangat kucintai, tetapi bukan seperti ini cara aku membuktikannya. Lagipula, ia bukan Radit. Ia monster kecil itu. Aku tidak rela jika sesuatu yang aku jaga selama ini direnggut paksa olehnya. Aku tidak bisa diam saja. Aku tidak ingin tergeletak pasrah di atas sofa yang selalu menjadi saksi sikap hangatnya padaku selama ini.

Sepertinya sekarang ia sedang mengambil sesuatu, melangkah entah ke mana. Karena aku tidak mencium aroma tubuhnya yang sudah sangat kuhapal itu di dekatku. Ini kesempatanku untuk melarikan diri. Dengan sisa-sisa keberanian, aku mendudukkan tubuhku. Dengan mengandalkan ingatanku pada posisi rumah yang sering kukunjungi ini, aku berdiri dan mulai melangkah ke arah pintu utama.

Tapi sepertinya aku kurang beruntung, karena baru saja aku melangkah, punggungku terasa amat sakit, kakiku melemah, dan aku jatuh terduduk. Aku mencoba berdiri lagi. Kini kakiku seperti terlepas. Aku tidak lagi merasakan jari-jari kakiku. Setelah itu tubuhku melayang dan terhempas di sofa yang sama.

Aku menangis tanpa suara ketika ia kini sudah menjadikanku miliknya seutuhnya. Apa yang aku jaga selama ini sudah terenggut secara tidak terhormat oleh monster kecil yang berwujud kekasihku sendiri.

Bahkan tidak hanya itu. Seluruh tubuhku tidak lagi sama. Tidak lagi utuh. Andai kedua mataku tidak tertutup kain basah itu, mungkin aku sudah melihat darah menggenang di sekelilingku. Karena sekarang yang tercium dari hidungku hanyalah aroma amis yang sangat menyengat.

Sampai detik terakhir sebelum mataku benar-benar tertutup, ada benda tajam yang yang menusuk leherku berulang-kali, hingga rasanya napasku terputus-putus, dan hilang selamanya.

 

Puja Sindia
Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?