Majalah Sunday

Bertemu Sepupu

Family with children are posing for Christmas photos.

Lebaran tahun ini agaknya sedikit berbeda, tidak ada Kakek, tidak ada Nenek yang wajib dikunjungi. Hanya ada Nisan dan doa-doa yang berdatangan silaturahmi, semoga doa yang diucapkan tidak nyangkut di langit-langit rumah dan bertarung dengan laba-laba yang kelaparan.

Rumah sederhana dengan 2 kamar tidur, yang letaknya jauh di ujung desa terpencil. Jauh dari keramain dan hingar-bingar gemerlap malam. Itu adalah letak rumah Nenekku yang kini di tempati bibiku, anak ketiga dari dari lima bersaudara di keluarga Ibuku. Tahun ini sudah tidak pandemi, aku dan keluarga berniat akan berkunjung ke sana. Walau sekadar bersilaturahmi dengan keluarga Ibu, namun rasanya sangat berat meninggalkan kehidupan di kotaku. Aku Ilham, usiaku 18 tahun. Tahun ini jika tidak berhalangan aku lulus sekolah SMA. Aku anak tunggal di keluargaku. Ayahku berasal dari Jakarta dan Ibuku dari Bandung.

Besok adalah hari raya, setelah berkunjung dari keluarga Ayahku, aku, Ayah dan Ibuku berniat langsung ke Bandung. Terkesan seperti terburu-buru, namun inilah kebiasaan yang kami lakukan sebelum pandemi melanda Indonesia. Malamnya aku berkemas sekitar 3 pasang pakaian aku siapkan, karena memang kami tidak akan lama di sana. Ayahku harus kembali bekerja begitupun Ibukku yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah negeri di Jakarta.

Setelah bermaaf-maafkan dengan sanak saudara, seperti tahun-tahun sebelumnya. Walaupun aku sudah besar, keluarga Ayah selalu memberiku THR yang semakin tahun semakin besar pula yang aku dapat. Alhamdulillah mungkin rezeki anak tunggal. Setelah kegiatan silaturahmi selesai, sehabis zuhur kami langsung bergegas ke kediaman rumah Nenekku. Sekitar 5 jam perjalanan Jakarta-Bandung, akhirnya kami sampai di sebuah desa yang sangat asri. Rutinitas lebaran sangat terasa, Ayah dan Ibuku beserta saudara-saudaranya saling memeluk dan bermaaf-maafan. Akupun begitu, bertemu sepupu dan saudara lelaki yang sebaya denganku. Kegiatan lelaki remaja apalagi kalau bukan membicarakan game dan kehidupan sekolah yang kami rasakan.

Riko namanya, usianya hanya beda 3 bulan denganku. Kata orang-orang kamu mirip, tapi kami sama sekali tak merasa sedikitpun kemiripan yang nampak dalam diri kami. Sedang asyik membicarakan sekolah ada orang yang datang ke rumah.

“Assalamualaikum” ucap beberapa orang yang datang. Sepertinya mereka satu keluarga. Lengkap dengan Ayah, Ibu, dan kedua anaknya satu laki-laki dan satu lagi perempuan, nampaknya perempuan itu juga sebaya denganku. Wajahnya seperti tak asing. Namun, barangkali hanya perasaanku saja jelas-jelas aku tak pernah berjumpa dengannya.

“Waalaikumussalam” serentak jawab kami yang berada di rumah. Tidak lupa mempersilakan masuk dan menyuguhkan air dan kue-kue lebaran pada umumnya, ya seperti tamu-tamu kebanyakan. Setelah bersalaman, aku dan Riko melanjutkan mengobrol di depan teras.

“Ko, cewek yang tadi cantik, ya?” Tanyaku. “Oh Amanda” jawab Riko dengan nada mengejekku, seakan tahu maksudku. “Kenalan gih, gua mah udah kenal.” Sambung Riko. “Apaan si nanya doang.” 

Kami pun melanjutkan kegiatan bermain game kami, sampai akhirnya Ibukku memanggil aku dan Riko untuk ikut mengobrol dengan keluarga yang tadi berkunjung ke rumah Nenekku. 

“Ilham, Riko masuk, Nak.” Mendengar panggilan Ibu kami segera masuk, dan duduk di bangku yang kosong.
“Oh iya, Riko mah udah kenal ya sama Neng Amanda.” Kata Ibukku.  “Udah Wa” Jawab Riko sambil tersenyum ramah.
“Neng Amanda kenalin ini Ilham anak Uwa dari Jakarta.”
Aku dan Amanda berkenalan dan bersalaman.

“Iya Wa.” Jawab Amanda dengan senyum yang melihatkan giginya yang kecil-kecil seperti mentimun. “Kok manggilnya Wa si?” Tanyaku heran. Keluargaku hanya tertawa, sampai akhirnya Riko memberitahuku. “Amanda kan sepupu kita Ham, dulu waktu kecil jarang ke sini karena dia tinggalnya di Aceh.” 

Aku terkejut. 

“Kalo bukan sepupu katanya mau digebet Wa sama si Ilham, hahaha.” Semua anggota keluarga yang ada di sana hanya tertawa dan melihat ketidaktahuanku, karena terakhir kami mudik. Aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Pada saat itu Ayah masih bekerja di Papua sebelum pindah ke Jakarta. 

Aku sangat malu mendengar Riko berbicara seperti itu, Amanda hanya tertunduk malu dan aku kikuk seperti seseorang yang kehilangan uang satu milyar. 

 

 

oleh: Ami Fahira, Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?