WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Aku, Si Tas yang Malang; Menanti Kepulangan yang Tak Kunjung Menjemput (Seri Benda Mati #2)

Debu-debu halus itu mulai menutupi separuh badanku. Dinginnya lantai kian hari kian menusuk kulitku hingga menembus sampai ke tulang. Dan aku sudah mulai mendengar samar jamur-jamur itu berteriak kesenangan, ingin memakan habis tubuhku.

Hei, kamu! Aku rindu kau bawa pergi, pulang ke rumah yang kau datangi ketika lelah. Ketika sudah tak ada lagi pintu rumah yang terbuka selain pintu rumahmu yang satu itu; selalu terbuka meski kuncinya pun sudah tak ada. Jika sang pemiliknya pulang, maka ia dengan sangat bersedia membuka diri lebar-lebar.

Aku rindu wajah bahagiamu itu.

Aku rindu ketika merasakan tubuhku akan sangat besar, sampai rasanya benang-benang yang menjadi penguat tubuhku itu ingin terlepas. Tapi tenang saja. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena aku masih ingin merasakan badanku yang tak seberapa besarnya ini, menampung semua rasa bahagia yang akan kau bawa pulang.

Aku akan membantumu membawa barang-barang usang yang tak seberapa harganya. Membawa berbagai jenis makanan yang sanggup kau beli dengan uang terakhirmu sekalipun. Dan yang tak pernah aku lewatkan darimu adalah, segenggam uang yang kau bungkus dengan kertas cokelat, lalu kau selipkan ke bagian samping tubuhku.

Uang yang selalu hilang ketika kau kembali membawaku dengan keadaan tubuhku yang kosong, dan kembali kau letakkan aku di sudut kamarmu yang selalu sepi.

Kapan kau akan ajak aku pulang bersama lagi? Aku sungguh rindu rumah kecilmu yang selalu penuh kehangatan serta canda dan tawa menghiasi.

Biasanya setiap aku melihatmu makan di tengah malam menjelang pagi, tidak lama lagi kamu akan mengajakku pulang ke rumah. Tapi sepertinya, sampai suara-suara merdu itu saling bersahut-sahutan menjelang malam tiba, sampai keesokan harinya, aku masih saja merasakan dinginnya lantai, tebalnya debu, hingga kini menatap jengkel jamur-jamur yang menjulurkan lidahnya padaku; sedang menjilat dan memakan habis bagian bawah tubuhku.

Tapi ternyata ada yang lebih penting dari rasa jengkelku pada jamur. Aku terpaku. Menyaksikanmu meneteskan air mata tanpa suara dalam sujud terakhirmu. Mengadu betapa kamu juga sungguh merindu.

Ternyata bukan hanya aku yang sesak akan rindu.

Di sana, pemilikku yang memiliki hati, mengalami rasa sesak yang tak kunjung bisa diobati hingga detik ini.

Aku tidak merindu sendirian.

Kami menanti kepulangan yang sama.

 

Puja Sindia
Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta

Leave A Comment