Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia
Hai, Sunners! Setiap orang punya versi cerita cintanya masing-masing. Ada yang berawal dari saling mengenal, sering bertukar kabar, lalu tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam. Namun, ketika orang yang disukai kemudian memilih orang lain, rasa kecewa atau cemburu pun turut muncul. Tahukah kamu, perasaan dekat dengan seseorang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi juga punya istilahnya sendiri? Fenomena ini dikenal sebagai parasocial relationship.
Pernahkah kamu merasa remuk redam bukan karena diputusin pacar, melainkan melihat kabar idola favoritmu berpacaran?
Jika kamu diam-diam menaruh perasaan asmara pada idola, sampai rasanya sulit membedakan antara sekadar mengagumi atau benar-benar jatuh cinta, mungkin kamu sedang mengalami parasocial relationship.
Lalu, mengapa hubungan yang sebenarnya tidak terjadi secara langsung ini dapat memengaruhi perasaan sedalam itu?
Bagi sebagian besar orang, jatuh cinta identik dengan interaksi dua arah di dunia nyata. Namun di era digital ini, perasaan patah hati, cemburu, dan rasa memiliki yang mendalam justru sering kali hadir dari sosok idola di balik layar ponsel yang tidak pernah kita kenal secara personal.
Perasaan tersebut dapat terbentuk ketika penggemar terlalu larut mengikuti konten idola, mengetahui kebiasaannya, mendengarkan cerita, hingga melihat aktivitas sang idola melalui media sosial. Akibatnya, sosok idola terasa seperti figur yang telah “hadir” dalam kehidupan sehari-hari,
Karena itu, ketika idola mengumumkan hubungan romantis, kabar tersebut terasa lebih personal daripada sekadar berita tentang seorang selebritas.
Perasaan kecewa, cemburu, atau kehilangan seperti ini berkaitan dengan parasocial relationship, yaitu hubungan emosional satu arah ketika seseorang merasa memiliki kedekatan dengan figur media, meskipun hubungan tersebut tidak berlangsung secara timbal balik seperti pertemanan atau hubungan romantis di kehidupan nyata.

Dalam tinjauan literatur oleh Liebers & Schramm (2019) berjudul Parasocial Interactions and Relationships with Media Characters, dijelaskan bahwa keterikatan parasosial terbentuk semakin kuat melalui karakteristik persona media. Idola menampilkan daya tarik (attractiveness) dan impresi kemiripan (similarity) yang membuat penggemar merasa memiliki kesamaan nilai atau pengalaman hidup dengan sang idol.
Liebers & Schramm membedakan konsep ini menjadi dua tingkatan:
– Parasocial Interaction (PSI): Reaksi kognitif dan emosional sesaat yang muncul sewaktu penggemar mengonsumsi konten idola.
– Parasocial Relationship (PSR): Keterikatan emosional jangka panjang yang bertahan dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari penggemar.
Ketika keterikatan berada pada tahap PSR, keberadaan idola dipersepsikan sebagai bagian dari rutinitas harian. Begitu sang idola dikonfirmasi memiliki pasangan di dunia nyata, penggemar meresponsnya dengan rasa kehilangan hingga anggapan bahwa kehadiran pasangan asli idola mengganggu relasi emosional yang selama ini dibangun.

Persepsi kedekatan antara idola dan penggemar tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan diperkuat secara terstruktur melalui berbagai strategi fanservice oleh industri hiburan. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam industri K-pop.
Coba ingat-ingat, berapa banyak konten idola yang kamu lihat dalam sehari? Mulai dari video musik, livestream, unggahan media sosial, sampai pesan yang muncul di aplikasi khusus penggemar (seperti Bubble dan Weverse). Belum lagi kalau kamu pernah mendapat kesempatan video call dengan sang idola. Sapaan personal, pesan bernuansa romantis, dan konsep konten boyfriend/girlfriend turut menciptakan kedekatan emosional.
Perasaan tersebut memiliki kemiripan dengan pengalaman ketika menyukai seseorang. Ada rasa senang ketika mendapat perhatian, rasa penasaran ketika menunggu kabar, keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang dirinya, hingga rasa cemburu ketika perhatian tersebut diberikan kepada orang lain.
Namun, ketika berkembang menjadi Parasocial Romantic Relationship, kekaguman terhadap idola turut disertai perasaan asmara sehingga kabar percintaannya dapat memicu rasa sakit seperti penolakan dalam hubungan nyata.
Pada dasarnya, istilah Bias Is Mine (BIM) sering kali digunakan sebagai ekspresi candaan. Namun, batas antara fantasi dan realitas dapat mengabur ketika keterikatan parasosial menjadi terlalu dominan sehingga timbul asumsi bahwa penggemar memiliki hak kontrol atas kehidupan pribadi idola.
Kondisi ini menjadi tidak sehat ketika telah berubah menjadi rasa memiliki yang memicu perilaku destruktif, seperti: menuntut idola untuk tidak menjalin hubungan asmara demi menjaga fantasi penggemar; memperlakukan pasangan idola sebagai ancaman atau pihak yang merugikan fandom; hingga melakukan tindakan cyberbullying dan penyebaran ujaran kebencian di media sosial.
Tanpa disadari, sikap tersebut mengambil cukup banyak distraksi. Dalam kehidupan sehari-hari, dinamika ini berpotensi mengganggu konsentrasi dan produktivitas harian. Waktu produktif menjadi terpotong akibat kebiasaan memeriksa media sosial secara berkala, fokus terpecah saat menyelesaikan kewajiban rutin, seperti belajar, mengerjakan tugas, hingga kegiatan fangirling/fanboying yang seharusnya menjadi ruang rekreasi menjadi sumber energi negatif.

Kalau kabar asmara idola mulai mengganggu keseharian, kamu perlu menerapkan hal-hal ini:
Interaksi romantis dalam fanservice memang dapat terasa personal. Namun, pesan dan perhatian dari idola merupakan bagian dari profesionalisme kerja dan hiburan, bukan suatu bentuk ikatan personal yang berlebihan. Perasaan dekat tidak berarti telah membentuk hubungan pribadi.
Jika kabar percintaan idola mulai mengganggu konsentrasi belajar, kestabilan emosi, suasana hati, atau aktivitas sehari-hari, mengurangi konsumsi konten dan mengambil jeda dari media sosial (social media detox) untuk sementara merupakan pilihan yang bijak.
Melakukan reorientasi fokus pada kehidupan nyata, seperti berkumpul bersama teman, menjalankan hobi lain, melesaikan kewajiban akademis, atau sekadar menikmati kegiatan santai yang disukai dapat membantu perhatian tidak terus berpusat pada kehidupan idola.
Sebagai penggemar, kamu boleh menyukai karya dan personanya. Namun, idola adalah individu utuh yang memiliki hak penuh atas kehidupan pribadi dan pilihan asmaranya.
Menjadi penggemar tidak mengharuskan seseorang berhenti merasa. Pada akhirnya, idola menjadi salah satu hal yang memberi warna dalam kehidupan. Pengalaman kagum pada idola dari balik layar ponsel adalah versi cerita cintamu tersendiri.
Namun, kehidupan penggemar sendiri juga memiliki banyak hal untuk dinikmati, termasuk pertemanan, sekolah, hobi, dan hubungan dengan orang-orang yang benar-benar hadir di sekitarnya.
Jadi, Sunners, kalau suatu hari bias kamu tiba-tiba punya pacar, kira-kira, apa yang pertama kali kamu rasakan? Ikut bahagia, terkejut, kecewa, atau justru membutuhkan waktu untuk menerimanya?
Jangan lupa bagikan artikel ini kepada temanmu yang mungkin sedang melewati fase Bias Is Mine, ya!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.