Penulis: Pani, SMKN 01 Jakarta
Dalam perkembangan zaman terdapat banyak perubahan salah satunya karya sastra. Puisi merupakan karya sastra yang berkembang dari zaman nenek moyang sampai sekarang. Sehingga memunculkan puisi lama dan baru. Lalu apa saja sih puisi lama itu? Dan bagaimana ciri dan contohnya? Yuk langsung saja simak penjelasan berikut!
Puisi lama adalah karya sastra yang memiliki ciri khas dan terikat oleh baris, bait, rima,dan irama. Penciptaan karya sastra ini biasanya dipengaruhi oleh adat istiadat dan menggambarkan curahan hati yang terjadi serta dialami masyarakat pada zaman dulu.
Puisi ini disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui pelantunan dan penghafalan. Sebagai bentuk sastra lisan, karya ini menjadi bagian penting dari warisan budaya dan tradisi masyarakat. Penyampaiannya secara langsung melalui mulut ke mulut memberikan nuansa yang berbeda dan memungkinkan para pendengar merasakan kekuatan emosional dan kesakralan puisi.
Puisi ini lebih fokus pada makna dan pesan yang ingin disampaikan daripada identitas individu pengarangnya. Anonimitas dalam karya sastra ini menekankan pentingnya pesan itu sendiri dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, tanpa dibebani oleh aspek personal pengarang. Kekanoniman ini memungkinkan karya sastra ini menjadi milik bersama, menjadi bagian dari warisan budaya yang dapat dinikmati oleh banyak orang dari berbagai generasi.
Puisi ini sering menghadirkan dunia yang penuh dengan keajaiban, mitos, dan cerita-cerita yang melibatkan tokoh-tokoh legendaris. Cerita-cerita tersebut sering kali berpusat di sekitar kehidupan istana, menggambarkan kehidupan kerajaan, pahlawan, dewa, dan dewi. Melalui puisi ini, kita dihadapkan pada dunia magis yang memikat dan memancarkan pesona tersendiri. Cerita-cerita fantastis ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai, menggugah imajinasi, dan mengajak kita untuk melihat dunia dengan cara yang baru dan luar biasa.
Puisi ini mengikuti pola dan aturan yang ketat, seperti jumlah baris setiap bait, sajak, dan sejumlah suku kata pada setiap baris. Aturan ini memberikan struktur yang khas dan menciptakan ritme yang harmonis. Misalnya, ada yang menggunakan pola sajak seperti pantun, syair, atau gurindam, yang memiliki pola dan jumlah suku kata yang ditentukan. Aturan ini menghadirkan ketertiban dan keindahan tersendiri dalam karya sastra ini, dan juga membutuhkan keahlian dalam mengatur kata-kata sesuai dengan pola yang ditetapkan.
Gaya bahasa ini mencerminkan nilai-nilai dan suasana zaman ketika puisi tersebut diciptakan. Penggunaan frasa dan ungkapan yang umum digunakan pada masa itu, seringkali berkaitan dengan kehidupan di lingkungan kerajaan. Gaya bahasa yang tetap dan klise ini menciptakan suasana yang khas dan menggambarkan kehidupan istana yang megah dan penuh keagungan. Meskipun terkadang terlihat klise, gaya bahasa ini memberikan identitas khas pada karya sastra ini dan membantu kita memahami kebudayaan dan nilai-nilai yang melingkupinya.
Karya sastra ini hadir dengan gaya bahasa dan karakteristiknya yang khas,
pict by canva.com
Pantun adalah puisi lama yang bersajak a-b-a-b pada setiap baitnya. Setiap bait terdiri dari 4 baris dan setiap baris terdapat 8-12 suku kata. Pada baris pertama dan kedua disebut sampiran sedangkan baris ketiga dan keempat disebut isi.
Berdasarkan isinya pantun dibagi menjadi pantun nasihat, pantun agama, pantun jenaka, pantun teka-teki, dan pantun kiasan. Contoh:
asam kandis asam gelugur
ketiga asam si riang-riang
menangis mayat di pintu kubur
teringat badan tidak sembahyang
Syair merupakan puisi lama yang berasal dari persia. Kata syair diambil dari bahasa Arab yaitu “Syi’ir/Syu’ur” yang berarti “perasaan” menyadari lalu berkembang menjadi “Syi’ru” yang berarti “puisi”
Memiliki empat baris dalam setiap bait dan bersajak a-a-a-a. Contoh:
Pada zaman dahulu kala
Tersebutlah sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman sentosa
Dipimpin sang raja nan bijaksana
Gurindam adalah puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari dua baris, bersajak a-a-b-b-c-c yang biasanya berisikan nasihat.
Umumnya gurindam memadukan sajak dan peribahasa. Contoh:
kalau engkau tidak tahu
maka harus mencari ilmu
jika hidup tidak berilmu
hidup akan sesat selalu
Karmina adalah puisi lama berbentuk pantun yang hanya terdiri dari dua baris, bersajak a-a. Nama lain dari karmina adalah pantun kilat atau pantun seuntai. Contoh:
Beli manggis di kampung Dukuh
Buat apa cantik kalau angkuh
Talibun adalah puisi lama berbentuk pantun yang memiliki susunan genap antara enam hingga 10 baris. Berikut ciri-ciri pantun talibun:
· Jumlah baris harus lebih dari 4 dan genap (6,8 dan 10 baris)
· Pada genap awal (1,2,3) merupakan sampiran sedangkan genap akhir merupakan isi (4,5,6)
· Bersajak a-b-c-a-b-c sesuai dengan tiap barisnya
Contoh:
Di kala mendung mulai menyapa
Rintik hujan mulai bersiap
Pelangi pun telah menyemburat
Jika hendak beroleh surga
Buat amal soleh padat merayap
Tinggalkan semua hal maksiat
Kamu juga bisa membuat karya sastra ini juga kok, pict by canva.com
Saloka adalah puisi lama yang mempunyai nama lain pantun berkait atau pantun berantai. Kenapa disebut berkait, karena baris pertama dan ketiga pada bait kedua menggunakan isi yang sama dengan baris kedua dan keempat bait pertama. Meskipun begitu akhiran bunyi atau rima harus tetap sama. Contoh:
Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak akan lusuh
Ibu mati bertimbal jalan
Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
Ke mana untuk diserahkan
Mantra adalah salah satu karya sastra melayu yang isinya dianggap memiliki kekuatan gaib. Mantra biasanya ditulis berbentuk bait dengan keadaan rima yang tidak menentu. Selain itu, mantra lebih mengutamakan irama dibandingkan rima. Contoh:
Assalamualaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
Dapatkan informasi mengenai masalah mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.