Majalah Sunday

Permasalahan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Ketika Masa Keremajaan

Seorang anak yang memasuki tahap remaja pasti mengalami berbagai permasalahan, entah anak pada umumnya maupun anak yang berkebutuhan khusus.

Permasalahan yang mereka hadapi berada pada ruang lingkup pembelajaran, pergaulan, seksualitas, dan pemenuhan diri. Terlebih bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), mereka memiliki permasalahan yang berbeda satu sama lain. “Sebenarnya pada tahap remaja, baik ABK maupun anak pada umumnya sama-sama punya masalah, entah dalam belajar, bergaul, seksualitas, dan pemenuhan diri. Bahkan tiap jenis anak ABK pun berbeda satu sama lainnya.” Ungkap Ana Rokhita, Mahasiswa Pendidikan Khusus Universitas Negeri Jakarta.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) harus lebih diperhatikan, karena keterbatasan yang mereka miliki. Sehingga mereka membutuhkan dampingan secara personal, agar mereka tidak merasa sendirian. Permasalahan yang sangat sulit dihadapi ABK adalah kepercayaan diri, seksualitas dan identitas diri. Tetapi masalah-masalah tersebut tidak bisa disamaratakan untuk semua anak berkebutuhan khusus. Ukuran sulit atau tidak sulit hanya ABK yang dapat mengetahui, karena setiap individu memiliki keterbatasan yang berbeda dan tergantung dukungan dari lingkungan sekitar mereka.

Disabled day concept illustration Free Vector

Bagi ABK yang masih bisa berkomunikasi dengan baik, seperti tuna netra, saat usia remaja sangat semangat-semangat. Ana mengatakan bahwa setelah mereka dewasa dan mengingat masa remajanya dahulu justru membuat mereka tidak percaya diri, karena mereka takut dikucilkan masyarakat. Dan bagi ABK yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi lebih menarik diri dari lingkungan masyarakat karena mereka tidak tahu cara berkomunikasi. Masalahnya tidak semua tuna rungu dapat menggunakan komunikasi oral dan tidak semua masyarakat umum memahami bahasa isyarat. Menurut Ana, peran orangtua, tenaga medis, terapis, dan lingkungan masyarakat sangatlah penting. Setiap elemen tersebut harus saling melengkapi demi menjaga kondisi psikis anak berkebutuhan khusus.

“Contohnya, orang tua tidak memiliki pemahaman yang baik tentang pengasuhan ABK, dan pendidik memiliki keterbatasan waktu dan tempat untuk memberi layanan ABK.” Ungkap Ana.

Anak berkebutuhan khusus kerap kali mengalami tantrum, khususnya ABK yang bermasalah dalam perkembangan sosial emosi seperti anak autism dan kesulitan berkomunikasi verbal. Banyak faktor yang melatarbelakangi mereka tantrum, meskipun tidak ada waktu pakem karena mereka pun sama seperti anak lainnya yang suasana hatinya berubah-ubah. Setiap yayasan memberikan pelayanan yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan, ada yang memberi satu pembimbing untuk banyak ABK, dan ada yang memperketat pengasuhan, sehingga dapat membentuk kepribadian sesuai yang diterapkan pihak yayasan.

 

Penulis: Diana Abdillah – Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?