WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

People Pleaser: Rasa ‘Gak Enak’ yang Berujung Merugikan Diri Sendiri

Hai Sunners! Di kehidupan sehari-hari tanpa sadar kita mungkin pernah berhubungan dengan seorang People Pleaser atau justru diri kita sendiri pernah merasakan jadi People Pleaser. Tapi, apa itu People Pleaser? Untuk gambaran jelasnya, yuk simak cerita singkat di bawah ini.

Naira adalah murid baru di sekolahnya. Setelah beradaptasi dengan suasana sekolah, ia juga mencoba untuk beradaptasi dengan teman-temannya. Ada satu kelompok teman yang menurutnya menarik, jadi ia mencoba untuk berkenalan dan beradaptasi dengan kelompok tersebut. Ternyata hal yang mereka suka atau sering lakukan, berbanding terbalik dengan apa yang Naira suka. Mereka suka makanan western, Naira lebih suka makanan lokal. Mereka lebih suka berburu barang unik di Miniso, Naira lebih suka bermain arcade di Timezone. Tetapi, Naira tetap melakukan hal yang tidak disukainya itu tanpa protes sekalipun karena ia berharap kalau ia menuruti dan mengikuti hal yang mereka sukai nantinya ia dapat diterima dan disukai oleh kelompok tersebut.

Nah, dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa Naira adalah seorang people pleaser. Karena pada dasarnya seorang people pleaser adalah tipe orang yang berusaha untuk memprioritaskan kepentingan atau kemauan orang lain dibandingkan kepentingan atau kemauan dirinya sendiri. Biasanya seorang people pleaser ini sering merasa ‘gak enak’ untuk menolak tawaran atau permintaan seseorang kepada dirinya. Parahnya seorang people pleaser juga sering melakukan hal yang tidak ia sukai karena beranggapan jika melakukan hal tersebut ia akan diterima, disenangi, dan dapat diandalkan oleh orang lain atau suatu kelompok. Meskipun maksudnya baik, namun tindakan ini lama kelamaan justru akan merugikan diri sendiri.

Setidaknya ada tiga dampak yang sangat terasa saat kamu menjadi people pleaser.
1. Kelelahan secara mental, karena memprioritaskan keinginan orang lain adalah sebuah ‘goals’ mungkin awalnya kamu merasa senang tetapi lama kelamaan kamu pasti akan merasa lelah terlebih jika respon yang kamu dapatkan tidak sesuai ekspektasimu. Ingat, apa yang menurutmu baik untuk orang lain belum tentu hal itu baik juga menurut orang lain, lho!
2. Kehilangan jati diri, karena kamu lebih sering mengiyakan kemauan dan pendapat orang lain sehingga orang lain akan berpikir kalau kamu tidak memiliki ciri khas khusus yang menggambarkan pribadi kamu dan mungkin kamu sendiri juga akan merasa kesulitan untuk mengerti apa yang kamu mau atau apa yang kamu sedang rasakan.
3. Rentan diremehkan atau dimanfaatkan, karena kamu sering merasa ‘gak enak’ secara too much alias berlebihan kepada orang lain, hal ini akan membuat mereka meremehkan pendapatmu atau keinginanmu karena berpikir apapun yang mereka pilih kamu pasti mengiyakan entah kamu suka atau tidak. Parahnya kamu juga bisa dimanfaatkan nih karena perasaan ‘gak enak’mu itu.

Nah, kira-kira bisa gak ya seseorang berhenti jadi people pleaser??? Bisa kok! Ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan supaya dapat berhenti jadi people pleaser. Pertama, prioritaskan dirimu sendiri terlebih dahulu dan jujur tentang apa sih yang sebenarnya kamu mau dan kamu rasakan saat sedang bersama orang lain, menerapkan langkah ini bukan berarti melatih kamu untuk jadi egois ya memprioritaskan diri itu sah-sah saja kok selagi tidak merugikan orang lain. Kedua, coba untuk berani berkata tidak atau menolak untuk hal yang tidak kamu sukai, awalnya mungkin terasa sulit tapi dengan kamu menolak hal yang tidak kamu sukai, orang lain mungkin juga akan mencoba untuk mengenali dirimu dan menghormati keputusanmu itu. Terakhir, buat batasan dan sadar kalau kamu juga manusia biasa yang tidak mungkin mampu selalu menyenangkan semua orang.

Itu dia penjelasan mengenai people pleaser serta dampak apa saja yang dapat dirasakan dan bagaimana langkah-langkah untuk berhenti jadi people pleaser. Jika kamu juga seorang people pleaser seperti Naira di atas, coba untuk pelan-pelan lawan rasa ‘gak enak’mu itu ya.. Jangan paksa dirimu untuk menjadi ‘superhero’ terus-menerus, bisa-bisa kamu malah jadi kehilangan jati dirimu lho!

Alda Alviani
Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta

Leave A Comment