Majalah Sunday

Jalur Zonasi PPDB dari 80% Jadi 50%, Masihkah Jadi Lonceng Kematian Sekolah Favorit?

Penulis: Olivia Elena Hakim

Sudah dapat sekolah? Apakah kamu mendapatkan sekolah yang tepat sesuai dengan keinginan hatimu, atau kamu “terjebak” di sebuah sekolah random dekat rumahmu akibat zonasi PPDB? Yuk simak serba-serbi PPDB terbaru!

Ketika sistem PPDB zonasi pertama kali dikenalkan ke masyarakat Indonesia sekitar tahun 2018 lalu, memang kegaduhan di kalangan orang tua murid sempat merebak. Nggak sedikit pula, guru-guru sebagai pelaksana sistem baru ini ikutan dibikin pusing harus melayani keluhan orang-orang. 

Apa kabar PPDB terkini? Satu hal yang berbeda, sejak 2019 ada sedikit perubahan dari jatah zonasi di sekolah. Tadinya, minimal 80% siswa harus berasal dari jalur zonasi alias mereka yang rumahnya dekat dari sekolah tersebut. Kini, cukup 50% saja. Lantas, komposisi lainnya buat siapa saja ya? Cek infonya berikut ini: 

Musuh Sekolah Favorit, Yuk Kenalan sama Permendikbud PPDB No. 44 Tahun 2019

Ini dia aturan pemerintah yang bertanggung jawab mengubah wajah pendidikan kita. Seperti apa komposisi penerimaan murid sesuai aturan ini?

- Jalur Zonasi

Kamu tahu kan area sekitar sekolahmu itu disebut “zona”? Nah, sekurang-kurangnya 50% dari siswa baru harus berasal dari zona sekitar sekolah.

- Jalur Afirmasi

Dipersiapkan untuk kamu yang mungkin punya kesulitan ekonomi atau kendala lain, misalnya anak dari nakes yang meninggal akibat Covid-19. Setidaknya 15% siswa baru harus berasal dari jalur ini.

- Jalur Perpindahan Orangtua/Wali

Maksimal hanya 5% dari siswa baru yang bisa masuk sekolah baru karena alasan perpindahan orangtua atau wali mereka.

- Jalur Prestasi

Jika masih ada tempat kosong setelah kuota di jalur-jalur lain terpenuhi, sekolah bisa membuka jalur ini. Maksimal 30% siswa baru bisa diterima melalui jalur ini, baik berdasarkan nilai UN maupun prestasi lainnya, seperti olahraga, seni, dan lain-lain.

Apakah kamu termasuk siswa yang masih mengincar sekolah favorit, meski jauh dari rumah?

Apakah kamu termasuk siswa yang masih mengincar sekolah favorit, meski jauh dari rumah? Pict by unsplash.com

Pengabdi Sekolah Favorit, Kangen PPDB Jalur Tes?

Memang betul, ketika PPDB berdasarkan tes, sekolah akan penuh dengan siswa yang hampir sama. Misalnya, tes masuk di sekolah X, yang kesulitannya luar biasa, akan menghasilkan satu sekolah berisi siswa yang otaknya encer semua.

Namun rupanya Kemendikbud melihatnya sebagai ketidakadilan, karena tentu hal ini melahirkan yang namanya “sekolah favorit”, yang siswanya pintar semua dan kemudian mungkin mulus jalannya masuk kampus negeri favorit atau bahkan beasiswa-beasiswa dalam dan luar negeri. Dukungan belajarnya juga lebih bagus, misalnya ikut les, kursus bahasa asing, dll.

Pernah nggak kamu mendengar sekolah yang isinya semua siswa pintar dan orang tuanya siap membantu belajar, sedangkan sekolah lain isinya siswa yang kondisinya jauh berbeda? Nah kesenjangan ini yang sedang berupaya ditepis oleh sistem pendidikan kita hari ini. 

Semua orang pasti berharap bisa masuk sekolah yang bagus, meski kualitas sekolah di Indonesia belum merata. Karena itulah, sistem PPDB diubah supaya kualitas belajar di semua sekolah bisa sama bagus. Ini jadi prioritas utama pemerintah, baik pusat maupun daerah.

 

Masih Incar PPDB Jalur Prestasi yang 30%, Demi Masuk Sekolah Favorit Versimu?

Kamu jatuh cinta banget sama sebuah sekolah? Walaupun jaraknya jauh banget dari rumah, kamu tetap bersedia menempuhnya? Ya sih, masih ada jatah 30% untuk masuk sekolah dari jalur prestasi. Tinggal setoran rapor dan nilai, kalau beruntung dan sesuai sama persyaratannya, kamu bisa diterima. 

Tapi, ingat juga, tujuan utama PPDB adalah meratakan kesempatan pendidikan. Kalau jalur prestasi terlalu menyita atensi, kita jadi lupa dengan tujuan itu. Jika diingat-ingat lagi, sebuah sekolah bisa mendapat gelar “sekolah favorit” itu bukan karena sekolahnya yang unggul, tapi yang unggul sesungguhnya itu siswanya. 

Buatmu yang masih penasaran mau coba masuk sekolah yang berlabel “sekolah favorit”, nggak apa-apa juga mencobanya; tapi ingat, nggak usah sampai melanggar aturan. Contohnya, kasus yang pernah ditemukan dalam PPDB beberapa waktu lalu, ada orang-orang yang sampai memalsukan Kartu Keluarga dengan mengganti domisilinya jadi dekat dengan sekolah yang diincar. Bener-bener di luar nurul dan gak habis fikri, deh!

 
 
Diharapkan siswa Indonesia bisa menikmati pendidikan yang adil, tanpa ada sekolah favorit

Diharapkan siswa Indonesia bisa menikmati pendidikan yang adil, tanpa ada sekolah favorit, pict by unsplash.com

Semoga kelak, semua sekolah di Indonesia bisa sama unggulnya. Semua mendapat kesempatan belajar di ruang kelas yang bagus dan diajar oleh guru yang kompeten.

Kamu setuju sama pemerataan pendidikan? Inisiatif apa yang bisa kamu lakukan sebagai seorang siswa? Mungkin kamu juga pernah dengar istilah “tutor sebaya”, di mana siswa yang pintar/berfasilitas diminta jadi teman belajar mereka yang tertinggal? Daripada jadi pintar sendiri, baik banget kalau kita bersedia menggandeng teman-teman lain untuk maju bersama! 

Yuk semangat, melangkah bersama menuju pemerataan pendidikan!

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 139
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?