Majalah Sunday

Gerakan Orang Muda di DKI Jakarta & Sekitarnya untuk Penanggulangan Covid-19

Pada 2 Maret 2020, Presiden mengumumkan kasus pertama COVID-19 ditemukan di Indonesia. Saat ini, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1,758,898 kasus dengan perincian 1,621,572 orang sembuh, dan 48,887 orang meninggal.

 

Dibanding bulan Januari-Februari 2021, telah terjadi penurunan jumlah kasus yang signifikan dari sekitar 10.000-11.000 penularan baru per hari, menjadi 5,797 penularan baru per tanggal 22 Mei 2021. Namun, hal ini bukan berarti Indonesia telah berhasil mengendalikan pandemi COVID-19 walaupun upaya vaksinasi kepada seluruh lapisan masyarakat terus dilakukan. Banyak faktor sosial – ekonomi yang dengan mudah dapat membahayakan keadaan yang mulai membaik ini. Ancaman terbesar saat ini adalah prediksi lonjakan kasus akibat banyaknya orang yang pulang mudik dan berkumpul bersama selama Idul Fitri 1442 H kemarin. Kuatnya nilai sosial dan budaya sebagian masyarakat, telah membuat mereka melanggar peraturan pembatasan kegiatan masyarakat yang dibuat pemerintah guna meminimalisir penyebaran COVID-19.   

black and gray i love you print textile

Ancaman lain yang disampaikan melalui peringatan keras WHO adalah, kondisi pandemi COVID-19 dunia yang dianggap malah makin memburuk. Hal ini disebabkan karena banyak negara telah melonggarkan kebijakan pembatasan sosialnya sehingga masyarakat mulai mengacuhkan aturan proteksi kesehatan yang berlaku. Selain itu, telah muncul dan merebak setidaknya 3 varian baru dari COVID-19 yang lebih mudah menular dan lebih ganas dari yang sebelumnya. WHO memperkirakan ke depan, masih akan ada varian lain yang akan muncul.

Pandemi COVID-19 memberi dampak berbeda pada setiap kelompok usia, termasuk kelompok  orang muda berusia 10-24 tahun. Data menunjukkan orang muda juga rentan terhadap COVID-19, meskipun persentase kematiannya lebih kecil dibanding dengan usia yang lebih senior. Mereka berpeluang jauh lebih besar untuk sembuh karena daya tahan tubuh yang lebih kuat. Bahkan banyak orang muda dengan COVID-19 tidak menunjukkan gejala apapun sehingga tanpa sadar mereka menjadi vektor penularan penyakit terutama kepada yang sudah berusia senior seperti anggota keluarganya. WHO menyatakan, salah satu penyebab utama kasus COVID-19 meningkat secara eksponensial karena banyak orang muda yang tidak peduli dan yakin jika tertular, mereka akan sembuh. Tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi vektor penularan COVID-19 ke orang lain.

group of people walking on street

Sebagai ibu kota, DKI Jakarta memiliki jumlah kasus COVID-19 terbesar dan selalu berada di tiga besar provinsi dengan jumlah peningkatan kasus baru tertinggi setiap harinya. Hal itu menandakan program program penanggulangan COVID-19 di DKI Jakarta masih belum sesuai. Sayangnya, baik di Jakarta maupun provinsi lain, hingga saat ini, program pencegahan COVID-19 masih bersifat umum atau informasi yang sama berlaku untuk semua kelompok. Kondisi ini terjadi walaupun pemerintah mengakui bahwa setiap kelompok, termasuk orang muda, memiliki ciri dan perilaku yang unik dan berbeda. Akibatnya, banyak orang muda di DKI Jakarta dan sekitarnya masih lalai mengadopsi protokol Kesehatan COVID-19. Realita lapangan menunjukkan banyak orang muda tetap senang nongkrong dan berkerumun terutama di malam hari. Keadaan tersebut didukung dengan banyaknya tempat berkumpul seperti kafe-kafe tersembunyi yang buka hingga lewat tengah malam untuk melanjutkan acara kumpul-kumpul di restoran dan kafe yang hanya buka hingga jam tertentu. Yayasan Aliansi Remaja Independen (ARI), yang bekerja dari dan untuk orang muda usia 10-24 tahun dan berkantor di DKI Jakarta merasa sangat prihatin dengan kondisi ini. Sehingga ARI menyadari tidak ada lagi alasan untuk mengabaikan dan tidak terlibat aktif dalam upaya penanggulangan COVID-19, meskipun itu bukan bagian dari fokus kerja organisasi. 

ARI bersama orang muda lainnya yang tergabung dalam jejaring kerja dan pertemanan ARI telah berkomitmen untuk memulai dan memfasilitasi Gerakan Orang Muda untuk Penanggulangan COVID-19 (GOM) di DKI Jakarta dan sekitarnya. Tujuannya selain untuk memastikan orang muda mampu terhindar dari penularan dan menulari COVID-19 kepada orang lain, juga untuk membuktikan bahwa orang muda mampu bertanggung jawab dan berkontribusi dalam mengatasi pandemi yang serius ini.

Mengawali pelaksanaan GOM ini, ARI bekerjasama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta guna mendapatkan hasil yang optimal sambil terus berupaya untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak lainnya. Gerakan sosial dipilih sebagai strategi menggalang kepedulian dan komitmen orang muda karena beberapa penelitian internasional membuktikan Gerakan sosial dapat memberikan dampak yang masif, jika terorganisir dengan baik.  Mereka yang terlibat di dalam sebuah gerakan sosial secara sadar atau pun tidak, akan terkondisikan untuk selalu mematuhi nilai dan perilaku yang sesuai dengan tujuan dari upaya yang dilakukan. 

red bear plush toy on yellow surface

Secara singkat, rencana GOM untuk satu tahun ke depan adalah menggalang sebanyak mungkin orang muda usia 10-24 tahun di DKI Jakarta dan sekitarnya untuk ikut bergabung dalam Gerakan. Mereka secara sukarela akan menggencarkan edukasi pencegahan COVID-19 kepada sesama orang muda dengan memperhatikan dan mengakui karakteristik orang muda pada umumnya. Seperti kebutuhan orang muda untuk berinteraksi sosial dengan teman sebaya, berolah-raga, berpacaran atau kegiatan lain mereka yang khas. Melalui jejaring dan media sosial online (email, Whatsapp, Twitter, Instagram, Youtube dan Tiktok) mereka akan saling mengedukasi dan menjaga bagaimana orang muda tetap dapat berkegiatan sesuai karakteristik mereka, namun tetap aman dari penularan COVID-19. Guna memastikan semangat dan komitmen anggota GOM dalam melaksanakan kerja sukarela ini, mereka juga akan mengadakan kegiatan-kegiatan bergaya anak muda secara online yang menyenangkan. Misalnya akan ada website khusus GOM yang dapat diakses masyarakat umum, ruang pertemuan diskusi informal serta café online yang buka secara teratur. Secara khusus, café online akan menjadi wadah insentif penting karena mungkinkan para anggota GOM untuk bersosialisasi, berbagi, bermain atau menunjukkan keahlian tertentu mereka. Tentu saja dalam setiap kegiatan café online, mereka juga akan terus saling menguatkan informasi dan komitmen untuk menanggulangi COVID-19. Diharapkan dalam 1 tahun ke depan, GOM akan memiliki minimal 600.000 anggota yang bukan saja selalu menerapkan perilaku yang sesuai, tetapi juga aktif dalam menyebarkan informasi terkait COVID-19 yang spesifik untuk orang muda.  Selain itu anggota GOM juga akan secara aktif melakukan advokasi dan dialog dengan pemerintah setempat guna memastikan lingkungan yang kondusif terutama bagi orang muda untuk  berperilaku aman  dari penularan COVID-19, mengakses vaksinasi,  test antigen/PCR atau  mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan sesuai jika sampai ada yang terinfeksi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?