WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Trauma dan Pemicunya

Saya trauma dengan suara keras atau kasar, setiap mendengar ucapan dengan nada keras atau pelan tapi kasar itu saya merasa saya sedang disudutkan atau  disalahkan yang pada titik tertentu saya menjadi marah tidak terkendali dan menyalahkan diri sendiri. Marah saya tidak terkendali setiap saya mendengar jeritan, kata kata kasar dari siapapun bahkan dari anak kecil..dan cenderung menyalahkan orang lain,”Kenapa mereka harus berkata berkata demikian?”

Jadi dengan menarik diri dari lingkungan dari orang orang saya merasa selamat, dan tenang. Mungkin Mimin bisa berbagi tips atau cara bagaimana supaya saya bisa kembali berbaur dengan orang orang sekitar tanpa merasa bersalah?

– Curhat pembaca Sunday via chat

 

Hai Sunners, kita tentu sering menemukan kata trauma digunakan pada artikel, diskusi, hingga berita, terutama berkaitan dengan suatu peristiwa atau fenomena tertentu yang terjadi di sekitar kita. Misalnya saja penggunaan frasa trauma healing yang sering berkaitan dengan kondisi survivor atau penyintas pasca bencana maupun konflik. 

Pada kehidupan sehari-hari juga tidak jarang ditemukan rekan, saudara, ataupun sahabat yang mengeluhkan kondisi yang dilabeli dengan nama trauma, seperti “..aku trauma sama suara keras dan kata-kata kasar, itu membuatku merasa aku disudutkan dan bersalah..”

Meskipun banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang penggunaan dan pemaknaan kata trauma di masyarakat itu kurang tepat. Pada beberapa kasus, kata trauma digunakan untuk menjelaskan dan melabeli kondisi individu yang sebenarnya belum atau tidak termasuk dalam kategori trauma. 

Nah, makanya artikel ini ditulis untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran mengenai trauma pada masyarakat serta mengurangi ketidaktepatan penggunaan istilah ini.

Selain itu, dengan memahami hal-hal mendasar mengenai trauma pada artikel ini, semoga kamu bisa lebih mampu mengelola trauma yang dimiliki. 

Apa itu trauma?

Menurut Trauma – APA Dictionary of Psychology (t.t.), trauma didefinisikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang menimbulkan rasa takut, perasaan helpless, bingung, disosiasi dan sebagainya yang mana memberikan dampak buruk dalam jangka panjang pada aspek tertentu pada manusia, seperti sikap dan perilaku. 

Trauma juga diartikan sebagai cedera serius, misalnya luka bakar atau luka memar karena benda tumpul. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa trauma setidaknya terbagi ke dalam dua konteks yang berbeda, yakni trauma fisik dan trauma psikologis. 

Pada artikel ini, trauma yang akan dibahas merupakan trauma pada konteks psikologis yang mana berbeda dengan trauma fisik. Perbedaan yang paling kentara diantara keduanya adalah pada trauma fisik, kondisi individu jelas terlihat dan dapat langsung diketahui tipe trauma yang dialami. 

Akan tetapi, pada individu yang mengalami trauma psikologis, gejala maupun tanda-tanda yang ada tidak semudah itu untuk diketahui yang mana memerlukan asesmen dan diagnosa dari psikolog maupun psikiater. Dampak yang ditimbulkan oleh kejadian traumatis juga beragam dan dapat berlangsung pada rentang waktu yang berbeda-beda antara satu individu dengan individu yang lain.

Tipe-Tipe Trauma

Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Center for Substance Abuse Treatment (2014) diketahui bahwa terdapat beberapa tipe trauma psikologis:

 

Tipe trauma berdasarkan penyebab

Berdasarkan penyebabnya, trauma dibagi menjadi dua yaitu trauma yang disebabkan kondisi alam dan manusia (human-caused). Trauma yang dipicu oleh kondisi alam seperti puting beliung, gempa bumi, tsunami, dan masih banyak lagi. Karena penyebab trauma ini diluar kendali manusia, hal ini biasa juga disebut sebagai “act of God” atau kuasa Tuhan.

Berbeda dari trauma yang disebabkan kondisi alam, trauma yang dikarenakan oleh manusia dipicu oleh perilaku manusia baik yang disengaja maupun tidak. Center for Substance Abuse Treatment (2014) memberikan contoh bahwa human-caused trauma yang disengaja dapat berupa peperangan, konflik maupun serangan terorisme. Sedangkan trauma yang dikarenakan manusia secara tidak sengaja dapat berupa bencana teknologi seperti yang terjadi pada ledakan reaktor nuklir Chernobyl.

 

Konteks trauma

Dalam upaya memahami dan mempelajari trauma terutama berkaitan dengan psikologis individu, konteks terjadinya trauma penting untuk diketahui. Center for Substance Abuse Treatment (2014) menjelaskan bahwa dengan mengetahui konteks trauma yang ada, penyintas bisa mendapatkan respon dan bantuan yang tepat. 

Hal ini berkaitan dengan rasa malu yang mungkin saja muncul pada suatu konteks trauma sedangkan tidak muncul pada konteks yang lain. Berikut ini beberapa konteks trauma menurut (Center for Substance Abuse Treatment , 2014)

 

Trauma individual

Seperti namanya, trauma individual muncul pada seseorang karena sebuah insiden yang dialami orang tersebut, baik satu kali maupun berulang. Sebagai contoh, trauma individual bisa terjadi karena sebuah peristiwa tunggal seperti pemerkosaan. 

Pada kasus lain, trauma individual juga sangat mungkin muncul karena peristiwa yang intensitasnya tidak terlalu kuat tapi terjadi terus menerus, seperti sering mendengar kata-kata abusive orang-orang terdekat. 

Karena trauma ini konteksnya individual, dampak yang terjadi hanya terjadi pada individu dan tidak jarang dirahasiakan dari orang lain karena yang bersangkutan merasa malu atau berbeda. Kondisi tersebut menjadikan lingkungan sekitar tidak dapat memberikan bantuan yang sesuai. Meskipun demikian, seseorang yang mengalami trauma individual tetap bisa sembuh dan mendapatkan dukungan dari komunitas dengan trauma yang serupa.

 

Trauma kelompok

Kelompok yang dimaksudkan dalam penjelasan oleh Center for Substance Abuse Treatment (2014) merupakan sekumpulan orang yang memiliki identitas, pengalaman, aktivitas dan juga kepentingan yang sama. Kelompok tersebut misalnya saja seperti regu penolong, tentara, polisi hingga petugas tanggap darurat medis. 

Kelompok tersebut beserta keluarga rentan mengalami trauma karena dihadapkan dengan berbagai kejadian traumatis selama bertugas.

Berbeda dari trauma individual yang dirasakan sendiri oleh individu yang bersangkutan, trauma kelompok ini cenderung dirasakan oleh anggota kelompok serta keluarga ataupun orang terdekat mereka, seperti pasangan maupun keluarga. 

Pada beberapa kelompok, trauma yang dialami pada konteks kelompok ini cenderung ditahan atau repressed karena beberapa alasan, seperti melanjutkan misi dan menjaga kerahasiaan dari kelompok mereka.

Pada kelompok tertentu, mereka memiliki sistem dan cara tersendiri untuk mengatasi trauma yang dialami anggota. Biasanya dapat berupa dukungan dari sesama anggota kelompok, sehingga mampu mengembangkan lingkungan tepat untuk membantu mengatasi trauma yang dialami anggota. 

 

Trauma pada komunitas dan budaya

Trauma pada konteks komunitas biasanya terjadi karena insiden kekerasan yang mempengaruhi perasaan aman pada suatu lingkungan atau komunitas. Trauma ini bisa dilihat pada komunitas Asia yang tinggal di Amerika Serikat maupun negara barat lain yang belum lama ini sering mengalami kekerasan verbal hingga kekerasan fisik. 

Kondisi yang terjadi pada komunitas tersebut menimbulkan beberapa dampak seperti berkurangnya rasa aman hingga timbulnya permasalahan kesehatan mental (Abrams, 2021).

Selain berupa trauma yang terjadi pada komunitas, trauma juga dapat terjadi pada konteks sejarah atau disebut dengan historical trauma yang dirasakan oleh banyak orang dan diturunkan kepada generasi selanjutnya pada kelompok budaya, ras, atau etnis tertentu (Trauma, t.t.). 

Dampak yang dirasakan oleh generasi saat ini dapat lebih besar dari pada generasi yang merasakan secara langsung. Misalnya saja pada para penyintas peristiwa Holocaust, anak-anak Palestina, penyintas kolonialisasi Belanda di Indonesia dan lain sebagainya.

 

Trauma massal

Tidak jauh berbeda dari trauma pada komunitas maupun budaya, trauma pada konteks massal juga menyerang sebagian besar individu. Meskipun demikian, pembeda antara trauma massal dengan yang lain adalah jumlah terdampak yang lebih besar serta wilayah geografis yang lebih luas. 

Trauma ini bisa saja disebabkan dari kondisi alam tetapi bisa juga diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan Aceh serta wilayah lain di sekitar Samudera Hindia dan merenggut lebih dari 250.000 nyawa.

 

persons hand on his face

Karakteristik trauma

Dalam memahami trauma secara lebih utuh, kita dituntut untuk memahami karakteristik dari trauma itu sendiri. Secara umum, karakteristik trauma terbagi menjadi dua yaitu karakteristik objektif dan subjektif (Center for Substance Abuse Treatment, 2014). Berikut ini sedikit penjelasan mengenai kedua karakteristik tersebut.

A. Karakteristik objektif

Objektif yang dimaksud pada penjelasan ini adalah karakteristik dari bagian dari insiden traumatis yang ada bersifat faktual. Terdapat beberapa hal elemen yang termasuk ke dalam karakteristik objektif trauma yaitu:

  1. Frekuensi dari kejadian traumatis misalnya saja terjadi mengalami sebuah kecelakaan saat mengendarai mobil atau mendapatkan kata-kata kasar dengan suara yang keras berulang kali dari orang terdekat. 
  2. Waktu yang cukup bagi individu untuk memproses insiden traumatis, seperti jeda antara kekerasan verbal yang awal dengan kekerasan verbal selanjutnya. Jeda yang tidak cukup menjadikan individu belum cukup pulih dan siap untuk menghadapi perkataan kasar selanjutnya dan dapat meningkatkan kemungkinan yang bersangkutan mengembangkan trauma.
  3. Kerugian yang diakibatkan oleh peristiwa traumatis. Karakteristik ini terlihat cukup jelas pada trauma massal maupun kelompok, seperti kehilangan harta benda karena sebuah konflik atau bencana alam. Pada trauma individual, kerugian yang dirasakan dapat berupa hilangnya rasa percaya diri pada penyintas kekerasan atau adanya cedera yang menghambat aktivitas.
  4. Terprediksi atau tidaknya suatu peristiwa traumatis turut andil dalam tingkat keparahan reaksi traumatis pada penyintas. Insiden traumatis yang tidak terprediksi seperti tiba-tiba mendapatkan makian memberikan dampak traumatis yang lebih besar dari pada saat penyintas mengetahui bahwa ia akan mendapatkan kata-kata kasar. Karena prediksi yang ada menjadikan yang bersangkutan bersiap atas apa yang akan terjadi dan dapat mengurangi reaksi yang muncul.
  5. Kemampuan individu mengisolasi reaksi traumatis dari insiden yang dialami sehingga efek yang terjadi tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Kemampuan penyintas untuk mengelola dan tidak menunjukkan reaksi berlebih, dapat membantunya untuk beraktivitas dengan lebih baik bahkan membantu proses pemulihan.
  6. Pihak yang bertanggung jawab atas kejadian traumatis turut berperan dalam berkembangnya trauma. Sebagian penyintas berfokus untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa traumatis dan lupa berfokus untuk mencari jalan keluar dari reaksi traumatis yang timbul. Kondisi ini dapat menghambat proses recovery para penyintas, jika mereka tetap fokus mencari dan menyalahkan pihak yang bertanggung jawab atas trauma yang ia alami.
  7. Trauma yang dialami secara langsung dan tidak langsung memiliki efek traumatis yang berbeda dan individu mengalami langsung reaksi cenderung lebih besar. Sebagai contoh, kata-kata kasar dan makian yang dirasakan secara langsung dapat memunculkan trauma jauh lebih besar dari pada orang yang hanya mendengarkan kisah mengenai kekerasan verbal yang terjadi pada orang lain.
  8. Hal yang terjadi setelah insiden traumatis juga memberikan pengaruh pada reaksi trauma yang dialami penyintas. Misalnya pada penyintas kekerasan verbal yang merasa takut dan tidak aman karena mengalami insiden ini berulang kali dapat meningkatkan kecenderungan yang bersangkutan mengembangkan reaksi trauma.
B. Karakteristik subjektif
Berbeda dari karakteristik objektif yang sudah dijelaskan, karakteristik subjektif dari suatu trauma tidak dapat dilihat secara langsung karena salah satunya berbentuk proses internal dalam diri setiap individu. Berikut ini beberapa karakteristik subjektif yang dijelaskan oleh Center for Substance Abuse Treatment ( 2014).

1. Pemaknaan individu terhadap insiden yang dialami. Perbedaan budaya, keyakinan, hingga tahapan perkembangan memberikan dampak yang signifikan bagi individu untuk memaknai insiden yang terjadi dalam hidupnya.

Sebagai contoh, pada dua individu, penggunaan kata-kata kasar dan suara yang keras dapat dimaknai berbeda berdasarkan latar belakang budaya masing-masing. 

Misalnya individu A berasal dari kelompok masyarakat yang terbiasa menggunakan kata-kata kasar dengan suara yang cukup keras dalam kesehariannya akan menilai perkataan kasar dari teman atau orang terdekatnya sebagai hal yang lumrah, tetapi berbeda dengan individu B yang jarang menemui hal tersebut dan dalam lingkungannya perilaku tersebut dianggap tidak tepat. Perbedaan ini dapat meningkatkan kecenderungan individu B untuk pengembangan trauma, dari pada individu A.

2. Asumsi dan keyakinan bahwa individu mengalami “kerusakan” yang tidak dapat tertolong atau pulih mempengaruhi tingkat trauma yang dirasakan oleh individu. 

Misalnya saja terdapat perasaan “aku bakal seterusnya takut sama teriakan orang” yang besar pada penyintas, dapat mengganggu proses recovery atau proses individu tersebut mencari pertolongan profesional karena sudah memiliki asumsi demikian.

3. Pemaknaan trauma dari sudut pandang budaya juga memberikan pengaruh yang berbeda-beda bagi setiap individu. 

Pada budaya yang memaknai kehidupan pasca kematian sebagai sesuai yang positif, maka tingkat trauma mereka cenderung lebih rendah.

 

Reaksi tubuh terhadap trauma

Pada sebagian besar individu yang mengalami kejadian traumatis, tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh dari individu tersebut memunculkan reaksi-reaksi tertentu sebagai respon dari trauma yang ada. Bentuk dari reaksi yang muncul dari trauma yang terjadi pada setiap individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Center for Substance Abuse Treatment (2014) menjelaskan bahwa reaksi trauma setidaknya dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu reaksi

1. Emosional

Salah satu reaksi emosional yang ditunjukkan penyintas trauma yaitu ketidakmampuan mengendalikan emosi. 

Reaksi emosional yang biasanya muncul seperti marah, takut, sedih dan sebagainya tersebut bisa terlalu kuat yang menuat kewalahan atau terlalu lemah hingga sulit diidentifikasi.

2. Fisik

Reaksi trauma yang dapat dilihat atau dirasakan melalui fisik dapat berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Salah satu bentuk reaksi fisik dari trauma yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti hyperarousal

Hyperarousal sendiri merupakan kondisi ketika tubuh selalu berjaga dengan ciri-ciri berupa munculnya gangguan tidur, otot yang tegang, dan mudah terkejut. Hal ini muncul karena adanya perubahan kondisi biologis karena mengalami trauma, seperti perubahan hormon pada tubuh penyintas.

3. Kognitif

Adanya insiden traumatis dapat mengubah persepsi penyintas dalam melihat dirinya yang berbeda, melihat dunia yang tidak aman untuknya dan kemungkinan kejadian traumatis terulang. 

Kondisi ini membuat penyintas menjauhi hal-hal serupa agar tidak mengingatkannya pada trauma yang ada, seperti tidak berbicara pada orang lain, atau menghindari kerumunan orang. Biasanya kondisi ini ditangani oleh psikolog atau psikiater untuk membantu penyintas menata kembali asumsi dan keyakinan yang tidak tepat tersebut.

4. Perilaku

konsekuensi atau reaksi lain yang mudah untuk ditemui pada penyintas trauma adalah reaksi perilaku. Pada individu yang tidak dapat mengendalikan emosi dan pikiran atau proses kognitifnya, seperti menjerit, menangis dengan keras hingga menyakiti diri sendiri. Hal ini dapat muncul karena adanya rasa helpless dan hopeless dengan kondisi yang dihadapi.

 


Triggers

Pada pembahasan di atas, kata triggers berulang kali digunakan dalam menjelaskan hal-hal terkait dengan trauma. Triggers didefinisikan sebagai sebuah stimulus yang memunculkan memori terkait trauma atau bahkan memicu munculnya reaksi trauma pada penyintas (Trigger – APA Dictionary of Psychology, t.t.). 

Dalam mengatasi trauma, kemampuan trigger, memori dan emosi terkait merupakan hal-hal yang perlu untuk diperhatikan (Center for Substance Abuse Treatment, 2014). Hal ini dikarenakan dengan mengetahui trigger maupun potensi trigger yang ada, penyintas dapat lebih mudah mengendalikan diri dan mengelola emosi terkait kemunculan memori atau reaksi trauma.

Sebagai contoh, pada penyintas kekerasan verbal karena mendapatkan umpatan, makian hingga teriakan dari orang-orang terdekat cenderung mengembangkan reaksi trauma berupa ketakutan hingga rasa tidak aman. Sebagai upaya menghindari triggers dan emosi negatif yang muncul, penyintas cenderung tidak mau berkumpul maupun berbicara dengan orang lain. 

Menghindari trigger dan rasa tidak nyaman dengan cara tersebut tidaklah tepat. Terdapat cara lain yang lebih baik untuk mengatasi hal tersebut, mulai dari melakukan distraksi dengan membaca buku, melakukan aktivitas fisik, bercerita dengan teman atau orang yang dipercaya hingga menulis untuk mengeluarkan emosi yang ada.

Berdasarkan penjelasan mengenai trauma dan juga triggers tersebut, diharapkan pemahaman mengenai keduanya dapat meningkat. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan tentang hal-hal dasar mengenai trauma, semoga semakin menambah kesadaran akan trauma dan menambah wawasan mengenai cara yang tepat untuk mengatasi reaksi trauma yang ada.

Meskipun demikian, beberapa hal yang perlu diingat bahwa reaksi tidak normal terhadap situasi atau fenomena yang tidak normal adalah hal yang wajar, tetapi pada jangka waktu lama perlu diperhatikan dan mencari bantuan profesional. 

Kedua reaksi trauma yang dirasakan oleh individu tidak bisa disamakan karena dipengaruhi oleh banyak hal seperti persepsi, pengalaman, hingga regulasi diri masing-masing individu. 

Ketiga, hal-hal yang diberikan pada artikel ini bukan saran harus dilakukan, melainkan hanya bersifat informasional yang membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman atas trauma.

 

oleh: Anjuni Khofifah Hanifi, S.Psi

*artikel ini merupakan kerja sama antara Majalah Sunday dengan KampusPsikologi.com 

logo kampuspsikologi

Leave A Comment