WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Di Sudut Kanan

Tiga April, hari pertama bulan Ramadan bagi kaum muslimin. Orang-orang kebanyakan menyebutnya “bulan puasa”. Entah apapun sebutannya, bulan Ramadan memang menjadi momen yang ditunggu-tunggu, karena semua kegiatan yang dilakukan akan bernilai pahala. Tentu saja, selama kegiatan tersebut tidak merugikan orang lain dan mendatangkan kemudaratan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. 

Dersik, pukul 12 siang menghantam tenggorokan yang dahaga. Dimas anak SMA kelas 11 yang hobinya bermain game dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya di tongkrongan dekat sekolah. Secara fisik, Dimas dapat dibilang lebih menonjol dari teman-temannya, kulit putih, hidung mancung, alis tebal, mata coklat, dan tinggi sekitar 170cm.  Ia memiliki teman dekat, Farhan, tidak jauh beda dengan Dimas, bisa dibilang Farhan ini teman sefrekuensinya Dimas. Meskipun Farhan tidak setampan Dimas secara fisik, Farhan ini jago bergaul dan banyak disukai teman-teman yang lainnya terutama karena kecakapan dia dalam mencairkan suasana. 

Sehabis pulang sekolah Dimas dan Farhan merencanakan ke tempat biasa berkumpul dengan kegiatan yang setiap hari mereka lakukan. Tongkrongan yang mereka kunjungi disebutnya “Base”.

Dimas: “An, ke Base ga ni?”

Farhan: “Pake nanya, gas lah.”

Dimas: “Beli korek dulu, tadi gua lupa bawa korek.”

Farhan: “Bocah sableng, puasa woy.”

Dimas: “Oh iya, pantesan sepi tumben. Puasa nih kita?” (Sambil melirik Farhan dengan alis yang diturun-naikkan). 

Farhan: “Puasa lah, hari pertama. Yakali udah jebol aja.” 

Dimas: “Terus kita ngapain di sini berdua doang, yang lain suruh ke sini lah. Takut dikira homo gua.”

Farhan: “Kurang ajar lu, bentar gua WA dulu.”

 

Sambil menunggu Farhan mengabari teman yang lain melalui WhatsApp, Dimas membuka Mobile Legend miliknya.

 

Farhan: “Yah, Dim. Yang lain pada ga bisa, panas katanya makanya langsung pulang.”

Dimas: “Lemah banget emang, ayo kita main ML aja deh.”

Farhan: “Ga dulu deh, batre gua low.”

 

Tak mendengar respons Dimas setelah diberitahu batrainya habis, Farhan menyenggol Dimas. 

 

Farhan: “Heh lagi buka apaan lu, serius amat?” 

Dimas: “Ini di Twitter lagi trending ada tempat makan baru, buka 24 jam cuy.”

Farhan: “Di mana?”

Dimas: “Deket cuma 5 km doang, gas ga ni?”

Farhan: “Gasss abis magrib.”

Dimas: “Masih lama, baru jam satu. Kemana dulu ya?”

Farhan: “Ke rumah lu aja.”

Dimas: “Ga mau, males gua adek gua ga puasa suka banget makan depan gua.”

Farhan: “Lemah banget iman lu, anak kecil paling makan es krim doang.”

Dimas: “Ah, udah lah. Kemana kek yuk.”

 

Karena mereka merasa jenuh, akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumahnya Joel. Joel adalah teman sekelas Dimas, mereka satu tongkrongan, namun kebetulan karena Joel mengira mereka tidak akan nongkrong, jadi ia pulang duluan. 

 

Dimas: (Tok… tok… tok…) (Dimas mengetuk pintu rumah Joel).

Joel: “Eh Bro, salam dulu orang mah.” (Joel membuka pintu)

Dimas: “Assalaamu’alaikum Joel”

Joel: “Waalaikumussalam.”

Farhan: “Joel, lu kan Kristen.”

Joel: “Oiya astagaaaa.”

 

Dimas, Farhan, dan Joel menertawakan kebodohan mereka bersama. Mereka memang sudah terbiasa becanda seperti itu, dan saling menoleransi perbedaan yang mereka punya. 

 

Joel: “Sorry tadi lagi makan gua. Gua kira lu pada pulang juga karena bulan puasa.”

Farhan: “Ga tau, gua diajak Dimas ni ke rumah lu, tongkrongan juga sepi.” 

Joel: “Yauda yuk ke kamar gua.”

 

Mereka bertiga akhirnya masuk ke kamar Joel, dan push rank bersama. Selama kurang lebih 2 jam, akhirnya Dimas memutuskan untuk pulang.

 

Dimas: “An, pulang yuk takut dicariin gua.”

Farhan: “Tumben ngajak pulang?”

Joel: “Yaelah Dim, kalo mau minum mah gua ambilin. Rumah gua sepi kok, mau air dingin atau biasa?”

Dimas: “Gila lu ya, puasa ni gua.”

Farhan: “Udahlah ayo pulang, ngantuk gua juga.”

Dimas: “Joel makasih ni tumpangannya, besok siapin nasi padang lah wkwk.”

Joel: “Memanfaatkan gua lu ya, wkwk.”

 

Sambil becanda, Dimas dan Farhan bergegas pulang. Karena rumah Dimas lebih dekat dari rumah Joel, Dimas sampai duluan di rumahnya.

 

Dimas: “Udah sampe ni bos, gua duluan ya. Ntar sore ke tempat yang lagi trending, ga jadi ya ngantuk gua. Tiati lu.”

Farhan: “Yoi, gua juga mager si.” 

 

Setelah melihat kendaraan Farhan yang sudah menghilang dari pandangan, Dimas bergegas keluar lagi mencari tempat makan yang sedang trending di Twitter. Sambil membuka Google Maps, 15 menit kemudian Dimas sampai di tempat yang bernama “Waroeng Doeloe”. Karena tempat makan ini dibuka 24 jam, maka selama bulan Ramadan ditetapkan aturan untuk pemeriksaan makan di tempat untuk laki-laki muslim. 

“Baik untuk para pengunjung yang beragama nonmuslim boleh langsung memasuki tempat makan di sudut kanan, setelah dilakukan pengecekan. Untuk laki-laki yang beragama muslim, hanya boleh membeli makanan dan dibawa pulang.” (Ucap petugas restoran, melalui sumber suara yang hanya terdengar oleh pengunjung restoran).

Dimas ketar-ketir mendengar pengumuman tersebut, karena berpikir jika dibawa ke rumah akan ketahuan Mamanya. Namun, dengan pedenya ia berjalan memasuki ruang pemeriksaan. Dengan wajah percaya diri karena memang fisiknya seperti orang luar, ia mencoba dan ternyata lolos serta diperbolehkan makan di tempat. 

Pelayan: “Atas nama Dimas Ardian, silakan memasuki sudut kanan untuk layanan makan di tempat.” 

Dimas kaget mendengar pernyataan itu, dan merasa lolos karena wajahnya yang mendukung untuk diloloskan. Ia memasuki ruangan khusus makan di tempat bagi pengunjung nonmuslim. Memesan makan dan minum yang sudah ia cari sebelumnya melalui Twitter. Sampai waktu mengunjukkan pukul 16.00. Ia memutuskan untuk bergegas pulang. 

Merasa gerah karena masih memakai pakaian sekolah, ia memutuskan mandi. Seperti biasa ia berkaca terlebih dahulu sebelum mandi, merapikan rambut yang tertindih helm selama berkendara. Betapa terkejutnya ia, karena lupa melepas kalung milik Joel yang tadi siang ia pakai. Ia tersadar bahwa lolos dari pemeriksaan di restoran bukan karena wajahnya, namun karena kalung salib yang ia pakai. 

 

SELESAI

 

Ami Fahira-Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment