WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Coffee Talks: How Do Coffee Shops Survive in the Covid-19 Era with Owner Baraka and Co-Founder Paradista Coffee

 

Sudah setahun berlalu pandemi melanda Indonesia, mahasiswa Universitas Brawijaya berinisiatif mengadakan acara Coffee Talks melalui Narai Event Organizer yang temanya membahas tentang bagaimana industri kopi bisa tetap bertahan di masa pandemi. Acara berlangsung pada hari Sabtu, 22 Mei 2021 pukul 13.15 WIB melalui aplikasi meeting online Zoom. Dalam acara ini Narai Event mengundang narasumber yang memang berkecimpung di dunia perkopian yaitu Johan Radhitama sebagai Owner Baraka Coffee House dan Rizky Adhitya Putra selaku Co-Founder Paradista Coffee.

Selain materi dan sharing acara ini juga diselingi dengan kuis berhadiah dan sesi tanya jawab kepada para narasumber sehingga para peserta tidak mudah bosan dan tetap mengikuti acara sampai akhir.

 

Narai Event menyungsung topik Coffee Talk bertujuan untuk memberikan gambaran awal mengenai bisnis perkopian yang saat ini sedang banyak diminati seperti tantangan yang dihadapi terutama di era pandemi.

Narasumber yang pertama memberikan materi dan pengalamannya adalah Johan Radhitama, beliau merupakan owner dari Baraka Coffee House. Pada kesempatannya ada dua pokok pembahasan yang ia bagikan yaitu bagaimana memulai bisnis dan menghadapi bisnis di era pandemi. Bagaimana memulai bisnis pada dasarnya membutuhkan niat, tekad, dan perencaaan awal yang baik.

Dalam memulai bisnis tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk menunjang keberhasilan bisnis terutama bisnis di dunia perkopian. Mas Johan membagikan tiga tahapan penting dalam melakukan perencanaan seperti pembentukan, operasional, dan pertumbuhan. Ketiga tahapan tersebut dilakukan sebagai dasar sebelum mengeksekusi ide dan agar bisnis yang dijalankan memiliki karakter dan mampu bersaing dengan competitor lain.

Acara Coffe Talks

Dalam tahap pembentukan ada tiga pokok pikiran yang disimpulkan yaitu pertama ide bisnis. Ide yang digagaskan untuk memulai suatu bisnis tidak harus baru dan berbeda tetapi bisa dari ide bisnis yang sudah ada kemudian dimodifikasi dengan keunikan yang memiliki nilai jual. Kemudian yang kedua ada modal yang menjadi salah satu faktor penting yang harus ada dalam proses pembuatan bisnis apapun.

Modal akan lebih banyak dan ringan jika dilakukan kolaborasi dengan rekan bisnis. Modal bisa diperoleh melalui tiga cara yang pertama dari orang tua salah satu rekan yang mungkin memiliki finansial yang baik bahkan lebih dari cukup lalu rekan itu sendiri yang memiliki pendanaan atau investasi yang memadai kemudian yang terakhir bisa berasal dari tabungan pribadi hasil bekerja dari perusahaan swasta, start up, dan lain-lain. Selain modal dalam proses pembentukan bisnis sumber daya manusia atau tim dalam menjalankan bisnis juga sangat penting untuk mengisi posisi dengan keahlian dibidang yang berbeda.

Tahapan opersional memiliki tiga tingkatan yaitu leadership, manajemen, dan inovasi. Leadership digambarkan sebagai karakter kepemimpinan yang bersifat fundamental. Manajemen merupakan pembagian tugas sebagai dasar yang dilakukan untuk menjalankan bisnis tentu dengan keahlian yang dimiliki sesuai kebutuhan dan inovasi yang merupakan kemampuan memberikan hal baru yang belum pernah dilakukan oleh pelaku bisnis sebelumnya dan menjadi  modal bisnis secara berkelanjutan.

Tahap pertumbuhan, mas Johan membuat singkatan tahapan ini menjadi 4C (Customer, competitor, creativity, correction). Mas johan berkata bahwa competitor tidak selamanya harus berkompetisi tetapi juga bisa berkolaborasi seperti halnya berkunjung ke coffee shop lain untuk melakukan promosi dan tentunya akan menambah rekan bisnis dikemudian hari.

Pokok pembahasan kedua berkaitan dengan tema acara ini yaitu menjalankan bisnis diera pandemi, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh pegiat bisnis terutama dibidang berkopian yaitu BMC, CI-EL dan Marketing 4.0. Cara pertama yaitu BMC yang terdiri dari customer segments, costumer relationships, revenue streams, channels, value propositions, key activities, key resources, key partners, cost structure. Sedangkan CI-EL memiliki kepanjangan Creativity, innovation, entrepreneur, leadership.

“yang paling pertama itu financial management, besar kecil financial management di masa pandemic harus bagus.” Kata Johan.

Dalam kesimpulan yang dikemukakan mas Johan di akhir presentasinya ada satu kalimat unik yang ia tulis yaitu “Just move, Imagination means nothing without doing”. Yang artinya imajinasi tidak akan menjadi apa-apa tanpa melakukan apapun. Pernyataan tersebut sangat cocok untuk menghadapi bisnis di era pandemi covid-19.

Melanjutkan pembahasan mengenai bagaimana bisnis kopi survive di era pandemi. Rizky Adhitya Putra selaku Co-Founder Paradista Coffee sependapat dengan Mas Johan bahwa memang pelaku bisnis harus tetap survive meski keadaan sedang di batasi.

”kedai kopi harus survive, itu starting point gue di mana di era pandemic seperti ini Ketika interaksi kita dibatasin dan kemudian kita gak bisa ketemu orang atau temen kita secara langsung gitu ya, phsycal experience kita dibatasin dan kedai kopi harus tetap survive.” Kata Rizky.

Menurut Rizky salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis di masa pandemi adalah dengan menerapkan online concept di mana semua aktivitas penjualan dan pembelian dilakukan secara online atau tidak datang langsung ke kedai kopinya. Hal ini sudah banyak diterapkan oleh coffee shop seperti mengeluarkan produk kopi botolan yang bisa dipesan dengan sistem grab and go.

Tetapi disamping itu masih banyak penikmat kopi yang ingin datang langsung ke kedai kopi untuk mendapat suasana berbeda dan dalam hal ini Rizky menyimpulkan bahwa kita sebagai pelaku bisnis harus mengetahui apa yang costumer inginkan seperti adaptasi 4 prinsip berikut hygiene, low touch, less crowd, and low mobility. Untuk menciptakan 4 hal tersebut tentunya kedai kopi harus mengedepankan CHSE (Cleanliness, Healthiness, Safety and Environment) agar bisnis kopi tetap bisa bertahan dan bersaing di era pandemi.

“kongkritnya para kedai kopi seharusnya punya unique selling point yang memang kuat.” Tutur Rizky.

 

 

HANI ROSIYANI – Politeknik Negeri Media Kreatif

Leave A Comment