Majalah Sunday

Beku

Entah ia yang terlalu berani untuk membirukan luka..

Atau aku yang terlalu takut menyimpulkan bahwa itu luka..

Entah ia yang terlalu kuat untuk membekukan waktu..

Atau aku yang melulu meragu..

 

Baru kumengerti bahwa rumah tidak melulu ditanya oleh kata tanya “apa?” melainkan dapat menjadi “siapa?”

Begitu pula dengan pergi, padamu bukan lagi “ke mana?”, tapi “dari mana?”

 

Seperti batu yang jatuh ke dalam lautan disaat kemarau, dan mencapai dasarnya saat musim dingin yang entah kapan usainya.

 

Seperti terumbu karang yang mengokohkan diri pada singgahnya. Tanpa ragu bertahan.. hingga kemarau kembali.. hingga musim dingin lagi.. lalu kemarau lagi.

 

Namun, seperti ombak yang menderu-deru menuju pesisir… Hanya waktu yang sanggup memberhentikannya dengan kata sakral bernama “pengorbanan”.

 

Saat semuanya telah membeku dan baru tersadar bahwa itu ulah dari dirimu. Dan bahwasanya baru kuketahui hal-hal tersebut yang tidak akan habis dan kekal, hal-hal itu bertajuk dirimu.

 

Kinanti Rizkiarti

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?