Majalah Sunday

Ada Aku di Sampingmu, Sahabat

Penulis: Pelangi Adelia Primadiani – Universitas Kristen Indonesia

Ayura menjatuhkan badan di kasurnya. Ia baru saja pulang dari sekolah. Awalnya, tempat di mana ia bersekolah sekarang adalah salah satu sekolah impiannya. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dengan giat dan mengambil banyak les. Semua usahanya pun tidak sia-sia, karena ia berhasil lolos dan masuk ke sekolah impiannya. Ayura tentu saja sangat senang, ia merasa semua perjuangannya sekarang telah terbayar lunas. Namun, sayangnya, ia tidak lagi merasa begitu karena Saski, sang sahabat jauh darinya. Saat pengumuman kemarin, Saski ternyata memilih sekolah yang berbeda dengannya, tempat yang jauh sehingga berpisah seolah menjadi pilihan.

Hal itu membuat Ayura merasa sedih dan terasa seperti ada sesuatu yang kurang. Biasanya mereka berdua selalu bersama, kemanapun dan dimanapun, seperti belajar bersama di perpustakaan, bermain di lapangan sekolah, dan berpartisipasi dalam berbagai acara sekolah. Mereka sangat menghargai setiap momen, sehingga persahabatan mereka menjadi semakin erat dan kuat. Namun, kini tidak ada lagi kesempatan untuk mereka berdua melakukan hal-hal seperti itu lagi. Tanpa kehadiran sahabatnya, suasana di sekolahnya yang sekarang jadi begitu tidak nyaman bagi Ayura. Meskipun begitu, Ayura tidak ingin membiarkan jarak menghalangi mereka berdua. Walaupun kini terpisah oleh ratusan kilometer, mereka akan berusaha untuk menjaga agar hubungan persahabatan mereka tetap erat. Mereka berjanji untuk tetap bermain bersama saat pulang sekolah dan saling berbagi cerita lewat telepon atau media sosial.

Ayura bangkit dari kasurnya dan pergi untuk bersiap-siap. Hari ini ia dan Saski ada janji untuk bertemu. Setelah mengenakan pakaian yang nyaman, Ayura mengambil tasnya, dan mengecek barangnya beberapa kali. Ketika sudah yakin bahwa tidak ada barang yang tertinggal, dengan wajah yang berbinar-binar karena antusias untuk bertemu dengan Saski, Ayura keluar dari rumahnya dan pergi menuju tempat mereka akan bertemu. Saat tiba di tempat, ia dapat melihat Saski yang sedang menunggunya. Ia pun langsung menghampiri Saski, mereka berdua saling berpelukan, merasa bahagia karena bisa bersatu kembali. Mereka kemudian menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, bercerita, dan tertawa seperti dulu.

persahabatan

Waktu yang kita habiskan bersama sahabat tak ternilai harganya, pict by canva.com

Hari demi hari berlalu, Ayura dan Saski semakin jarang berkomunikasi dan bermain bersama. Setiap Ayura mengajak Saski untuk bertemu, Saski selalu saja tidak bisa. Ayura merasa sedih akan hal itu, namun ia mencoba untuk mengerti situasi Saski. 

“Mungkin Saski lagi ada kesibukan lain,” pikirnya.

Namun ternyata saat ia sedang memainkan handphonenya, ia melihat postingan Saski di salah satu sosial media yang sedang bermain dengan teman-teman barunya. Ayura langsung menaruh handphonenya, di satu sisi ia merasa senang karena Saski mendapatkan banyak teman baru. Namun di sisi lain ia takut karena ia merasa perannya di kehidupan Saski serasa digantikan oleh orang lain. 

Rasa kesal dan takut terus mengganggu pikiran Ayura. Hingga akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu, ketika Ayura dan Saski bertemu, ia tanpa ragu-ragu langsung menodongkan pertanyaan pada Saski.

“Kemarin kenapa lu gak bisa?” tanya Ayura. “Tapi giliran sama temen-temen baru lu bisa.”

“Maksudnya gimana?”

“Gua kemarin liat di postingan lu. Padahal kan gua sahabat lu, gua yang kenal lu dari lama. Tapi kenapa lu malah lebih milih buat main sama orang baru dibandingkan sama gua?” tanya Ayura lagi dengan nada ketus.

“Justru itu, Yu. Kita udah beda sekolah dan gak mungkin kan gua harus terus-terusan sama lu? Gua harus nyari temen lain biar sekolah gua jadi tempat yang nyaman buat gua. Makanya gua selalu bilang gak bisa. Gua tau kalo cara gua salah, tapi emang kemarin jadwal mainnya bentrok. Lagian gua kira lu gak bakal masalah sama hal-hal kecil kayak gini, karena kita kan udah sering main bareng!” jelas Saski yang awalnya mengira mereka akan bersenang-senang malah ikutan jadi emosi.

“Loh? Dulu aja kita bisa seminggu main sampe 5 kali!”

“Beda, dong. Dulu kita satu sekolah, sekarang kan enggak.”

“Yaudah kalo gitu lu pindah aja ke sekolah gua,” ucap Ayura dengan enteng.

Saski terkejut, “Gak segampang itu lah, Yu.”

“Gampang kok! Kalo lu bener-bener sahabat gua, harusnya lu setuju sama saran gua. Tapi ngeliat respon lu, kayaknya emang peran gua udah digantiin sama temen-temen baru lu itu.”

Saski merasa terluka oleh kata-kata Ayura, namun dia juga merasa kesal dengan reaksi Ayura yang terlalu memaksa, “Mending lu cari temen baru aja deh, biar gak bergantung sama gua terus.” Lalu dengan muka masam, Saski bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.

Ucapan terakhir Saski terngiang-ngiang di kepalanya. Ayura itu susah banget buat bersosialisasi, makanya ia berpikir untuk tidak mencari teman baru dan hanya butuh Saski saja. Namun sepertinya pemikirannya itu salah, karena sekarang ia merasa sangat kesepian. Perasaan kesepian itu mulai menghantuinya. Saski adalah sahabatnya, namun Ayura menyadari bahwa mengandalkan hanya satu sahabat saja untuk memenuhi kebutuhan sosialnya tidaklah cukup. Dengan tekad yang kuat, Ayura pun memutuskan ke depannya ia akan lebih terbuka dan berani untuk berinteraksi dengan orang lain.

Keesokan harinya, Ayura memasuki kelasnya dengan senyuman yang lebar,

“Halo semua,” sapanya pada teman-teman kelasnya. Ia mendudukkan diri di kursinya lalu melirik ke arah sampingnya. Saat ini ia duduk bersama dengan seorang perempuan yang mengenakan kacamata. Sebenarnya ia sudah tertarik ingin berteman dengannya dari awal masuk kelas ini. Namun karena takut, ia jadi mengurungkan niatnya. 

Ayura kemudian menyamankan duduknya, mencoba berani, “Halo?”

“Halo, Ayura,” teman sebangkunya itu menyapanya balik.

“Eh, lu tau nama gua?”

Teman sebangkunya itu mengangguk, “Jangan-jangan lu gak tau nama gua ya?”

Dengan panik Ayura menutup wajahnya, merasa malu karena jawaban teman sebangkunya itu benar. Ia mendengar suara tawa dari sampingnya.

“Gua Kayla. Diinget-inget ya!” ucapnya dengan senyuman lebar yang lalu mencolek seseorang di depannya, “Nah kalo dia ini namanya Hani, yang di samping Hani itu Reta,” Kedua orang itu menoleh ke belakang dan tersenyum pada Ayura.

Dari situ, Ayura akhirnya mendapat teman-teman baru. Ayura yang awalnya merasa sangat canggung akhirnya merasa nyaman karena respon mereka yang baik. Seiring berjalannya waktu, Ayura semakin terbuka dan percaya diri dalam berinteraksi dengan teman-teman barunya. Mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama, mau itu saat sedang di kelas ataupun di luar kelas.

persahabatan

Ayura mulai membuka diri namun di sisi lain, ia kehilangan sahabatnya, pict by canva.com

Ayura merebahkan badannya di kasur, hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semester di sekolahnya. Ia mengingat-ngingat kembali jawaban yang ia isi di lembar ujiannya tadi, memastikan tidak ada jawaban yang salah. Lama-kelamaan ia jadi melamun dan malah kepikiran sama Saski. Sudah 2 bulan mereka tidak berkomunikasi, ia mengambil handphonenya dan membuka kontak Saski. 

02 Februari 2023

Saski, gua mau minta maaf. Omongan gua salah banget kemarin, gua egois dan gak mikirin perasaan lu. Sekali lagi gua minta maaf. 09:00

24 Februari 2023

Saski, mau ketemuan gak? Tapi kalo lu gak bisa, gapapa sih. 15:20

07 Maret 2023

Gua lagi di deket rumah lu nih, mau nitip sesuatu gak, Ki? Tadi sih gua liat tempat seblak favorit lu buka. Mau gak? 19:30

29 Mei 2023

Ki, maaf. 21:00

Itu adalah pesan terakhir yang ia kirim ke Saski, namun sampai sekarang pesannya hanya dibaca saja oleh Saski. Ayura menghela nafasnya, meskipun Ayura berusaha keras untuk memperbaiki hubungan mereka, Saski tampaknya masih sulit untuk memaafkannya. Ayura kangen banget sama Saski, ia tidak mau kalau mereka berdua menjadi asing. Namun ia juga menyadari kesalahannya dan tidak mau memaksa Saski lagi. Yang Ayura dapat lakukan saat ini adalah bersabar dan berharap bahwa mereka berdua masih bisa dekat seperti dulu. Meskipun fase hubungan mereka berdua kemungkinan telah berakhir, Ayura berjanji akan tetap berada di samping Saski, memberikan dukungan sepenuhnya, dan siap untuk merangkulnya kembali. Ia berjanji akan selalu ada jika Saski membutuhkannya.

Cerpen ini terinspirasi dari lagu Always – Daniel Caesar.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 306
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?