WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Pil KB Darurat untuk Remaja, Apakah Aman?

Pil KB darurat merupakan salah satu solusi pencegah kehamilan. Tapi, apakah berisiko bila dikonsumsi remaja? 

 

Istilah kontrasepsi pastinya gak asing di telinga Sunners. Mulai dari pil KB, IUD alias spiral hingga kondom, kontrasepsi berfungsi mencegah kehamilan dengan cara berbeda menyesuaikan jenis kontrasepsi yang digunakan. 

Lalu, bagaimana dengan pil KB darurat? Apakah penggunaannya sama seperti kontrasepsi pada umumnya? 

1. Apa sih pil KB darurat itu?

ilustrasi perempuan mengonsumsi pil KB darurat (canva.com)

Sunners pasti penasaran seperti apa pil KB darurat itu. Nah, sebelum membahas lebih lanjut, perlu diingat bahwa pil KB darurat sejatinya diperuntukkan bagi pasangan dewasa yang ingin mencegah kehamilan. 

Tersedia di apotek maupun klinik, pil KB darurat hadir dalam dua jenis, yaitu alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil layaknya pil KB pada umumnya. Bedanya, penggunaan pil KB darurat tidak direncanakan dan hanya dikonsumsi dalam keadaan genting, misalnya saat lupa mengonsumsi pil KB atau terjadi kerusakan pada kondom. 

Uniknya, pil KB darurat memiliki nama lain yang relatif beragam lho, seperti kontrasepsi darurat (kondar), kontrasepsi sekunder, kontrasepsi pasca-senggama, morning after pill, atau morning after treatment. Karena bersifat cadangan, pil KB darurat tidak dipakai sebagai pengganti kontrasepsi reguler (pil KB, IUD, dan suntik).

2. Kalau berbeda dengan kontrasepsi pada umumnya, bagaimana nih cara kerja pil KB darurat?

ilustrasi kontrasepsi (unsplash.com/rhsupplies)

Mengonsumsi pil KB darurat bukan berarti menggugurkan janin atau meluruhkan sel telur yang sudah dibuahi, lho. Pil ini berperan mencegah pembuahan dengan menahan sel telur agar tidak dilepaskan ke saluran tuba falopi. 

Tak cuma itu, pil KB darurat juga memicu produksi lendir pada dinding uterus. Alhasil, sperma akan terjebak sehingga tak bisa bertemu dengan sel telur.

Beda jenis pil KB darurat, beda pula cara penggunaannya, nih. Pil kontrasepsi darurat efektif diminum paling lama 72 jam usai berhubungan seksual. Sementara AKDR atau IUD darurat sebaiknya dipasang 5-7 hari setelah berhubungan seksual.

3. Bila masih remaja, apakah boleh mengonsumsi pil KB darurat?

ilustrasi pil KB darurat (canva.com)

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), semua perempuan usia subur boleh mengonsumsi pil KB darurat demi menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Batasan usia juga tidak ditetapkan dalam pemakaian pil KB darurat.

Namun yang perlu Sunners pahami, pil KB darurat tidak serta merta bebas digunakan oleh siapa saja. Perempuan di bawah 18 tahun tidak dianjurkan memakai pil KB darurat sebagai satu-satunya alat kontrasepsi pencegah kehamilan. 

Hal ini dikarenakan belum adanya bukti medis mengenai risiko jangka panjang pil KB darurat bagi remaja. Terlebih karena metode kontrasepsi darurat baru dikembangkan belum lama ini.

Terdapat pengecualian situasi penggunaan pil KB darurat untuk remaja, yaitu ketika adanya hubungan hubungan seksual tidak diinginkan dan bersifat paksaan, contohnya pemerkosaan. Meski begitu, Sunners tetap harus menjalani pemeriksaan medis guna mendapatkan penanganan yang tepat. 

4. Apa saja risiko pil KB darurat untuk remaja?

ilustrasi perempuan mengalami nyeri perut (pexels.com/olly)

Sampai saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahaya minum pil KB darurat, khususnya bagi remaja. Tak hanya itu, belum ada laporan yang menyatakan remaja berisiko tinggi mengalami efek samping dari pil KB darurat.

Menurut Mayo Clinic, efek efek samping yang muncul usai mengonsumsi pil KB cukup beragam, mulai dari mual, lemas, sakit kepala, nyeri payudara, alergi, hingga pendarahan selama 2-3 hari. Pada beberapa kasus, pil KB darurat bisa menyebabkan siklus haid tidak teratur, nih

Itulah informasi terkait pil KB darurat yang perlu Sunners pahami. Keberadaan pil KB darurat tidak serta merta menjadi kesempatan untuk terlibat seks bebas sebab Sunner masih berpotensi terkena risiko membahayakan lainnya, misalnya penularan penyakit kelamin dan kehamilan. 

 

Oleh: Peggy Kakisina, Universitas Brawijaya

Leave A Comment