Majalah Sunday

Teror Creepypasta

Penulis: Delia Putri Amanda – Universitas Negeri Jakarta

Petang akhirnya turun.

Seharian ini telingaku memanas dan aku khawatir akan meledak kalau sampai pada bel istirahat kedua tadi, teman sebangku-ku, Rei, masih melanjutkan ocehannya tentang kutukan creepypasta yang semalam dibacanya sebelum tidur. Jujur saja, aku kurang peduli. Lagipula di zaman sekarang, siapa yang masih percaya pada kutukan atau teror atau hal-hal semacamnya? Pemikiran kolot, kalau boleh kubilang begitu. Sebab belasan tahun aku hidup, aku hanya percaya pada apa-apa yang nyata dan bisa kubuktikan dengan mata kepalaku sendiri.

Dengan tergesa-gesa aku beranjak ke kantin begitu bel istirahat baru saja berdentang. Lapar, kataku kepadanya. Dan ia pun membiarkanku pergi dengan agak tidak rela.

Aku putuskan untuk tidak kembali ke kelas dan makan siang di pojok kantin saja. Rei mungkin akan kecewa karena tidak biasanya aku membiarkannya menghabiskan bekal sendirian. Tapi, biar saja, deh. Lagian kami tidak dekat-dekat amat—hanya kebetulan duduk sebangku karena nomor absen kami yang berurutan.

Kepalaku masih berasap oleh celotehan Rei yang tidak masuk akal. Bisa-bisanya ia mempercayai kalau keganjilan dan mimpi buruk yang dialaminya adalah akibat dari kutukan membaca sebuah cerita horor yang sudah jelas sengaja dibuat hanya untuk menakut-nakutinya. Maksudku, dia bahkan sudah 18 tahun! Tidakkah bisa ia berpikir lebih logis?

“Kamu hanya termakan sugestimu sendiri. Tidak ada yang namanya teror atau kutukan,” bantahku.

“Tapi semua terasa nyata! Mataku hampir dicungkil!”

“Lihat sekarang. Kamu masih bisa melihat, kan?”

“Iya, sih … tapi, mimpi itu benar-benar ngeri ….”

Masih saja ia bersikeras meyakinkanku kalau apa yang dialaminya semalam seperti bukan sekadar mimpi. Aku berdengus kesal, gregetan rasanya untuk tidak bilang kalau ia terlalu mudah dibodoh-bodohi.

matanya hampir dicungkil karena teror creepypasta yang dibacanya

Matanya hampir dicungkil, pict by canva.com

Monkey Dream, adalah judul creepypasta yang ia kenalkan kepadaku. Sebuah urban legend yang populer di Jepang dan konon dipercayai akan membawa kutukan bagi orang yang membacanya. Ceritanya sederhana, tentang seseorang yang sedang mengalami lucid dream dan bermimpi sedang menaiki sebuah kereta. Hanya saja, hal-hal mengerikan terjadi ketika pengumuman terdengar saat kereta diberangkatkan. Rei bilang, ia mengalami mimpi yang sama persis dengan tokoh utama dalam creepypasta itu. Tapi, saat matanya hampir dicungkil, ia berhasil membangunkan diri. Lalu ia mulai mengatakan kalau semenjak itu ia jadi merasa sangat tidak nyaman dengan bola matanya—yang kemudian baru kusadari kalau sejak pagi, ini sudah kesekian kalinya Rei mengucek-ngucek mata.

“Mataku kayak mau bolong,” ucapnya datar.

Aku ingin mengatakan bahwa ia sedang bercanda, tapi raut wajahnya serius sekali. Membuatku tanpa sadar bergidik ngeri.

“Apa terasa sakit?” tanyaku prihatin.

Rei menggelengkan kepala. “Hanya terasa kosong. Aku mau minta jemput kakakku saja. Kamu gak apa, kan, pulang sendiri?”

“Ya, gak masalah. Lagian, aku juga mau ke perpustakaan dulu, kok, sepulang nanti.”

di perpustakaan, aku membaca creepypasta yang tadi diceritakan teman sebangkuku

Perpustakaan, pict by canva.com

Dan disinilah aku berakhir, alih-alih berkutat dengan tugas karya ilmiahku untuk minggu depan, aku malah membaca creepypasta yang diceritakan Rei pagi tadi. Tak dapat kupungkiri, aku sedikit penasaran. Rei, yang kukenal memang penggila creepypasta, yang sudah membaca puluhan atau mungkin ratusan cerita horor, baru kali ini mengalami mimpi buruk setelah membacanya. Konyol kalau aku bilang aku mulai menganggap Rei tidak bercanda. Mimpi buruk karena teror atau apapun itu, terasa seperti omong kosong. Asumsiku, ia mungkin hanya sedang sensitif dan terlalu terbawa cerita.

Seperti ciri khas creepypasta pada umumnya, cerita Monkey Dream tidaklah panjang. Hanya beberapa ratus kata, dan aku biasanya kuat membaca berpuluh-puluh halaman dalam sekali duduk. Tapi kali ini, entah kenapa mataku terasa berat. Aku bahkan hampir menjatuhkan kepalaku berkali-kali saat membacanya. Mungkin hari ini aku kurang tidur, aku mencoba mengingat-ingat, tapi belakangan ini jam tidurku hampir selalu baik. Menjelang paragraf terakhir, aku sudah terlena dalam kegelapan….

aku terbangun di sebuah stasiun kereta persis seperti yang terjadi dalam creepypasta yang baru saja kubaca

Stasiun kereta yang asing, pict by canva.com

Aku terbangun di sebuah stasiun kereta yang tidak kukenali. Sepertinya ini mimpi, karena seharusnya aku tidak perlu naik kereta untuk sampai ke rumah. Tapi seperti mimpi-mimpi pada biasanya, tak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti alurnya sampai aku terbangun nanti. Jadi, kuputuskan untuk tidak terlalu memikirkan apakah ini sebuah mimpi atau bukan, karena sepertinya kereta yang akan kutumpangi akan segera tiba.

“Kereta akan datang sebentar lagi. Jika Anda menaikinya, Anda akan mengetahui seperti apa rasa takut yang sesungguhnya.”

Begitu suara yang menggema dari speaker pengumuman. Aku mengeryit, rasa-rasanya kalimat itu terdengar familiar. Itu kalimat yang pernah aku dengar di suatu tempat. Tapi, di mana aku pernah mendengarnya?

Tidak ada jeda untukku melamun karena setelah pengumuman itu terdengar, sebuah kereta tiba di stasiun. Dibanding kereta yang biasanya kulihat, kereta ini lebih terlihat seperti kendaraan karnaval. Aku mulai merasa aneh ketika tanpa kusadari kakiku melangkah masuk seolah-olah sudah tahu di mana aku akan duduk.

Kursi-kursi sudah terisi penuh oleh orang-orang yang tampak pucat. Dan seperti patung, tidak ada satupun yang menoleh ke arahku begitu aku melewati mereka untuk sampai ke kursi ketiga dari belakang yang masih kosong—satu-satunya kursi yang tersisa. Entah kenapa, aku merasa kursi itu memang sengaja disisakan khusus untukku.

Melangkah dengan bingung, aku bermaksud menepuk pundak seseorang yang duduk di kursi belakangku untuk mengatakan permisi. Namun, betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa orang itu adalah Rei, dengan wajah pucat pasi dan tatapan penuh trauma. Begitu menoleh ke arahku, ia membelalak.

“Kenapa kamu ke sini?!” tanyanya dengan teriakan tertahan.

Tak sempat menjawab, speaker pengumuman berbunyi untuk mengabarkan kalau kereta akan segera berangkat.

“Aku kembali lagi,” bisik Rei dengan suara yang bergetar. “Mereka bilang, kali ini aku akan mati!”

Aku duduk dengan gelisah.

Ke sini?

Kembali?

Mati?

Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapannya!

Suara dari speaker pengumuman kembali menggema di udara. “Berikutnya, Ikizukuri! Ikizukuri!”

Ikizukuri? Itu hidangan Jepang di mana ikan segar diiris dan disajikan hidup-hidup. Kenapa mereka mengumumkan hal-hal semacam itu? Apa maksudnya?

seperti pada creepypasta yang aku baca, aku melihat orang-orang cebol itu membawa pisau yang tajam

Orang-orang cebol itu membawa pisau yang tajam, pict by canva.com

Lalu dari belakang, suara jeritan terdengar memekikkan telinga. Aku menoleh, melihat empat orang cebol dengan perawakan seperti monyet tengah memegangi seorang pria yang duduk di bangku paling belakang. Kulitnya diiris-iris. Dan semakin memberontak, semakin brutal-lah orang-orang itu memotong-motongnya. Organ dalamnya terurai. Ususnya berceceran di mana-mana. Darah segar mengalir dan muncrat ke segala sisi, tapi anehnya, tidak ada yang bekutik sama sekali. Kulihat semua orang tampak pucat dan panik, tapi begitu pria malang itu mengatupkan mulut, segera wajah semua orang menjadi lebih tenang—seolah tidak pernah terjadi apa-apa di gerbong itu.

Aku sangat syok. Kulihat Rei gemetar hebat. Lalu sekelebatan ingatan tiba-tiba menghantam kepalaku dan memberiku ingatan soal Monkey Dream.

Tempat yang familiar.

Mimpi yang sama persis.

Apa yang telah terjadi?!

“Berikutnya adalah dicungkil.” Pengumuman kembali terdengar, “Dicungkil.”

Tidak sempat terkejut, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, empat orang cebol tadi mendatangi Rei dengan membawa sendok dengan tepi bergerigi. Segera mereka memegangi Rei yang memberontak untuk mencungkil bola matanya. Rei berteriak histeris. Kelopak matanya dibuka paksa. Urat-uratnya ditarik. Dan aku bisa mendengar jeritannya memenuhi ruang kepalaku begitu kedua bola matanya tercungkil sepenuhnya.

Kengerian itu berlangsung dengan cepat sekaligus terasa sangat lambat. Jantungku berdegup kencang sekali. Belum sempat aku mengatur napas, suara pengumuman kembali terdengar.

“Digiling berikutnya.” Pengumuman itu bergema, “Digiling.”

Sial! Ini persis seperti dalam cerita!

Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk sadar kalau aku akan menjadi korban kengerian selanjutnya. Sesuai dengan urutan tempat duduk, ini akan menjadi giliranku. Sekuat mungkin aku berusaha untuk meyakinkan bahwa ini semua hanyalah mimpi dan aku tidak akan berakhir mati di sini. Keempat orang cebol itu menyeringai kepadaku dengan mesin penggiling yang sudah menyala di tangan mereka. Aku semakin panik. Dalam hati aku berteriak keras.

Bangunlah!

Bangunlah!

Ini hanya mimpi!

Ia sangat ketakutan, pict by canva.com

Aku tersentak oleh tamparan pelan di pipi yang ternyata berasal dari tangan penjaga perpustakaan yang sedari tadi berusaha membangunkanku. Pukul lima sore, gerbang sekolah akan ditutup sebentar lagi. Dalam setengah sadar, aku mencoba mencerna kejadian barusan.

Mimpi itu … persis seperti yang diceritakan Rei kepadaku. Tapi aku tidak pernah menyangka akan mengalami mimpi buruk yang sama setelah membacanya. Apakah kutukan itu benar-benar nyata? Sejak awal, aku tidak pernah dan tidak mau percaya pada kutukan atau teror dan hal-hal sejenisnya. Mencoba menepiskan pikiran aneh itu, aku pun membereskan barang-barangku dan beranjak keluar perpustakaan.

Koridor lantai empat sudah sepi dan kukira hanya tersisa aku murid yang masih berada di sekolah. Aku lelah sekali. Mimpi itu terasa sangat dekat dan nyata. Masih terbayang dengan jelas betapa mengerikannya saat-saat bola mata Rei tercungkil keluar dari kelopak matanya. Bahkan suara jeritannya yang serak masih terus beputar-putar menghantui kepalaku.

Aku menggelengkan kepala. Berusaha membuang bayangan itu jauh-jauh.

Berniat untuk menaruh beberapa buku yang tadi sempat kupinjam dari perpustakaan, aku menghampiri loker di dekat tangga sembari merogoh saku untuk mengambil kuncinya. Suasana lorong sangat sunyi, dan aku jadi sedikit merinding. Sambil memutar kunci, aku mencoba bersenandung demi mengusir sepi. Kemudian, saat aku baru saja menarik pintu, sebuah bola mata menggelinding. Keluar tepat dari lokerku.

Spontan aku berjengit mundur dan menutup mulut.

Dari belakang, terdengar suara serak yang mengganggu. “Sekarang, apa kamu akan benar-benar percaya?”

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Hati-hati, kisah yang kamu baca mungkin benar, berwaspadalah! Dapatkan cerita misteri lainnya dari Majalah Sunday.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 148
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?