WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Self Harm: Tidak untuk Diikuti, Namun Perlu Dipahami.

Seperti yang sekilas kita tahu, self harm atau self injury adalah tindakan mencederai diri sendiri dengan berbagai cara, bisa dengan mencakar, menggigit, melukai, menyayat, membenturkan diri ke tembok, menjambak rambut, memakan sesuatu yang berbahaya, dan lain sebagainya. Tindakan ini bisa juga dilakukan dengan cara yang lebih “halus”, yaitu dengan cara melewatkan makan dan minum dalam waktu yang lama, tidak merawat diri sebagaimana mestinya, dan lain sebagainya. 

Bagi pelakunya, tindakan tersebut dianggap sebagai cara untuk mengungkapkan, mengatasi, atau sebagai distraksi dari perasaan, pikiran, atau masalah yang mengganggu pihak tersebut. Tentu saja anggapan tersebut sangat tidak tepat, dan alangkah baiknya kita tidak meniru tindakan yang telah disebutkan di atas, ya!

Perlu kita sadari bahwa sakit secara emosional memang sulit sekali ditahan, jauh lebih sulit dibandingkan dengan menahan sakit secara fisik. Maka dari itu, pelaku self harm melukai dirinya sendiri karena luka secara fisik lebih dapat ditahan olehnya. Selain itu, ada rasa puas tersendiri ketika melihat salah satu bagian dari fisiknya yang terluka. 

Tak heran, tindakan self harm ini dapat dilakukan oleh siapapun yang kita kenal atau bahkan dapat juga dilakukan oleh kita sendiri. Namun lagi-lagi, hal itu tidak dibenarkan dan tidak bisa menjadi alasan untuk melukai diri sendiri ya. It’s a big NO!

Faktanya, menyakiti diri sendiri nggak selamanya dapat membuat kita terdistraksi atau teralihkan dari rasa sakit emosional yang kita rasakan. Selalu ada konsekuensi yang dapat kita terima setelahnya. Konsekuensi terburuknya adalah tindakan self harm dapat menjadi siklus yang justru akan sulit ditinggalkan, menjadikan kita berputar-putar dalam lingkaran setan yang mengerikan.

Singkatnya siklus itu bisa terjadi seperti ini:

Sakit secara emosional ➤ Perasaan emosional meluap-luap ➤ Self harm ➤ Rasa lega sementara ➤ Rasa malu atau bersalah ➤ Sakit secara emosional, dan berputar kembali pada fase setelahnya 🔃

Sebenarnya banyak cara untuk mendistraksi diri dari rasa sakit emosional selain menyakiti diri sendiri. Dan jika sudah terpicu untuk melakukan tindakan itu, banyak cara juga untuk menghindari dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Semua kembali pada diri kita, ingin memilih cara yang mana. 

Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menyadari dengan penuh bahwa tidak semua hal dapat kita atur, maka memaafkan diri sendiri dan mengakui bahwa kita bukan merupakan makhluk sempurna adalah pilihan yang bijaksana.

Selain itu, kita juga perlu mengekspresikan dan mengungkapkan semua yang mengganggu pikiran kita. Bisa dengan berbicara pada seorang teman atau sekadar berteriak sendiri, apapun boleh dilakukan asal tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Perlu diingat juga, menyakiti diri sendiri bukan sebuah tren, bukan juga hal yang boleh diikuti. Tidak ada untungnya untuk iseng dan mencoba-coba ya, Sunners.

Terakhir, jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kecenderungan untuk self harm atau bahkan sudah terlanjur memasuki siklus menyakiti diri sendiri yang berputar-putar, jangan ragu untuk menghubungi dan meminta bantuan profesional ya, karena kamu sangat berharga!

 

Ditulis oleh: Dewi Sulistia, Universitas Negeri Jakarta.

Leave A Comment