Majalah Sunday

Sejarah Panjang Palestina-Israel:
Menanggapi Konflik sebagai Anak Bangsa

Penulis: Imani – UNJ

Sunners, akhir-akhir ini pasti sering terdengar di telinga kalian konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Konflik tersebut menimbulkan banyak sekali perdebatan di masyarakat dunia, baik dari masyarakat sipil maupun para pemimpin negara. Lantas, bagaimana cara kita sebagai anak bangsa untuk menyikapinya?

Membahas sejarah panjang hubungan Palestina dan Israel

Palestina dan Israel merupakan dua negara yang saling terhubung dan selalu berlawanan. Ada sejarah panjang di baliknya yang akan dibahas secara garis besarnya dalam artikel ini. Simak ya!

Imigrasi orang-orang Yahudi Eropa ke Palestina tahun 1800-an akhir

palestina israel
Orang-orang Yahudi datang ke Palestina pada abad ke-19, pict by wikipedia.com

Jauh sebelum negara Israel terbentuk, Palestina merupakan sebuah negara yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman dengan mayoritas penduduknya adalah orang-orang Arab. Orang-orang Yahudi pada saat itu adalah penduduk minoritas di Palestina.

Pada era yang sama, tahun 1880-an menjadi era kegelapan bagi orang-orang Yahudi di mana banyak di antara mereka menjadi korban dari anti-semitism di Eropa dan Rusia. Oleh karena itu, banyak orang Yahudi yang melakukan imigrasi ke Palestina. Alasannya ialah karena berdasarkan kepercayaan Yahudi untuk kembali ke Zion, yaitu tanah yang dijanjikan Tuhan yang merupakan Palestina.

Tahun 1800-an akhir sampai tahun 1910-an menjadi era di mana orang-orang Yahudi berbondong-bondong imigrasi ke Palestina. Tentu saja aksi ini menimbulkan pro-kontra di Palestina itu sendiri, karena warga lokal yang merasa kehadiran orang-orang Yahudi ini akan mengacaukan demografi mereka.

Singkatnya, orang-orang Yahudi semakin bertambah populasinya di Palestina. Baik orang Yahudi maupun warga lokal Palestina yang mayoritas bangsa Arab hidup berdampingan, walaupun mereka sendiri tidak bisa dibilang akur hubungannya antar satu sama lain.

Deklarasi Balfour tahun 1917, munculnya negara Israel

Saat Perang Dunia I (1914-1918), Kekaisaran Ottoman Turki memilih untuk menjadi sekutu Jerman yang membuat Kekaisaran Turki berada di posisi yang berbeda dengan Prancis dan Inggris. Di saat yang sama, orang-orang Yahudi yang saat itu sudah membentuk organisasi Zionis, sebuah organisasi yang terbentuk atas ideologi untuk kembali ke tanah Zion, berada di pihak Inggris.

Kekaisaran Ottoman mengalami keruntuhan setelah mengalami kekalahan dengan Inggris, membuat tanah-tanah Timur Tengah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Ottoman jatuh ke tangan Inggris. Pada tahun 1917, Menteri Negeri Luar Negeri Inggris yaitu Arthur James Balfour mengirim surat kepada Lionel Walter Rothschild terkait pendirian rumah untuk orang-orang Yahudi di palestina.

palestina israel
Isi surat Artus James Balfour yang dikenal sebagai "Deklarasi Balfour", pict by wikipedia.com

Surat Arthur James Balfour untuk Lionel Walter Rothschild dikenal dengan nama “Deklarasi Balfour”. Sejak deklarasi ini terbit, ada kurang lebih 100 ribu orang Yahudi yang berimigrasi ke Palestina. Lagi-lagi hal ini membuat hubungan antara warga lokal Palestina dengan para imigran semakin memanas, ditambah jumlah imigran Yahudi yang semakin melonjak.

Ibaratnya, kamu dan keluarga kamu tinggal di sebuah rumah dengan salah satu kerabatmu. Seiring berjalannya waktu, kerabatmu juga turut mengajak anggota keluarganya satu per satu untuk ikut tinggal di rumah kamu sampai di titik keluarga kamu memperdebatkan kepemilikan rumah kamu dengan kerabat yang kamu tampung itu.

Begitulah kurang lebihnya ilustrasi hubungan antara warga Palestina dengan imigran Yahudi.

Pembagian tanah untuk orang Yahudi dan orang Arab

palestina israel
Pembagian tanah Palestina oleh PBB sesuai Resolusi 181, pict by wikipedia.com

Belum sampai kita membicarakan zaman di mana negara Israel sudah terbentuk. Pada tahun 1945-1947, terjadi The Holocaust di mana Nazi melakukan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di Jerman. Saat itu, Palestina sendiri masih berada di bawah kekuasaan Inggris yang mengizinkan orang-orang Yahudi untuk berimigrasi ke Palestina.

Ada banyak orang Yahudi dari Jerman yang datang ke Palestina, meminta pertolongan warga lokal untuk menampung mereka karena mereka terusir dari negerinya sendiri. Warga Palestina membantu orang-orang Yahudi tersebut, ada yang sukarela dan adapula yang mau tidak mau membantu mereka.

Sampai pada saat itu, ada sekitar 33% orang Yahudi yang tinggal di Palestina, sedangkan jumlah tanah yang mereka miliki perlahan sudah tidak bisa menampung orang Yahudi yang semakin banyak. PBB menawarkan solusi berupa Resolusi 181, di mana Palestina akan dijadikan sebagai negara Arab dan Yahudi. 

Pembagian tanahnya pun setengah untuk orang-orang Yahudi dan setengahnya untuk orang-orang Arab, sedangkan untuk Kota Yerusalem dan Betlehem berada di bawah PBB. Hal itu ditolak oleh warga Palestina, karena saat itu Yahudi sendiri masih menjadi minoritas di Palestina, ditambah warga Palestina mendapatkan wilayah yang kurang subur.

Terbentuknya negara Israel dan peristiwa Nakba 1948

palestina israel
David Ben Gurion adalah Perdana Menteri pertama Israel, pict by wikipedia.com

Tanggal 14 Mei 1948 menjadi hari di mana Inggris sudah melepas tangan atas kekuasaannya di Palestina. Pada tahun yang sama, David Ben Gurion selaku salah satu tokoh Zionis mendirikan negara Israel di atas tanah yang saat itu masih menjadi milik Palestina. Dalam deklarasi tersebut, tidak disebutkan tentang batas-batas negara Israel karena sudah pasti akan ditolak oleh negara-negara Arab lainnya. David Ben Gurion ini nantinya akan menjadi Perdana Menteri pertama Israel.

Pecahlah perang antara Israel dan negara-negara Arab untuk mempertahankan kepemilikan tanah Palestina ini. Warga Palestina tentu saja menjadi korban yang paling banyak dirugikan di sini. Ada sekitar 750.000 orang Palestina terusir dari tanahnya yang saat itu sudah diambil alih oleh Israel.

Peristiwa pengusiran warga Palestina kita kenal saat ini dengan nama peristiwa “Nakba” tahun 1948. Nakba sendiri diambil dari bahasa Arab yang berarti kehancuran. Wilayah Palestina juga terus diakuisisi oleh Israel seiring berjalannya waktu, hingga tersisa wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat (West Bank).

Kondisi hubungan Palestina dan Israel saat ini

7 Oktober 2023, mungkin Sunners sendiri seringkali mendengar tanggal ini dibahas di berbagai media sosial. Pada tanggal itulah Hamas, partai politik dan organisasi perlawanan Palestina, meluncurkan roketnya di Tel Aviv, Israel. Saat itu, iron dome Israel yang berfungsi untuk menahan serangan dari udara gagal menahan serangan Hamas ini.

Tentu saja Israel juga membalas serangan Hamas sebagai bentuk perlawanan mereka dengan mengirimkan serangan ke Gaza. Hanya saja, yang patut dipertanyakan adalah Israel juga menyerang wilayah Tepi Barat, yang mana di wilayah tersebut tidak ada Hamas sama sekali. Berbicara tentang korban, tentu saja tak terhitung jumlahnya.

Serangan Hamas 7 Oktober 2023 menyebabkan 1.200 warga sipil Israel tewas dan 4.562 orang luka-luka. Sedangkan, serangan balasan Israel ke Gaza mengakibatkan kurang lebih 11.000 orang tewas. Baik bayi, anak-anak, orang dewasa, dan orang lanjut usia menjadi korban dan jumlahnya akan terus bertambah mengingat saat ini Israel masih menolak untuk melakukan gencatan senjata.

Sebagai anak bangsa Indonesia, kita harus bagaimana?

palestina israel
Sebagai anak bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kemanusiaan, bagaimana sebaiknya kita menyikapi konflik Palestina-Israel? Pict by canva.com

Setelah berbicara panjang tentang sejarah konflik Palestina dan Israel, sebagai masyarakat kita memang tidak bisa berbuat banyak selain melakukan donasi dan mengirimkan doa untuk para korban. Tapi, kemanusiaan kita juga akan dipertanyakan loh Sunners.

Konflik antara Palestina dan Israel sendiri sudah tidak hanya mencakup soal konflik keagamaan saja, tetapi juga terkait isu kemanusiaan. Anak-anak yang masih belum lama menghabiskan waktunya di dunia pun tak luput menjadi korban konflik panjang ini.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi HAM, Indonesia mengecam perbuatan Israel dan meminta Israel untuk segera melakukan gencatan senjata. Jika perang ini terus berlanjut, korban yang merupakan warga tidak bersalah akan terus bertambah banyak seiring berjalannya waktu.

Sebagai individu, keputusan apakah Sunners mau mendukung siapa dan kenapa, semuanya kembali ke diri masing-masing. Tapi perlu diingat kembali, bahwa konflik antara Palestina dan Israel bukan hanya sekadar konflik keagamaan ya. Konflik Palestina dan Israel sudah mencakup isu hak asasi manusia yang seharusnya didapatkan oleh seluruh warga yang terdampak.

Jadi, gimana pendapat kamu?

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 125
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?