Majalah Sunday

Santet Sewu Dino Dalam FIlm Sewu Dino:
Ulasan Salah Satu Film Terlaris Di Indonesia

Penulis: Abdul Aziz – UNJ

“Santet Sewu Dino merupakan suatu tindakan spiritual yang tidak bisa dianggap remeh. Selain berisiko mengundang bencana, ketidakberhasilan dalam memenuhi syaratnya dapat berdampak fatal bagi generasi yang akan datang.”

Masyarakat jawa mungkin sudah tidak asing lagi dengan budaya santet, santet sudah berkembang di pulau jawa sejak peristiwa pembantaian dukun santet di banyuwangi 1996, tapi kalian tau nggak sih film horor sekarang banyak banget yang mengambil adaptasi dari kepercayaan masyarakat jawa, tidak terkecuali juga dengan kepercayaan santet. Salah satu film yang membahas budaya santet adalah sewu dino, disini mimin akan spill sedikit banyaknya hubungan budaya santet yang melekat pada film sewo dini sebagai salah satu film horor terlaris di indonesia.

Bentuk Kekuasaan Ritual Santet Dalam Novel Sewu Dino

“Mulai saat ini kau adalah hambaku dan dengan ini kontrak kita akan direstui, tunaikan tugasmu maka akan ku tunaikan bagian ku, kau tidak boleh menghianatiku karena nyawamu sudah tergadai di dalam tanganku”

Itu adalah salah satu mantra yang terdapat dalam film sewu dino, mantra ini digunakan oleh mbah karsa untuk mengikat Sri sebagai hambanya atau budaknya yang berarti miliknya. Ujaran ini juga sebagai bentuk ancaman kepada Sri agar tidak mengkhianatinya.

Santet sewu dino

“Manungso ing dunyo iku sebab ono perkoro.
Rungokno wahai penghuni dunyo,
Iki musabab aku ngabdi nang ndoro,
Trah anom sing agung.”

Selain itu terdapatmantra lain yang terdapat mantra lain yang diucapkan Sri kepada roh jahat agar tidak mengganggunya, pada ujaran tersebut seri meminta dengan kerendahan hati agar roh jahat (setan) itu untuk mengizinkannya melakukan tugasnya. Karena Sri dalam film ini konteksnya sri adalah seorang pembantu atau pesuruh yang bekerja untuk merawat Dela yang terkena kutukan santet Sewu Dino.

Kalian tau nggak sih? Santet sewu dino adalah salah satu santet yang mematikan, karena korbannya akan menderita selama 1000 hari sebelum dia meninggal dan yang lebih parah dia harus dijaga dan dimandikan oleh orang lain yang memiliki hari lahir di malam jumat kliwon, jika tidak korban santet itu akan marah dan memangsa keluarga lainnya. Tapi perlu diketahui, santet sewu dino juga memiliki resiko yang besar, jika santet ini gagal maka seluruh keturunan yang menyantet akan mengalami kesialan tanpa bisa dihentikan.

Nah itu adalah sedikit informasi tentang budaya santet yang terdapat pada film sewu dino, gimana? Gerem bukan? Kamu suka nonton film genre horror? Sudah nonton film Sewu Dino? Mimin mau spill tipis-tipis nih review dari film Sewu Dino.

Santet sewu dino

Adaptasi dari Novel yang Dibilang Gagal

Setelah menonton film “KKN Di Desa Penari” (2022), yang terasa memiliki perbedaan signifikan dalam alur cerita dibandingkan dengan novel maupun threadnya, saya berharap film ini dapat memberikan banyak kejutan. Terutama dengan Kimo Stamboel sebagai sutradara, harapannya adalah bahwa unsur gore dalam film ini akan lebih mengguncang. Namun, setelah menyaksikan filmnya, saya merasa sangat terkejut. Alur cerita dalam versi film ini terasa sangat berbeda, bahkan dari adegan pembuka saja sudah jauh berbeda. Awal film menceritakan Sri yang mendapatkan pekerjaan setelah ia secara tidak sengaja tertabrak oleh Sugik, dan akhirnya bertemu langsung dengan Mbah Karsa Atmojo. Sedangkan dalam novel, Sri mengikuti wawancara dengan Lidya sebelum akhirnya bertemu dengan Karsa Atmojo.

Perubahan alur ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, karena hal semacam ini sudah menjadi kebiasaan MD Pictures, yaitu mengubah cerita aslinya dengan menciptakan cerita baru yang pada akhirnya dapat merusak esensi cerita asli. Secara jujur, saya merasa bahwa adaptasi yang ditulis oleh Agasyah Karim dan Khalid Khasogi tidak berhasil bagi saya. Terlebih lagi, “Sewu Dino” (2023) adalah tipe film yang berjalan lambat, sehingga saya harus menantikan ketegangan hingga akhir film. Harapan saya pada Kimo Stamboel juga terasa sia-sia, karena unsur gore dalam film ini terasa biasa saja. Jika dibandingkan dengan “Ratu Ilmu Hitam” (2019), saya merasa Kimo Stamboel kurang memukau dalam film ini. Terutama adegan final antara Sri dan Sabdo Kuncoro terasa kurang menggetarkan. Versi novelnya jauh lebih mengerikan dan mendebarkan daripada versi filmnya yang terasa biasa saja.

Banyaknya Adegan dan Pemeran yang Dihilangkan

Sejumlah perubahan terjadi dalam adaptasi film “Sewu Dino” (2023), yang mengecewakan penggemar setia novel dan wreadernya. Salah satu perubahan yang mencolok adalah penghilangan adegan ketika Mbah Tamin menyadari bahwa Erna adalah mata-mata dari kelompok musuh. Selain itu, plot di mana Erna mencoba membunuh Sri dengan memanggil Sengarturih juga dihilangkan sepenuhnya. Bahkan, film ini juga menghapus plot di mana Sri, Dini, dan Della dibawa ke Rumah Joglo, tempat kelahiran Della Atmojo, untuk upacara 1000 hari, menggantinya dengan rumah di tengah hutan. Saya memahami bahwa pemangkasan plot mungkin dilakukan untuk memaksimalkan durasi film, tetapi yang paling mengecewakan adalah pemotongan peran Mbah Tamin.

Dalam novel dan thread, Mbah Tamin digambarkan sebagai sosok tangan kanan Karsa Atmojo, yang memiliki peran penting dalam mengantarkan rahasia-rahasia penting tentang keluarga Atmojo dan santet sewu dino. Sayangnya, dalam film, karakter Mbah Tamin tampak dianggap tidak penting, muncul hanya di awal dan akhir cerita. Padahal, karakter Mbah Tamin dalam novel ini sangat berperan sebagai ‘delivery man’. Kimo Stamboel, sutradara film, tampaknya lebih memfokuskan perhatiannya pada karakter Dini daripada memperkuat peran Mbah Tamin. Akibatnya, kengerian santet 1000 hari dalam film ini terasa kurang maksimal karena sang ‘delivery man’ dihilangkan dari plot.

Sinematografi yang Kurang Maksimal

Santet sewu dino

Untuk pertama kalinya, saya merasa tidak puas dengan pengalaman menonton film arahan Kimo Stamboel, yaitu “Sewu Dino” (2023). Saya sangat mengharapkan untuk melihat adegan berdarah yang sadis, namun yang saya temukan adalah film horor biasa yang tidak memenuhi ekspektasi saya. Saya merasa kehilangan ciri khas yang biasanya menjadi tanda tangan Kimo Stamboel dalam karyanya. Saat saya menilai kualitas film ini, yang diambil sebagai latar tahun 2003, unsur tradisional dan kleniknya tidak terasa kuat seperti yang saya harapkan. Rumah Karsa Atmojo juga terasa kurang megah dan kurang mencerminkan nuansa tradisional. Selain itu, unsur klenik dan ritual yang digambarkan dalam film terasa kurang hidup, terutama di bagian klimaksnya. Dalam novel, adegan di mana Sri, Dini, dan Della dikirim ke alam sukma pada malam sewu dino digambarkan dengan sangat intens, termasuk adegan menggorok leher sapi. Namun, di dalam film, adegan ini digantikan dengan adegan yang kurang memuaskan.

Masalah sinematografi juga muncul, dengan beberapa pergerakan kamera yang membuat penonton merasa pusing. Unsur horor dalam film ini tampaknya hanya mengandalkan efek hujan dan petir, sementara pemilihan set tampak monoton dan kurang menarik. Selain itu, efek visual yang digunakan untuk karakter Sengarturih terasa kurang matang, meskipun berhasil mengejutkan penonton. Gambaran kuyang Sengarturih dalam “Sewu Dino” (2023) juga terlihat seperti sosok hantu dalam film-film horor awal 2000-an. Jika dibandingkan dengan film “Inhuman Kiss” (2019) asal Thailand yang menampilkan hantu serupa, Sengarturih dalam film Kimo Stamboel jelas kalah dalam hal kualitas visual. Selain itu, adanya ketidak konsistensian dalam detail-detail kecil, seperti luka dan darah yang hilang secara tiba-tiba dalam berbagai shot kamera, juga merupakan gangguan dalam pengalaman menonton film ini.

Penokohan Aktor yang Kurang Tepat

Saat meninjau film “Sewu Dino” (2023), ada beberapa aspek yang saya rasakan kurang memuaskan. Salah satu hal yang membuat saya merasa kurang puas adalah skor musiknya. Bagi sebagian orang, tata musik yang disusun oleh Ricky Lionardi terasa intens dan tegang. Musik orkestra yang digunakan dalam film ini dapat memberikan ketegangan, tetapi sayangnya, gaya musik seperti itu mungkin kurang sesuai sebagai latar belakang untuk cerita film yang berkisah tentang santet kuno di Jawa Timur. Film ini seharusnya menggambarkan nuansa tradisional, namun tidak ada penggunaan musik gamelan dalam setiap adegan ritual. Sebaliknya, film ini lebih cenderung menggunakan gaya musik yang mirip dengan “The Conjuring” (2013) dan “Insidious” (2010).

Kemudian, dalam hal karakter yang ada dalam film “Sewu Dino” (2023), satu-satunya hal yang mencolok bagi saya adalah interpretasi Karsa Atmojo. Dalam novel, Karsa Atmojo digambarkan sebagai sosok wanita yang anggun dan karismatik, mengenakan kacamata tebal, berkebaya, dan sanggulnya. Matanya tajam, tetapi mampu membuat orang yang diajaknya berbicara terpesona dan merasa nyaman. Namun, dalam versi film, Karina Suwandi memerankan karakter Karsa Atmojo dengan wajah yang penuh borok, sehingga kesan anggun dan karismatiknya hilang. Tidak ada nuansa wanita tua dengan kekuatan spiritual yang menakutkan. Sebaliknya, karakter Sabdo Kuncoro yang diperankan oleh Marthino Lio terasa lebih sesuai dengan deskripsi dalam novel. Karakter Della Atmojo yang diperankan oleh Gisellma Firmansyah juga cukup memuaskan, meskipun beberapa detailnya mungkin kurang pas.

Santet sewu dino

Nah, Sunners. Di atas adalah review film Sewu Dino menurut pandangan Mimin. Bagimana menurut pandangan Sunners? Kalau sudah nonton boleh banget cerita sama mimin ya, hehehe

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Hati-hati, kisah yang kamu baca mungkin benar, berwaspadalah! Dapatkan cerita misteri lainnya dari Majalah Sunday.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 214
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?