Majalah Sunday

Cinta yang Mekar

Penulis: Moses Robinsar – Universitas Kristen Indonesia

Di tengah hari yang berkilauan, menyinari sepanjang perumahan. Namun, terdapat perasaan yang tidak nyaman menggantung didalam salah satu kediaman.

Amelia adalah seorang gadis muda yang selalu berjiwa bebas. Pada usia tujuh belas tahun, impiannya tak ada batasnya, dan cita-citanya membumbung tinggi bagaikan elang yang berputar tinggi di atas kota kecil di pedesaannya. Dia dikenal karena rambut merahnya yang indah dan kegemarannya pada petualangan. Namun pada suatu hari di musim panas yang menentukan arah hidupnya berubah secara tak terduga

Orang tua Amelia mengumpulkannya di ruang tamu yang muram, tempat kerlap-kerlip lampu minyak tanah menciptakan bayangan menari di lantai kayu yang sudah usang. Ekspresi mereka serius, dan ayahnya berdehem dengan gugup.

“Amelia, ada yang perlu kami bicarakan.” Ujar Ayahnya Amelia, membuka mulutnya pertama untuk memulai percakapan mereka.

Amelia bertukar pandang bingung dengan adik laki-lakinya, Jake, yang duduk di sampingnya. Dia merasakan perasaan tenggelam di dadanya.

“Sayang, ibu dan ayahmu sudah sepakat untuk menikahkanmu..” Dilanjutkan oleh Ibunya Amelia

Jantung Amelia berdetak kencang. Dia tidak bisa mempercayai telinganya. Pernikahan dini? Dia hanyalah seorang remaja, penuh dengan impian berkeliling dunia, menulis novel, dan menemukan jalannya sendiri.

“Pernikahan? Tapi umurku baru tujuh belas tahun! Ada banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidupku!” Ujar Amelia yang terkejut.

Ayahnya dengan enggan mengangguk, matanya dipenuhi penyesalan. “Kami mengerti rasa frustrasimu, Amelia. Tapi begitulah yang dilakukan keluarga kami selama beberapa generasi. Kami yakin ini demi masa depanmu.”

Amelia merasa terjebak. Dia selalu mencintai orang tuanya, menghormati tradisi mereka, tapi ini… ini adalah sesuatu yang tidak bisa dia terima tanpa perlawanan.

Amelia, yang ingin menentang tindakan tersebut berakata:  “Aku tidak akan menikah dengan orang yang belum pernah kutemui, Ayah! Aku tidak bisa menyerah begitu saja pada impianku.”

Ibunya meletakkan tangan yang menenangkan di bahunya. “Kami tahu ini sulit untuk dipahami sekarang, sayang. Tapi kami telah memilih seseorang yang kami yakini akan menjadi mitra yang baik untuk kamu.”

Pikiran Amelia berpacu. Dia tahu orang tuanya menyayanginya, tapi dia tidak bisa membayangkan hidupnya ditentukan oleh mereka. Mimpinya terasa seperti lolos dari jemarinya seperti butiran pasir.

Kakak Jake mendekati kakak perempuannya. “Amelia, jangan khawatir. Kita akan memikirkan ini bersama-sama.”

Amelia berhasil tersenyum lemah, bersyukur atas dukungan adiknya. Dia harus mengambil keputusan yang sulit, dan dia tahu bahwa masa depannya tergantung pada keseimbangan.

Pict by canva.com

Hari-hari Amelia berubah menjadi angin puyuh emosi, pikiran, dan keputusan. Beban pernikahan usia dini yang akan datang membebani dirinya, seperti awan badai yang menghalangi matahari. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa mimpinya semakin menjauh.

Minggu-minggu berlalu, dan hari pertemuannya dengan calon suaminya semakin dekat. Amelia memutuskan untuk mencari ketenangan di tempat favoritnya, sebuah hutan kecil yang tersembunyi di tepi hutan, tempat ia sering menyendiri untuk berpikir.

Saat dia duduk di bawah sebuah pohon, dedaunan bergemerisik tertiup angin, Amelia memikirkan mimpinya, kemandiriannya, dan masa depan yang dia impikan. Dia tahu dia tidak bisa menerima nasibnya begitu saja; dia perlu mempunyai suara dalam hidupnya sendiri.

Dengan tekad baru, Amelia memutuskan untuk berbicara jujur dengan orang tuanya. Dia tahu itu tidak mudah, tapi itu perlu. Suatu malam, dia menemukan orang tuanya berada di ruang tamu yang remang-remang tempat mereka menyampaikan berita tentang pernikahannya yang akan datang.

Dengan tegasnya, Amelia berkata; “Ibu, Ayah, aku tidak bisa menjalani pernikahan ini tanpa ikut campur! Aku ingin bertemu orang ini dan memastikan kita cocok sebelum mengambil keputusan yang mengubah hidup.”

Mendengar itu, orangtuanya bertukar pandangan khawatir. “Amelia, ini bukan cara kami melakukan sesuatu, tapi kami mencintaimu, dan kebahagiaanmu penting bagi kami. Kami akan mengatur pertemuannya.”

Amelia merasakan secercah harapan. Kesediaan orang tuanya untuk mempertimbangkan perasaannya sangat berarti baginya.

Beberapa hari kemudian, Amelia bertemu calon suaminya, Thomas, di hadapan orang tuanya. Dia adalah seorang pemuda yang baik hati, bertutur kata lembut, dan matanya lembut. Mereka berbicara tentang impian mereka, hobi mereka, dan cita-cita mereka. Meski minat mereka berbeda, Amelia menemukan rasa pengertian dan hormat di antara mereka.

Minggu-minggu berlalu, Amelia dan Thomas menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Mereka berbagi cerita, mengeksplorasi minat yang sama, dan secara bertahap semakin mengenal satu sama lain. Amelia mengetahui bahwa Thomas juga menyukai perjalanan, dan Thomas mendukung impiannya menjadi seorang penulis.

Suatu malam, saat berjalan-jalan di tepi sungai, Thomas menggandeng tangan Amelia. “Amelia, aku tahu ini bukan yang kita berdua harapkan, tapi aku yakin kita bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Mari kita saling mendukung impian satu sama lain dan membangun kehidupan bersama yang kita berdua hargai.”

Hati Amelia menghangat saat menatap mata Thomas. Dia menyadari bahwa mungkin mimpinya tidak memudar tetapi berkembang menjadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa dia bangun bersama orang yang dia rawat.

Pict by canva.com

Ketika minggu berganti bulan, ikatan Amelia dan Thomas semakin dalam. Apa yang awalnya merupakan pernikahan kini terasa seperti kemitraan yang ditempa dalam pengertian dan saling menghormati.

Impian Amelia untuk menjadi penulis dan berkeliling dunia belum pudar; sebaliknya, mereka telah menjadi impian bersama dengan Thomas. Dia mendorongnya untuk mengejar hasratnya dalam menulis dan bahkan menyarankan agar dia memulai sebuah blog untuk berbagi pengalaman dan cerita.

“Thomas, aku tidak percaya betapa kamu mendukung impianku! Aku merasa bisa mencapai apa pun dengan kamu di sisiku.” Ujar Amelia kepada suaminya, merasa sangat bersyukur.

“Impianmu adalah milikku sekarang juga, Amelia. Dan aku harap kamu akan berada di sisiku saat aku mengejar kecintaanku pada seni.” Thomas selalu bermimpi membuka sebuah studio seni, tempat di mana dia dapat berkreasi dan berbagi karya seninya dengan dunia. Dengan dukungan dan dorongan dari Amelia, mereka memutuskan untuk mewujudkan impian tersebut.

“Ayo kita lakukan, Thomas! Ayo buka studio senimu. Aku akan membantumu di setiap langkah!” Bersama-sama, mereka mulai merencanakan, menabung, dan mencari lokasi yang tepat. Itu tidak mudah, namun tekad bersama mendorong upaya mereka.

Blog Amelia mulai mendapatkan popularitas, menarik pembaca dari seluruh dunia. Karir menulisnya mulai melejit, dan dia diundang untuk bepergian dan menulis tentang pengalamannya. Dengan studio seni Thomas yang akan segera hadir, kehidupan mereka bersama penuh dengan kegembiraan dan janji.

Pernikahan usia dini mereka, yang sempat dianggap sebagai hambatan berat, kini berubah menjadi landasan kuat bagi impian dan cita-cita mereka. Mereka saling mendukung upaya satu sama lain dan merayakan keberhasilan satu sama lain.

Suatu malam, saat mereka berdiri di depan sanggar seni yang baru dibuka, Thomas dan Amelia saling berpandangan, mata mereka dipenuhi rasa bangga dan cinta. “Amelia, aku tidak bisa melakukan ini tanpamu. Kamu adalah inspirasiku, dukunganku, dan cintaku.” Ujar Thomas dengan senyuman yang hangat.

“Dan kamu, Thomas, kamu adalah inspirasiku, rekanku, dan batu karangku.” Jawab Amelia, dengan senyuman sehangat seperti Thomas.

Perjalanan mereka yang tidak biasa telah membawa mereka ke tempat di mana mereka dapat benar-benar mengatakan bahwa cinta dan kemitraan mereka dibangun atas dasar keinginan mereka sendiri. Mereka telah mengubah pernikahan usia dini ini menjadi sesuatu yang indah dan unik bagi mereka.

 

*****

Menjelang usia yang semakin dewasa, Amel telah menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Ia pun diajarkan kembali mengenai budaya dari keluarganya, mengenai perjodohan yang kerap terjadi turun temurun. Orang tua Amel pun mengatakan, “Mungkin budaya ini tidak menarik bagi orang-orang di generasimu. Amel boleh melanjutkannya, tidak pun bukan masalah. Tetapi ingat, ketika kamu ingin mencarikan jodoh bagi anak-anakmu, cermati dengan bijak dan bertanggung jawablah akan pilihanmu.” Amel pun menganggung sembari menggenggam tangan Thomas, “Baik ayah. Kami akan mencoba menjadi orang tua yang baik, sama seperti ayah dan ibu, mohon doa restunya ya.”

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 110
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?