WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Nikah Muda dan Nikah Dini Ternyata Berbeda!

Di zaman sekarang ini, nikah muda tentunya agak familiar bagi beberapa kelompok masyarakat. Tapi sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara nikah muda dan nikah dini. Apa sih perbedaannya? 

Secara definisi nikah muda dipahami sebagai pernikahan yang dilaksanakan di usia muda, yakni sudah mencapai batas usia yang diatur di dalam undang-undang yakni usia 19 hingga 22 tahun. Saat ini banyak kaum muda yang memutuskan untuk menikah muda dengan alasan ingin menghindari perbuatan zina. 

Sedikit berbeda dengan pernikahan dini (pernikahan di bawah umur), di mana pernikahan yang dilakukan di bawah batas usia yang diatur yaitu sekitar umur 18 tahun ke bawah. Dan biasanya pernikahan ini dilaksanakan apabila telah terjadinya kehamilan di luar nikah yang di mana pelakunya tersebut adalah anak yang masih sekolah, atau di bawah batas usia.   

Dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menentukan batas usia bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Namun hal tersebut telah diubah berdasarkan UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan di mana perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. 

Dari definisi di atas dapat disimpulkan perbedaan antara nikah muda dengan nikah dini. Sekilas terlihat memiliki kesamaan namun hal yang menjadi poin pembedanya adalah usia

untuk menikah sebagaimana diatur dalam peraturan sebelumnya.  Kerap sekali menikah di usia muda dipandang sebagai salah satu hal yang kurang tepat sebab secara psikologis anak muda bahkan remaja masih belum mampu dewasa secara emosi dalam menjalankan pernikahan yang memiliki banyak pasang dan surutnya.   

Banyak alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah muda, salah satunya adalah masalah ekonomi yang menghambat dalam melanjutkan pendidikan, sehingga orang tua juga mendukung pernikahan tersebut walaupun anak tersebut belum dewasa secara pemikiran serta belum memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk menjalani kehidupan. Kerap kali orang tua berpikir bahwa masalah akan selesai apabila sudah menikah, dengan alasan anak tersebut sudah ada yang membiayai kehidupannya.

Kenyataannya, hal sebagaimana disebutkan di atas tidaklah sepenuhnya benar. Terdapat beberapa risiko yang dapat dialami apabila memutuskan untuk menikah muda antara lain berpotensi menimbulkan gangguan psikologis. Studi menyebutkan bahwa anak yang dipaksa nikah muda berisiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan mental, baik itu gangguan kecemasan, stres, atau depresi.  Komplikasi kehamilan pada ibu, melahirkan di usia muda berisiko untuk menyebabkan terjadinya preeklamsia maupun anemia. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi serius seperti eklamsia yang berakibat fatal, bahkan kematian pada ibu dan bayi. 

Dari sisi lelaki, hal ini menyangkut masalah ekonomi dikarenakan belum ada kesiapan secara mental dalam menanggung nafkah dan berperan sebagai suami dan ayah. Sehingga lingkaran kemiskinan baru dalam kehidupan bermasyarakat pun tercipta. Hal ini juga dapat memicu terjadinya kekerasan rumah tangga dikarenakan emosi mereka belum cukup mapan dibandingkan orang-orang yang telah berusia 25 tahun ke atas yang cenderung memiliki emosi yang stabil. Tak hanya itu, studi menunjukkan bahwa wanita yang menikah muda, apalagi berusia di bawah 18 tahun, akan lebih rentan mengalami kekerasan seksual dari pasangannya. 

Selain itu sebuah studi menunjukkan bahwa kemungkinan untuk bercerai pada pasangan yang menikah di usia kurang dari 20 tahun adalah 50 persen lebih tinggi dibandingkan pasangan yang menikah di usia 25 tahun ke atas. Studi lainnya menunjukkan fakta yang tak jauh berbeda, yaitu pasangan yang menikah muda memiliki risiko 38% untuk bercerai setelah menjalani masa lima tahun pernikahan.

Hal ini sebaiknya menjadi pertimbangan yang serius sebelum memutuskan untuk menikah muda. Ada baiknya kamu terlebih dahulu untuk memahami risiko sebelum memutuskan untuk menikah serta memahami cara untuk menyelesaikan permasalahan yang mungkin timbul dalam kehidupan rumah tangga. 

Dari hal-hal yang disebutkan di atas dapat kita simpulkan bahwa menikah muda tidak akan menjamin akan menyelesaikan masalah yang ada, sebaliknya berpotensi menimbulkan masalah baru. Khususnya untuk Sunners, pergunakan kesempatan yang ada, kejar mimpi setinggi-tingginya dan gapai masa depan.

By: Lois Ernike Hutabarat-Universitas Kristen Indonesia 

Leave A Comment