WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Mitos VS Real Life Perkuliahan, Apa Aja Sih?

Sunners, nggak kerasa ya bentar lagi akan mulai tahun akademik baru. Jangan-jangan kamu calon-calon Maba alis mahasiswa baru? Kenali dulu yuk realitas dunia kampus supaya kita nggak shock pas jadi maba. Sunny bagi empat kategori nih perihal dunia perkuliahannya, simak yuk!

1.Kampus

  • Kampus Ternama Menjamin Masa Depan Cemerlang

Bener nggak sih? Faktanya, nggak ada jaminan loh kuliah di kampus terkenal berarti menjadi orang sukses di masa depan. Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta sama saja kok. Bukan kampusnya yang menentukan, melainkan sikap dan karakter kita selama menjalani perkuliahan yang menjadi penentu kesuksesan kita.

2. Jurusan Kuliah

  • Jurusan kuliah menentukan karir

Kebanyakan orang akan berpikir, tujuan memilih suatu jurusan untuk bekerja sesuai bidangnya. Masuk psikologi karena mau psikolog. Mau jadi dokter ya masuk kedokteran. Nggak salah kok, tapi bukan sebuah kepastian dan keharusan juga. Sebab nyatanya sebagian mahasiswa juga bekerja bukan pada bidang yang dipelajari di perkuliahannya.

  • Jurusan soshum terhindar dari hitung-hitungan

Siapa nih yang kurang suka dengan pelajaran hitung-hitungan? Siapa juga yang sudah punya niat ambil jurusan soshum biar lepas dari hitung-hitungan? Eh, jangan salah! Walaupun terkesan mengandalkan hafalan, jurusan soshum juga masih nggak bisa melepaskan diri dari hitung-hitungan. Bahkan jurusan Sastra Indonesia yang kerap menjunjung literasi pun masih berkutat dengan hitung-hitungan saat bertemu materi statistika. Itu loh ilmu yang punya hubungan spesial dengan skripsi nanti.

  • Stereotypes jurusan kuliah

Ada banyak anggapan yang tersebar bilang kalau jurusan sains lebih pinter daripada mahasiswa soshum. Sama halnya anggapan anak IPA lebih ini itu dari anak IPS. Setiap jurusan memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Itu semua cuma stereotip ya Sunners! FYI, menurut A. Samovar & E. Porter, stereotip adalah persepsi atau kepercayaan yang dianut mengenai kelompok atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk. Stereotip muncul karena proses kategorisasi.

3. Mahasiswa

  • Mahasiswa bebas dan santai masuk kelas

Jika dibandingkan dengan masa sekolah, masa perkuliahan lebih santai dan bebas. Di kampus nanti kita nggak akan melihat seseorang yang nggak bisa masuk karena gerbang sudah ditutup. Meski begitu, bukan berarti dunia kampus bebas tanpa batasan ya. Masa kuliah menuntut mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab dan mandiri. Mahasiswa boleh mengambil jatah absen selama masih sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya untuk mata kuliah 2 SKS, biasanya kita punya 3 kali absen.

  • Senior selalu benar

Senioritas di masa sekolah cukup kental terasa. Beruntungnya, masa kuliah tidak mengenal senioritas tetapi relasi adik-kakak tingkat masih memeluk budaya menghormati. Relasi adik-kakak tingkat cukup terjalin dengan baik ditandai dengan kebiasaan pinjam-meminjam buku, catatan, atau kerja sama menyukseskan acara. Bahkan ada loh sebagian kakak tingkat yang mengizinkan adik tingkat menyapa tanpa kata tambahan seperti “kak”. Biar kuliah lebih dulu belum tentu kakak tingkat paling tahu segalanya. Acara diskusi di kampus erat dengan budaya belajar bersama tanpa pandang umur kok. Itu Cuma mitos ya., Sunners.

4. Gap Year Pertanda Masa Depan Suram

Must be a myth! Menunda kuliah karena belum mendapatkan kampus impian atau masalah biaya bukan berarti masa depan suram menanti kita. Gap year memang dipandang sebelah mata karena dianggap lulus tidak tepat waktu dari pakem yang menjadi tradisi.

Gap year tidak lantas menjadikan seseorang gagal meraih masa depan cemerlang. Asalkan waktu kuliah yang ditunda ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Contohnya, Emma Watson. Pemeran Hermione ini memutuskan gap year dan menghabiskan waktunya dengan membaca berbagai buku khususnya bertema feminisme. Hebatnya, aktris 30 tahun ini terpilih menjadi salah satu ambassador PBB.

Related Post :  Cerita Pejuang Gap Year : Gap Year NO Tear

Oleh : Masriah – Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment