WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Menelisik Struggle Si Perfeksionis

Hai hai Sunners! Apa kamu pernah punya teman perfeksionis? Atau kamu sendiri adalah seorang perfeksionis? Coba simak cerita singkat di bawah ini yuk!

Seorang guru seni memberikan tugas kelompok yang dibagi secara bebas asalkan terdiri dari 4 anggota. Namun, terdapat 1 kelompok yang terdiri dari A, B, dan D yang kekurangan 1 anggota. Terlihat pada sudut kelas, terdapat si C yang kesulitan untuk bergabung di tim mana pun padahal C merupakan murid yang cukup pandai dan tugasnya selalu mendapat nilai yang memuaskan. Akhirnya B mengajak C bergabung ke dalam kelompoknya. Selama kerja kelompok berlangsung C terlihat pendiam dan tidak banyak protes. Namun, yang membuat aneh A, B, dan D adalah… C sangat detail saat mempraktikkan langkah-langkah yang dicontohkan oleh guru mereka, ia juga lebih sering mengerjakan tugasnya seorang diri daripada meminta bantuan pada teman sekelompoknya dan juga ia sangat berambisi hasil karya kelompok mereka harus sempurna. 

Dari cerita di atas kita bisa melihat bahwa C adalah gambaran seorang perfeksionis. Di samping kelebihannya yaitu pandai dan selalu mendapat nilai sempurna. Ternyata tidak semua orang nyaman dengan sifatnya yang sangat mengejar ‘kesempurnaan’. Jika ditelisik lebih dalam, mungkin si C juga sangat benci dan menganggap sifatnya ini seperti mimpi buruk. Eh kok bisa?

Tentu saja bisa karena pada dasarnya kita hidup di dunia yang penuh tantangan, kompleks dan fleksibel. Bagi si perfeksionis yang suka dengan hal yang teratur dan cenderung kaku, hal ini dianggap struggle yang lama-kelamaan membuatnya lelah atau kurang stabil. Struggle ini ternyata memiliki dampak internal dan eksternal bagi si perfeksionis. Untuk lebih jelasnya yuk kita bahas lebih lanjut!

  • Dampak Internal

Saat bersama dengan dirinya sendiri, si perfeksionis akan berusaha melakukan sesuatu sesempurna mungkin atau memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras hingga menguras waktu dan tenaganya demi memenuhi tugasnya agar tepat pada waktunya. Jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginannya, ia akan merasa cemas atau bahkan merasa gagal dan hal ini tidak boleh dianggap sepele karena emosi ini dapat membawa si perfeksionis ke penyakit mental yang lebih serius seperti stress atau depresi. Agar dapat menanggulangi kondisi seperti ini, bisa banget nih mencoba salah satu tips yang dilansir dari youngontop.com., yaitu dengan cara berpikir selama 60 detik dengan bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang membuat cemas atau tidak puas, setelah itu cari sebuah solusi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

  • Dampak Eksternal

Seperti yang udah Mimin jelasin di atas, si perfeksionis adalah orang yang suka dengan hal yang teratur dan cenderung kaku. Oleh karena itu, ia mengerjakan pekerjaannya dengan sangat detail dan tak jarang ia terlihat lebih suka mengerjakan tugasnya secara individu meskipun seharusnya itu adalah tugas secara berkelompok. Bukan karena ia anti sosial atau ia tidak suka dengan kamu ya Sunners…. tapi karena standar ‘sempurna’ yang menjadikan harapannya untuk berhasil lebih tinggi daripada orang lain sehingga membuat ia merasa mengerjakan secara tim tidak cukup efisien. Meskipun begitu jangan kucilkan atau menjaga jarak dengan si perfeksionis. Karena mendekati seorang perfeksionis ini tidak sulit kok, tergantung bagaimana cara kita bersikap. Ada baiknya juga kita memberikannya apresiasi ketika ia sudah menyelesaikan bagian dari tugasnya karena dengan begitu ia akan memiliki semangat untuk mengerjakan tugas selanjutnya. Coba juga untuk memahami jalan pikirannya dan jangan meremehkan apa yang sedang ia lakukan. Karena pada dasarnya si perfeksionis ini juga memiliki perasaan yang sensitif.

Nah, itu dia penjelasan mengenai struggle si perfeksionis. Semoga dari penjelasan di atas kalian bisa memahami dan tidak menjauhi si perfeksionis ya.. meskipun ia memiliki struggle tersendiri tapi mereka ini sebenarnya orang yang tepat untuk kita ajak bertukar pendapat karena biasanya mereka mengetahui banyak hal berkat cara berpikirnya lho, Sunners!

Alda Alviani
Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta

Leave A Comment