WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Melatih Public Speaking dengan Cara Ini

“Aku nggak berani bicara di depan. Kamu aja, ya.”

Apakah kamu pernah mengatakan hal tersebut? Sebagian besar permasalahan seseorang, khususnya siswa seperti kamu adalah takut menyampaikan pendapat di muka umum. Padahal sebenarnya mereka sangat ingin memiliki keberanian untuk berbicara di depan orang banyak. Biasanya alasan dari ketakutan itu adalah rasa malu, takut salah bicara, takut dilihat orang banyak, dan demam panggung. Alasan itulah yang membuat mereka kehilangan kesempatan-kesempatan untuk bertanya atau hal-hal positif lainnya. Contoh kecilnya, ketika guru memberikan pertanyaan dan siswa yang menjawab akan ditambah nilai, jika kamu masih takut bertanya maka kamu akan kehilangan nilai tambahan. Rugi, kan?

Think different concept illustration Free Vector

Keterampilan berbicara di depan publik merupakan salah satu kemampuan yang selalu berguna sampai di dunia kerja. Karena hal itulah kamu harus melatih rasa percaya diri agar ketakutanmu hilang. Jika kamu memiliki kemampuan public speaking yang baik, maka kamu tidak hanya mendapatkan keuntungan dari eksternal melainkan juga keuntungan internal. Keuntungan internal yang akan kamu dapatkan berupa kepuasan batin, rasa lega telah menyampaikan pendapat, rasa percaya diri lebih besar, dan berani mengambil hal-hal yang menantang. Tidak perlu mengkhawatirkan kesalahan yang akan terjadi, yakinkan pada dirimu bahwa dengan kamu bicara maka kamu bisa mengetahui kekurangan dan memperbaikinya di lain kesempatan. Kamu sudah hebat ketika berani bicara di depan publik dalam momen kebaikan, karena kamu telah mengalahkan dirimu sendiri.

Lalu bagaimana cara agar memiliki rasa percaya diri berbicara di depan publik? Kemampuan public speaking dapat dilatih ketika kamu mengetahui metode-metode yang bisa digunakan. Kamu bisa memilih salah satu dari metode yang disampaikan Yuyun Ratna dalam kegiatan Telkom PCC Bandung berikut ini:

Business conference, corporate presentation. female speaker flat character with empty speech bubbles. political debates, professor, seminar concept illustration Free Vector

  • Impromtu/AD Libitum

Metode ini disebut juga sebagai metode spontanitas. Biasanya metode ini digunakan secara mendadak tanpa adanya persiapan. Jika kamu berada di posisi untuk memilih metode ini, tidak perlu panik. Tenangkan dirimu dan atur nafas agar kamu bisa berbicara baik di depan publik.

  • Membaca Naskah/Manuskrip

Metode ini biasanya digunakan untuk acara resmi, seperti pidato. Jika kamu menjadi perwakilan kelas atau perwakilan angkatan untuk menyampaikan sambutan, maka kamu bisa menggunakan metode ini. Naskah yang kamu bawa di depan akan membantu kamu untuk mengingat apa saja yang ingin kamu sampaikan. Selain itu, naskah tersebut juga menambah rasa percaya dirimu.

  • Menghafal

Metode ini hampir sama dengan metode manuskrip, bedanya kamu harus benar-benar menguasai isi dari apa yang ingin kamu sampaikan. Karena jika kamu menggunakan metode ini maka kamu tidak membawa naskah ketika berbicara di depan publik. Metode ini membutuhkan ingatan yang kuat mengenai susunan bahasa, ide, dan gagasan yang ingin disampaikan.

  • Menggunakan Note

Metode ini dilakukan dengan menuliskan catatan penting atau garis besar yang akan disampaikan. Kamu hanya perlu membawa secarik kertas untuk melihat topik apa saja yang telah disiapkan. Namun, dengan metode ini kamu harus mengembangkan sendiri inti bahasan atau topik tersebut.

Conference speaker concept illustration Free Vector

Nah, setelah kamu memilih salah satu metode yang akan kamu gunakan ketika berbicara di depan publik, kamu juga harus tau apa saja yang harus diperhatikan saat berbicara di depan publik. Yuyun Ratna juga memberikan beberapa hal yang harus kamu perhatikan, agar pendengar tidak mengabaikanmu. Hal-hal tersebut yaitu intonasi, artikulasi, penekanan kata yang penting, pemenggalan kalimat, kecepatan berbicara, volume suara, berdiri tegak dan yakin, melakukan kontak mata pada pendengar agar komunikatif, dan ekspresif.

 

Penulis: Diana Abdillah – Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment