WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kenali Vaginismus: Vagina Menolak Saat Berhubungan Seksual

Pernahkah kalian mendengar tentang vaginismus? Menurut kalian, apa sih yang dimaksud dengan vaginismus itu? Nah, vaginismus merupakan kondisi dimana seseorang mengalami pengencangan otot-otot di daerah Miss V secara tidak sadar. Pengencangan otot tersebut terjadi karena adanya upaya dalam melakukan penetrasi atau memasukkan sesuatu ke dalam Miss V.

Kok bisa, ya ada orang yang mengalami pengencangan otot seperti itu?

Perlu disadari bahwa hal tersebut merupakan reaksi otomatis dari tubuh yang memungkinkan adanya rasa takut, cemas, merasa buruk, dan adanya trauma sehingga pengencangan atau kejang otot bisa saja terjadi pada vagina.

Tentunya, bagi para pengidap vaginismus akan sulit sekali untuk berhubungan seksual sehingga hal ini bisa menyebabkan kondisi yang menyebabkan rasa sakit luar biasa ketika melakukan penetrasi seksual. Kalian juga perlu tahu bahwa masalah yang terjadi pada pengidap vaginismus tidak hanya terjadi saat berhubungan seksual saja melainkan juga terjadi saat mengecek kesehatan pada vagina. Sebagai contoh, ketika dokter kandungan melakukan pemeriksaan terkait keputihan atau terjadi pendarahan di luar siklus haid yang normal maka dokter kandungan tidak bisa melakukan pemeriksaan tersebut pada vagina.  Mengapa hal itu bisa terjadi? Saat berhubungan seks dengan pasangan, tentunya diperlukan penetrasi seksual dalam hubungan tersebut namun penetrasi tidak hanya terjadi pada saat berhubungan seks saja. Akan tetapi, penetrasi diperlukan juga pada pemeliharaan kesehatan organ-organ reproduksi wanita seperti berhubungan dengan penyakit organ reproduksi atau fungsi reproduksi (kehamilan dan melahirkan). Nah, masalah yang terjadi pada pengidap vaginismus yaitu mereka tidak dapat diperiksa kesehatannya karena harus melalui penetrasi vagina. Karena itulah, pemeriksaan keputihan atau terjadi pendarahan di luar siklus haid normal pada penderita vaginismus tidak bisa dilakukan.

Akan tetapi, pengidap vaginismus dapat diatasi dengan melakukan perawatan kesehatan pada organ reproduksinya. Perawatan kesehatan tersebut bisa berupa terapi medis yang dilakukan dengan dilatasi berbantu, yaitu upaya untuk melatih otot vagina tanpa harus adanya operasi atau sayatan. Dilatasi berbantu ataupun mandiri dapat dilakukan dengan alat bantu seperti jari dan dilator silikon yang memiliki bentuk silinder dalam berbagai ukuran. Dilatasi dengan alat bantu tersebut juga diperlukan dengan melakukan gerakan tertentu.

Pengidap vaginismus terkadang menganggu kondisi mental dan psikologis seseorang sehingga diperlukan penyembuhan yang ideal terkait kondisi tersebut. Masalah psikologis yang datang pada pengidap vaginismus akibat dari stigma masyarakat tentang kesalahan persepsi pada vaginismus. Masih banyak yang menganggap bahwa vaginismus disebabkan karena seorang perempuan tidak rileks saat melakukan hubungan seksual. Selain itu, ada anggapan lain bahwa penderita vaginismus tidak ingin melayani suami, tidak ingin punya anak, dan takut untuk memiliki anak. Bahkan perempuan yang terlalu fokus dengan masalah psikologis tersebut akan merasa dirinya hancur, merasa aib, dan tidak sepenuhnya menjadi seorang perempuan.

Bukan berarti perempuan yang pengidap vaginismus tidak mau melakukan hubungan seksual namun karena perempuan tersebut tidak bisa melakukan hal tersebut dan memerlukan dukungan dari orang-orang terdekat serta melakukan terapi medis.

Bedakan antara tidak bisa dengan tidak mau sehingga tidak ada lagi stigma yang buruk tentang pengidap vaginismus.

 

Penulis: Riva Destira Ramadhani

Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment