WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kenali Patriarki: Sistem yang Mengglorifikasi Ketimpangan Gender di Masyarakat

“Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga di dapur!”

“Laki-laki kok dandan sama pake skincare, sih?”

Sunners, pernah dengar kalimat tersebut? Atau kalian pernah mengucapkannya pada orang lain?

Kalimat-kalimat sejenis itu sudah biasa terlontar di kalangan masyarakat kita, Sunners. Hal itu terjadi karena sistem patriarki yang telah mengakar begitu dalam dan membudaya di masyarakat sehingga terbiasa akan praktik tersebut. Secara umum, patriarki merupakan suatu sistem sosial yang menempatkan posisi laki-laki di atas perempuan (men over women). Alfian Rokhmansyah (2013) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Gender dan Feminisme menyebut bahwa patriarki berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya. Laki-laki memiliki peran sentral dan utama di hampir keseluruhan aspek seperti ekonomi, sosial, politik, psikologi, bahkan institusi pernikahan, sementara peran perempuan begitu terbatas dan termarjinalkan.

Pembatasan peran dan hak yang terjadi karena sistem patriarki menyebabkan perempuan terbelenggu dan terdiskriminasi. Misalnya di bidang pekerjaan, perempuan kerap tidak dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan dengan posisi tinggi atau tak jarang diragukan kemampuan profesionalnya. Mengutip dari kanal YouTube Gita Savitri Devi (Beropini eps. 71), bahkan laki-laki dua kali lebih mudah dalam mendapatkan pekerjaan daripada perempuan. Hal itu menunjukkan bahwa kentalnya sistem patriarki dapat membuat seorang perempuan tersingkir dari ranah publik dan hanya akan stuck di ranah domestik atau pekerjaan rumah tangga.

Patriarki dan Masalah Sosialnya

Hadirnya patriarki pun melahirkan berbagai macam masalah sosial di masyarakat. Dilansir dari jurnal berjudul Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia (Sakina dan Siti, 2017), masalah-masalah tersebut di antaranya yakni kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, pernikahan dini, serta stigma mengenai perceraian yang kerap menyalahkan pihak perempuan. Permasalahan yang sering kita dengar itu menggambarkan betapa laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan. Dalam kasus KDRT, istri memiliki keterbatasan pilihan sehingga harus menuruti kemauan suami meskipun itu kemauan yang buruk. Jika tidak menurut, suami seakan ‘boleh saja’ menyakiti sang istri karena anggapan bahwa suami adalah pemimpin rumah tangga dan laki-laki bisa melakukan apa pun pada si perempuan karena ia berada di bawah kuasanya.

Kemudian, sistem patriarki yang memosisikan laki-laki sebagai pihak yang cenderung memiliki keleluasaan untuk melakukan apa pun pada perempuan membuat angka pelecehan seksual kian meningkat. Respons masyarakat sekitar biasanya kerap menyudutkan si korban. Tidak jarang juga korban pelecehan malah jadi pihak yang disalahkan, alasannya entah itu karena pakaian yang dipakai si korban, tingkah lakunya yang tidak bisa menjaga diri dengan baik, atau waktu kejadian pelecehan. Alasan-alasan tersebut tidak menempatkan si laki-laki sebagai pelaku—malah terkadang dimaklumi karena laki-laki memiliki libido atau syahwat yang tinggi dan tidak bisa ditahan. Hal-hal tersebut kian melanggengkan budaya patriarki di masyarakat.

Toxic Masculinity & Toxic Femininity

Tidak hanya perempuan yang begitu kesulitan akan adanya budaya patriarki, laki-laki pun merasakan hal yang sama. Buah dari patriarki yang membudaya di masyarakat yakni toxic masculinity dan toxic femininity atau maskulinitas beracun dan feminitas beracun. Toxic masculinity adalah istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan sebuah pemikiran sempit mengenai gender dan sifat laki-laki. Atau singkatnya, toxic masculinity berupa norma perihal bagaimana laki-laki harus bersikap dan bertindak di masyarakat. Maskulinitas laki-laki lekat dengan sifat yang dominan, tegas, serta berkaitan dengan kekerasan. Bila laki-laki memiliki sifat berkebalikan dari itu, biasanya akan menjadi bahan olokan dan dianggap ‘bukan laki’.

Contoh yang sering kita temui berkaitan dengan toxic masculinity yakni anggapan bahwa laki-laki tidak boleh menangis karena itu akan membuatnya tampak lemah. Padahal laki-laki juga manusia yang memiliki hati dan perasaan, tentu saja jika sedang bersedih ia boleh menangis. Malah, jika terus ditahan akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Contoh lainnya yaitu anggapan perihal laki-laki tidak seharusnya menggunakan skincare atau make-up karena sangat ‘cewek banget’. Padahal, merawat diri tidak mengenal gender sehingga siapa pun dapat melakukannya demi kesehatan kulit.

Serupa dengan toxic masculinity, toxic femininity adalah anggapan atau standar yang ditetapkan norma di masyarakat mengenai bagaimana perempuan harus bersikap dan bertindak. Feminitas beracun inilah yang menelurkan stigma bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan tinggi atau berkarier, serta harus pandai dalam urusan rumah tangga. Selain itu, perempuan dituntut untuk bersikap lembut dan berpenampilan feminin. Jika standar norma tersebut tidak dipenuhi, si perempuan kerap dihakimi hingga terkadang mentalnya tertekan. Padahal, memiliki kebebasan dalam berpenampilan atau memilih ingin menjadi apa adalah hak setiap orang, termasuk perempuan. Selama hal itu tidak merugikan orang lain, kita harus menerima pilihan-pilihan tersebut, sebab tidak seorang pun ingin hidupnya dihakimi.

Nah, Sunners, dari penjelasan tersebut kita bisa tahu bahwa budaya patriarki menimbulkan masalah dan ketimpangan gender yang nyata terjadi. Hal itu akan menghambat individu yang ingin terus berkembang. Lalu, gimana, nih, pendapat kalian mengenai budaya patriarki ini?

 

Deni Adilla Safitri – Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment