Majalah Sunday

Hilangnya Kain Batik

Penulis: Alfira Damayanti Rahman – Universitas Negeri Jakarta

Kejadian ini terjadi ketika anak kedua kami masih kecil. Akhirnya kami pindah ke kota kelahiran suamiku. Di sini keluarga kecil kami akan tinggal bersama orang tua dan saudara lainnya. Jadi meski di tengah perkampungan yang masih tradisional, rumah selalu terasa ramai.

Saat itu saya sedang bermain dengan anak kami, tiba-tiba saja ia menangis. Ternyata karena kain yang dipakai untuk alas tidurnya basah terkena pipisnya. Saya segera menggantinya dengan kain yang bersih dan kering.

Seperti orang tua dulu pada umumnya, kami masih memakai kain jarik atau kain batik panjang sebagai gendongan atau bedong bayi. Mulai dari nenek—yang biasa kami panggil nyai, masih menggunakan kain tersebut.

Suatu hari saya menjemur kain batik yang telah dicuci di halaman rumah. Seperti rumah-rumah zaman dulu yang halamannya masih sangat luas dan begitu banyak pepohonan. Menjelang sore saya berniat mengangkat kain dan pakaian lainnya dari jemuran. Awalnya saya tidak menyadari bahwa ada yang hilang. Benar, kain batik panjang berwarna coklat itu tidak ada di antara pakaian yang bergantung. Saya masih berpikir apakah terbawa angin atau ada orang lain yang mengangkat kainnya.

Setelah mencoba mencari di seluruh halaman, saya bertanya ke nyai.

“Nyai tadi angkat kain saya di jemuran, ya?”

“Kagak” Nyai menjawab dengan aksen betawinya.

“Masa kain batik yang tadi dijemur gaada nyi, apa mungkin kebawa angin?”

Bukannya dijawab, Nyai malah tertawa.

“Yah, itu mah dibawa,”

“Dibawa siapa? Ada orang gila yang sering ambil jemuran?” tanya saya polos, tentu saja karena saya orang baru di sini. Sedangkan di tempat tinggal dulu belum pernah ada kejadian jemuran hilang.

Kain Batik

Hilangnya Kain Batik pict by pexels.com

“Bukan, dibawa wewe gombel.” jawab nyai.

Saya setengah tidak percaya, “Emang masih ada yang kayak gitu di sini nyi?”

“Ada, emang siapa yang kalo malem suka kedengeran ketawa di pohon noh.” 

Meski pernah mendengar satu dua cerita kejadian mistis di sini, saya belum pernah mengalaminya secara langsung. Tentang suara tertawa di pohon depan rumah dan mitos mahkluk jadi-jadian.

Seakan jadi hal yang sudah biasa, Nyai bahkan menceritakan hal tersebut dengan nada yang biasa juga. Hanya seperti keisengan ‘mahkluk’ di sini yang sudah sering terjadi.

Beberapa hari setelahnya, saya menjemur kain yang lain. Kali ini saya menggantungnya di dekat jendela. Sampai beberapa saat, saya menyadari bahwa kain itu tidak ada di tempatnya. Jika terbawa angin pasti kain itu masih ada di bawah jendela, tapi ini tidak ada. Seketika badan saya merinding karena teringat cerita nyai.

Tapi saya juga penasaran, kenapa ‘mereka’ harus mengambil kain batik di jemuran, di siang hari pula.

Pertanyaan saya langsung menemukan jawaban, sehari setelahnya saya melihat tumpukan kain aneh dibawah semak-semak. Melihat corak dan warna kainnya, saya yakin itu adalah kain yang sebelumnya hilang di jemuran. Berlumuran darah dan lendir putih, serta sudah tidak utuh bentuknya. Robek di sana sini hingga berukuran kecil. Kain lainnya juga saya temukan dengan kondisi yang sama, menggantung di semak-semak. Konon katanya, wewe gombel akan mengambil kain batik dan digunakan ketika melahirkan anaknya. 

Terlepas dari kisah tersebut, saya percaya bahwa memang kita hidup berdampingan dengan mahkluk lain di dunia ini. Dan sebagai mahkluk ciptaan Allah SWT kita harus saling menghargai.

 

Terinspirasi dari kisah nyata.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Hati-hati, kisah yang kamu baca mungkin benar, berwaspadalah! Dapatkan cerita misteri lainnya dari Majalah Sunday.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 180
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?