Majalah Sunday

Folie À Deux: Fenomena Psikologi
tentang Delusi yang Dibagi

Penulis: Dewi Sulistia – UNJ
Editor: Imani – UNJ

Folie á Deux adalah istilah psikologi mengenai gangguan kejiwaan dari bahasa Prancis yang berarti madness for two (kegilaan yang dibagi dua). Selain itu, ada pula istilah lain dari Folie à deux yaitu Shared Psychotic Disorder (gangguan psikotik yang dibagi).

Folie à deux merupakan salah satu gangguan kejiwaan psikotik yang mana penderitanya memiliki gejala halusinasi dan delusi. Bedanya, folie à deux adalah gejala halusinasi yang dialami oleh dua orang atau lebih dengan salah satu orang yang lebih dominan.

Folie á Deux
Folie á Deux membuat penderitanya menarik diri dari pergaulan, pict by canva.com

Sunners, tahu nggak? Fenomena folie à deux bisa dialami oleh orang-orang yang mempunyai hubungan dekat, loh! Misalnya seperti keluarga, pasangan, atau pertemanan. Karena fenomena folie à deux ini adalah kejadian langka, kita harus ekstra hati-hati agar tidak kejadian, ya!

Biasanya, orang yang menderita folie à deux dan berperan dominan dalam fenomena ini memiliki gangguan kejiwaan lainnya seperti skizofreniadelusional disorderbipolar disordermajor depressive disorder, dan sebagainya. Hal ini belum tentu berlaku untuk rekannya yang juga ada di dalam fenomena folie à deux.

Eits, tapi perlu kita garis bawahi nih, Sunners! Adanya fenomena folie à deux bukan berarti gangguan kejiwaan adalah penyakit yang menular, ya! Hal ini baru bisa terjadi ketika seseorang dengan gangguan jiwa menemukan orang lain yang memiliki khayalan serta ketertarikan yang sama, dilanjutkan dengan mereka yang memiliki kecenderungan akan berbagi hal-hal tersebut.

Kasus folie à deux

Folie á Deux
Kasus bunuh diri kakak beradik di Bandung pada tahun 2017, pict by canva.com

Pada tahun 2017 lalu, media sempat digemparkan dengan berita kakak beradik di Bandung yang bunuh diri bersama dengan cara meloncat dari gedungnya. Sebelum itu, diberitakan juga bahwa mereka sempat dirawat di panti rehabilitasi kejiwaan di Bogor karena mengalami depresi setelah meninggalnya salah satu orang tua mereka.

Jadi, apakah kasus ini juga dihitung sebagai fenomena folie à deux? Meskipun tidak ada konfirmasi lanjutan mengenai kondisi kejiwaan kedua korban, tapi kasus di atas bisa jadi salah satu cara bagaimana folie à deux bekerja.

Biasanya, folie à deux mendorong si dominan untuk melakukan kegilaan bersama rekannya, seperti menjauhi kehidupan bersosial, menyakiti orang lain, menculik, membunuh, atau bahkan bunuh diri. Mereka akan bekerja sama sebagai partner in crime, dalam artian mereka benar-benar melakukan tindakan kriminal, tergantung bagaimana delusi itu mengendalikan mereka.

Jadi, begitulah seputar folie à deux. Semoga informasinya bermanfaat ya!

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2,522
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?