WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Fenomena Joki Tugas: Jalan Pintas yang Menyesatkan

Tak dapat dipungkiri jika praktik perjokian masih hilir mudik di dunia pendidikan Indonesia. Yang dikerjakan pun beragam, mengikuti permintaan pasar. Sasarannya? Tentu saja kaum mageran, hingga kaum yang merasa kewalahan.

Banyaknya murid yang mengeluh terkait pemberian segudang tugas dengan deadline yang berdekatan, dijadikan peluang emas untuk membuka jasa ini. Terlebih di masa pandemi, jangan heran apabila lapak perjokian tugas makin laris diminati.

Dihadapkan oleh pro dan kontra

Ibarat dua sisi mata koin, akan ada yang mendukung dan juga menentang. Mereka yang menggunakan jasa ini mungkin sudah merasa keteteran dengan tugas yang tidak henti-hentinya berdatangan. Kurangnya kemampuan mengatur waktu, serta kondisi fisik yang sudah merasa lelah membuat beberapa orang menyerah. Alhasil mereka memilih jalan pintas dengan menggunakan jasa joki tugas, agar dapat mengumpulkan tugas tepat waktu.

Bila dilihat dari aspek kejujuran, praktik perjokian tugas bukanlah perilaku yang terpuji. Tugas merupakan salah satu bentuk kewajiban yang harus diselesaikan secara personal, tujuannya tak lain untuk mengasah pengetahuan. Ketika mengerjakan tugas, murid dituntut untuk membaca dan memahami kembali materi yang telah dipelajari, dari sanalah ilmu didapatkan. Apabila seseorang sudah terbuai dengan nikmatnya menggunakan jasa joki tugas, ilmu apakah yang akan dituai? Apa gunanya mendapatkan nilai akademik tinggi, tapi tidak mendapatkan pengetahuan yang mumpuni.

Memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi

Kemajuan teknologi mendorong timbulnya ide bisnis baru yang lebih kreatif, termasuk jasa joki tugas via online ini. Dahulu penjoki tugas hanya menggunakan sistem promosi dari mulut ke mulut, namun kini sudah tersedia puluhan akun yang tersebar di berbagai media sosial bahkan juga e-commerce. Layaknya simbiosis mutualisme yang kedua pihaknya saling menguntungkan, cukup membayar sejumlah uang kepada si penjoki, tugas murid auto kelar.

Mari kita menilik iklan jasa joki tugas yang ada di instagram dan twitter. Mereka menawarkan waktu pengerjaan tugas yang singkat, tarif yang bervariatif, serta tak lupa memamerkan para tenaga kerja dibalik jasa jokinya. Ya, umumnya jasa joki ini dikelola oleh sebuah kelompok. Anggotanya pun berasal dari berbagai latar belakang universitas dan jurusan yang berbeda, pengerjaan tugas dapat disesuaikan dengan keahliannya masing-masing, supaya pelanggan tambah yakin dengan keakuratan jawaban.

Selebgram ternama digandeng untuk mempromosikan usaha joki tugas melalui endorse, tak sedikit pengikutnya yang terpengaruh. Fenomena joki tugas sudah menjadi rahasia publik, diam-diam banyak juga yang melirik.

Apa kata mereka?

Pembahasan akan kurang lengkap rasanya, kalau belum berbincang langsung dengan pemeran utama yang sedari awal kita bicarakan.
“Saya biasa menerima pengerjaan tugas dalam bentuk power point dan juga jurnal. Untuk patokan tarif dalam sekali pengerjaan itu tergantung kesulitannya. Kalau pembuatan jurnal sekitar 50-60 ribu, itu pun bahannya harus sudah disediakan ya.” Ucap seorang penyedia jasa joki tugas yang identitasnya dirahasiakan.
“Menurut saya adanya penjokian tugas ini membuat pelajar semakin bermalas-malasan dalam berpikir dan selalu meremehkan apapun dengan uang. Akan tetapi karena adanya penjokian tugas ini mempermudah seseorang mencari uang hanya dengan melakukan joki tugas orang lain.” Jawabnya, ketika ditanyakan mengenai fenomena joki tugas yang kian marak.

Jika tadi pendapat dari ‘penyedia’, mari kita beranjak ke pendapat dari sang ‘pelanggan’ setia.
“Gua cukup sering pakai jasa joki tugas. Supaya dia (penjoki) membantu tugas yang A dan gua bisa mengerjakan tugas yang B. Tau sih kalo ini salah, tapi mau gimana lagi. Tugas banyak itu bikin stres, sedangkan gua tidak bisa mengerjakan semuanya secara bersamaan.” Tutur salah satu pelajar SMA ibu kota, yang biasa menggunakan jasa joki tugas.

Selesai satu tumbuh seribu, begitulah tugas. Wajar bila merasa lelah yang teramat-sangat. Ingin teriak? Silakan. Ingin rehat sejenak? Diperbolehkan. Eits, tapi setelah itu harus kembali berjuang menyelesaikan kewajiban akademik ini ya, Sunners. Jangan terlalu fokus dengan jumlah tugas yang harus dikerjakan, tapi fokuslah dengan pembelajaran atau pengetahuan yang bisa dipetik dari tugas tersebut. Semakin banyak mengerjakan, semakin banyak pula ilmu yang didapatkan. Tak apa jika hasilnya belum sempurna, asalkan itu hasil jerih payah diri sendiri, bukan orang lain. Tanamkan sifat kejujuran dalam diri kalian, hindarilah kecurangan. Yuk bisa yuk!

Oleh: Nelin Novalin, Universitas Negeri Jakarta.

Leave A Comment