WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Diagnosis Mandiri Kesehatan Mental Ramai Dicoba, Ikuti atau Jangan?

Semakin hari semakin banyak aja nih link-link tes kesehatan mental yang tersebar di internet. Klaimnya dengan kamu melakukan tes kesehatan mental melalui tautan tersebut, kamu akan langsung mendapatkan diagnosa mengenai kondisi kesehatan mental kamu saat itu juga. Yap, secepat itu. Melakukan tes kesehatan mental melalui tautan tertentu yang tersebar di internet itu termasuk dalam kategori diagnosis mandiri. Diagnosis mandiri kesehatan mental merupakan diagnosis yang dilakukan sendiri terhadap gejala-gejala yang mereka alami dan mengaitkannya dengan penyakit mental dengan gejala sama.

Faktanya, diagnosa hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli di bidangnya lho, dan diagnosis yang dilakukan sembarangan justru bisa berakibat fatal untuk kesehatan mental kita. Untuk membimbing Sunners agar tidak tersesat saat ingin mencoba tren yang satu ini, yuk simak dulu apa aja sih resiko-resiko yang bisa terjadi jika kita melakukan diagnosis mandiri terhadap kesehatan mental kita.

Sebenarnya apakah boleh kita melakukan diagnosis mandiri?

Kasus diagnosis mandiri sendiri masih jadi perdebatan para ahli mengenai boleh atau tidaknya melakukan tindakan tersebut. Ada para ahli yang mendukung dan ada yang tidak. Ahli yang mendukung menyatakan kalau diagnosis mandiri bisa dijadikan salah satu bentuk kewaspadaan kita terhadap isu kesehatan mental, tetapi dengan catatan dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya ya. Misal, seorang psikolog boleh mendiagnosis dirinya sendiri karena mereka sudah mumpuni di bidang tersebut.

Ahli yang tidak setuju tentunya mengkhawatirkan kalau diagnosis mandiri kesehatan mental ini tidak dilakukan oleh seorang profesional dan malah menghasilkan diagnosa yang tidak tepat. Diagnosa yang tidak tepat ini sangat berpotensi berakibat buruk pada orang-orang yang menerimanya atau mempercayainya begitu saja. Misalnya, ketika kita lagi mengalami mood swing, yang sebenarnya terjadi karena dari kondisi hormon kita yang sedang tidak stabil, dan kita malah mengaitkannya dengan gangguan bipolar. Nah, hal – hal seperti ini dikhawatirkan akan menimbulkan beban yang lebih berat dari yang seharusnya kita terima.

Tersugesti mengalami gangguan kesehatan mental tertentu

Biasanya ketika seseorang mendapatkan hasil yang keliru mengenai kondisi kesehatan mental mereka, mereka jadi cenderung tersugesti dengan diagnosa yang keliru tersebut. Seperti contoh di atas, seseorang yang mendiagnosa mandiri kalau dirinya mengidap bipolar padahal sebenarnya hanya sedang mengalami mood swing saja, mereka justru akan cenderung meniru gejala-gejala bipolar tanpa mereka sadari. Bahkan dalam beberapa kejadian mereka justru malah mengindahkan gangguan kesehatan mental tersebut melalui unggahan-unggahan bertema estetik di media sosial, seperti melalui foto, lagu, dan lain-lain.

Bisa salah perawatan atau tindakan lebih lanjut

Jika seseorang sudah terlanjur mempercayai hasil dari diagnosis mandiri kesehatan mental tersebut tanpa konsultasi lebih lanjut dari tenaga profesional, baik hasil itu didapatkan dari tes kuesioner dari internet, hasil dari mengkait-kaitkan sendiri, atau sekedar dengar-dengar dari teman, perawatan selanjutnya untuk kesehatan mental kita tentu bisa membahayakan diri kita sendiri. Mengapa? Karena dari awal pun hasilnya sudah sudah keliru, sudah pasti perawatan yang dianjurkan juga melenceng dari yang seharusnya kita butuhkan. Misalnya, salah satu tes kesehatan mental dari internet mengklaim kalau kamu sedang mengalami depresi. Kemudian, kamu langsung mengkonsumsi obat anti depresi tertentu tanpa resep dari dokter atau psikiater. Wah bahaya banget kan, Sunners?

Cerita dari salah seorang remaja yang melakukan diagnosis kesehatan mental mandiri

Untuk lebih memahami lagi tren diagnosis mandiri kesehatan mental ini ada baiknya Sunners menyimak langsung cerita dari salah seorang remaja yang melakukan tindakan tersebut. Chaca (16), salah seorang siswa MAN asal Cirebon mengaku mendapatkan tautan tes kesehatan mental mandiri tersebut dari salah seorang mutualnya di Twitter. Ia menyebutkan bahwa dia sendiri tidak tahu siapa dan berprofesi sebagai apa orang yang membuat tes tersebut.

Chaca mengatakan kalau tujuan awalnya mengikuti tes tersebut adalah serius untuk mengetahui diagnosa kesehatan mental dirinya saat itu karena ia sedang merasa tidak baik-baik saja. Bukannya tidak berkesempatan bertemu tenaga profesional, Chaca mengaku kalau berkonsultasi langsung dengan psikolog dirasa masih kurang nyaman untuk dirinya. Chaca takut berterus terang mengenai dirinya sendiri ketika bertatap muka langsung dengan psikolog.

“Emm, aku jadi mikirin diri aku sendiri, dan aku berusaha jadi lebih baik lagi. Aku sekarang lebih ke dengerin musik, bermain sama teman, bikin orang lain senang, terus support orang lain biar gak kayak aku.” Jelas Chaca saat ditanya bagaimana cara ia sekarang menyalurkan emosinya, setelah sebelumnya sempat menyakiti diri sendiri dengan cara meninju tembok dengan kepalan tangan kosong.

Selain itu Chaca juga menceritakan kalau membaiknya kondisi kesehatan mentalnya juga tidak terlepas dari dukungan teman dan hobi miliknya. Teman-teman Chaca kerap kali mendengarkan dan memberikan solusi baik saat Chaca berbagi cerita. Dan tentu saja peran hobi dalam pemulihan kondisi kesehatan mental Chaca berperan cukup besar, sampai ia berani mengatakan kalau lebih dari 50% dukungan mental tersebut ia peroleh dari hobinya, yaitu Fangirling.

“Pengaruh banget sih. Mood aku jadi bagus saat fangirling. Apalagi aku cukup banyak teman dari hobi itu. Sejauh ini ini grup yang paling berpengaruh Seventeen dan GFriend, kalau Idolnya Hoshi Seventeen dan Yerin GFriend.” Ujar Chaca saat Sunday memintanya sedikit menjabarkan tentang pengaruh hobi fangirling dengan kondisi kesehatan mentalnya.

Lalu bagaimana tindakan kita seharusnya untuk mendapatkan diagnosa kesehatan mental yang akurat?

Tentu saja diagnosa kesehatan mental yang paling akurat adalah langsung dari ahlinya, yaitu tenaga profesional di bidang kesehatan mental. Akses bantuan kesehatan mental profesional di Indonesia memang tergolong masih sulit. Benar di puskesmas sudah tersedia layanan konseling murah atau gratis, namun itu hanya sebatas konseling saja, tidak sampai tahap memberi diagnosis.

Tapi tentu saja berkonsultasi ke puskesmas sudah merupakan pilihan yang lebih bijak daripada melakukan diagnosis mandiri tanpa pendampingan dari tenaga profesional. Dari puskesmas nanti sudah pasti jika ternyata kamu butuh perawatan lebih lanjut, pihak puskesmas akan segera merujuk kamu ke tempat yang sesuai.

Gimana nih Sunners, ada yang pernah melakukan diagnosis mandiri kesehatan mental? Boleh berbagi pengalamannya di kolom komentar ya! Jangan lupa saling berempati terhadap orang terdekat kita ya, karena siapa tahu mereka sedang butuh bantuan kalian. Semangat!

 

Oleh Maharani Laksmi Dewi, UNJ

Leave A Comment