Majalah Sunday

Di Bawah Jembatan...

Penulis : Wulan Nur Afrilia

Sumatera Barat. Kota di mana aku dibesarkan. Tempat di mana rasa sakit banyak ditorehkan ke dalam hati hingga membekas menjadi aku versi sekarang ini. Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan maut setahun lalu dan aku adalah anak tunggal membuatku hidup sendiri di rumah ini. Aku setiap hari harus terlambat ke sekolah karena membuat adonan bakwan dan menggorengnya hingga habis lalu dibawa ke sekolah untuk membiayai hidupku sehari-hari. Aku terlalu sering mengkritik takdir. Aku yang tidak seperti anak kebanyakan, yang hidupnya enak, makan enak, apa-apa serba mudah. Ditambah aku yang tidak punya saudara atau anggap saja begitu karena bagiku adapun tetap berasa tidak ada.

Aku yang seperti biasa memilih buah cokelat untuk kujemur lalu kujual tiba-tiba dikejutkan oleh suara temanku.

Beko awak jadi  mandi-mandi  kan? teriak Tiara di belakangku. Kita memang sudah berjanji untuk mandi-mandi bersama.

Mandi-mandi sudah menjadi tradisi kami. Itu adalah acara ramai-ramai ke pantai atau sungai untuk berenang sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan atau bisa disebut cara kami untuk bersuci.

Iyo jadi,” jawabku. Ini memang momen yang ditunggu anak seumuran kami.

Beko awak jadi kan kabawah jambatan?” Tiara memelankan suaranya.

Jadi. tapi diam-diam sajo yo,” jawabku ikut memelankan suara.

Di bawah Jembatan, cerpen dari Majalah Sunday

Di bawah jembatan adalah mitos yang berkembang di kota kami, konon di bawah sana terdapat sumur di dalam air dan ditunggui oleh sosok entah seperti apa bentuknya. Kami adalah sekumpulan anak yang penasaran dan selalu ingin tahu tapi selalu gagal. Nanti kesempatan kami karena kami akan mandi-mandi tanpa ditemani orang tua.

Beko jam limo alah disinan yo, teriak Tiara seraya berlari pulang.

Dan di sinilah kami, bukan hanya aku dan Tiara tapi juga ada dua temanku yang lain, Rara dan Fani. Kami menyelinap ditengah ramainya masyarakat yang juga antusias melakukan kegiatan ini. Perlahan kami memasuki air berenang menjauhi keramaian, membelah air tenang yang lama-kelamaan semakin dalam. Rara memimpin paling depan, sepertinya dia yang paling penasaran. Kami tidak tahu jelas di mana letak sumur itu karena letaknya di dalam air membuat kami harus menyelam. Sesaat sebelum menyelam, kami yang masih berenang perlahan langsung terkejut saat pusaran air yang tadinya tidak ada tiba-tiba menyeret Rara dan Fani masuk sampai aku tak dapat melihat mereka lagi. Aku dan Tiara langsung menepi menggapai tepian di bawah jembatan itu lalu naik ke atasnya. Badan kami gemetar ketakutan entah apa tadi tapi jelas Rara dan Fani sudah hilang. Dan sekitar kami seketika gelap. Suara orang-orang yang masih  terdengar walau jauh berubah hening. Kami semakin ketakutan dan juga kedinginan bahkan bibir Tiara berubah membiru. Lalu dalam hitungan detik sosok itu muncul. Sosok yang aku pikir hanya mitos kini terpampang nyata di depan mata. Dia berjubah hitam dan bertudung, mukanya tidak terlihat, badannya kurus seperti hanya tulang. Dia muncul dari tempat di mana temanku terakhir terlihat. 

“Hanya satu yang boleh pulang dengan selamat,” sosok itu bersuara. Suaranya seperti wanita, nyaring melengking.

Aku panik. Artinya hanya aku atau Tiara yang akan pulang. Ini sama sekali di luar rencanaku. Bahkan belum lama sejak kami meninggalkan pantai sudah begini jadinya.

“Pilih siapa yang akan pulang?” sosok itu bersuara lagi, mendesak.

Tiara terdiam. Akhirnya aku maju mendekati sosok itu dan menjawab dengan suara tercekat yang kupaksakan.

“Tidak bisakah kami berdua pulang?” jawabku, “Dua temanku sudah kau ambil.”

“Tidak. Hanya satu. Dan untuk yang pulang akan aku berikan hadiah karena sudah berkunjung ke rumahku”

“Apa?” sontak aku tergiur. Namun, Tiara langsung menarikku.

“Kamu mau apa anak muda? Aku bisa  berikan semuanya, tinggal kau sebut apa yang kau mau.”

“Sia nan ka pulang?” Kata Tiara, “Awak baduo harus pulang baapun caronyo.”

“Kau ndak mandanga? Kecek inyo surang nan buliah pulang nyo!” Aku menjawab kasar. Melepaskan tanganku yang digenggam erat oleh Tiara.

“Tu sia nan ka pulang?!” teriak Tiara. Menatapku marah.  

 “Aku. Aku yang akan pulang” Jawabku menoleh ke sosok itu. hanya beberapa detik aku  merasa bersalah lalu entah kenapa senyum mengembang di bibirku saat kembali menatap Tiara. Belum sempat Tiara berkata namun seketika dia hilang menjadi abu.

Di bawah Jembatan, sebuah karya sastra dari Majalah Sunday

“Kau boleh pulang. Apa yang kau inginkan sudah ada di rumahmu. Jangan kau ceritakan pada siapapun” sosok itu mengingatkan.

Hari sudah gelap saat kutiba di pantai dan sudah tidak ada orang. Aku bergegas pulang. Dan benar saja saat kutiba di rumah ada tas berisi uang penuh di dalamnya dan langsung kusimpan ke dalam lemari.

Besoknya aku ditanyai oleh mama Tiara tentang anaknya yang tidak pulang dan kujawab dengan wajah lugu khasku, aku bilang tidak tahu. Pencarian tiga orang temanku terus berlanjut sampai para Tim SAR menyerah dan akhirnya keluarga mengikhlaskan setelah satu bulan penuh masa pencarian.

Merasa bersalahkah aku? Iya, aku merasa bersalah. tapi apakah aku bersalah? Tidak, aku tidak bersalah. Itu keputusan kami untuk pergi mencari tahu, untuk melunasi rasa penasaran kami tentang apa yang ada di bawah jembatan itu. Aku hanya merasa ini hadiah atas hari-hari burukku.

Uang itu kusimpan rapi. Tak pernah kusentuh barang sedikitpun, sebaliknya aku tambah walau sedikit untuk bekalku pada hari itu. Tepat saat hari kelulusan SMA, aku tidak ikut tradisi coret-coret baju, kuputuskan langsung ke terminal bertolak menjauh dari kampungku. Hari kubulatkan tekad menjauh dari banyak hal yang menghantuiku. Dari tiga temanku yang selalu menemaniku saat aku mulai menutup mata, rasa bersalah yang mendalam  saat aku berpapasan dengan orang tua temanku membuat aku hidup dalam ketidaknyamanan sampai rasanya aku seperti orang gila. Selalu ketakutan. 

Tapi saat menjauh dari kampung pun tetap terbawa. Aku tidak tahu sampai ada banyak cerita dari tetanggaku yang kudengar diam-diam bahwa aku selalu berbeda. Aku sering kali setiap malam keluar memegang pisau. Aku yang membunuh ayam tetangga. Aku dengan banyak bekas luka. Aku yang bahkan tidak tau aku melakukan itu. Dan aku rasa itu temanku.

Di bawah Jembatan, sebuah cerpen dari Majalah Sunday

Sabtu malam adalah perkumpulan setiap minggu yang rutin diadakan oleh seluruh penghuni indekos untuk sekadar bercengkerama atau bernyanyi sambil bermain gitar atau hanya untuk bergosip tentang warga indekos sebelah. Semua yang sudah berkumpul tiba-tiba teringat bahwa aku tidak ada. Salah seorang penghuni indekos mengetuk pintuku. Aku tidak menjawab. Rencanaku sudah matang. Saat kutinggalkan jembatan itu kukira hidupku akan membaik dengan hadiah yang diberikan sosok itu. Tak kusangka tiga temanku hidup dalam diriku. Aku tidak mau lagi hidup seperti ini. Tali sudah aku ikat kuat melilit leherku, tinggal satu langkah lagi. Aku sudah tidak kuat. Aku putuskan mengakhiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 686
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?