Majalah Sunday

Consent dan Sifatnya yang Reversible

Penulis: Delia Putri Amanda – Universitas Negeri Jakarta

Gimana perasaanmu kalau rumahmu dimasuki tetangga tanpa izin? Atau kalau barang pribadimu dipakai sembarangan tanpa izin? Atau kalau anggota tubuhmu dipegang-pegang tanpa izin?

Tentunya kamu akan merasa tidak nyaman.

Ketiga hal tersebut punya keterkaitan erat dengan konsep consent. Tapi, sebenarnya apa sih consent itu?

Konsep Consent

Consent atau konsensual secara sederhana adalah persetujuan. Konsep ini dapat dimaknai sebagai pemberian persetujuan secara sukarela dan tanpa paksaan, oleh semua pihak yang terlibat dalam situasi atau aktivitas tertentu.

Dengan kata lain, consent berperan untuk memastikan apakah situasi atau aktivitas tertentu dianggap adil, memberikan rasa nyaman, atau malah merugikan secara fisik, emosional, atau psikologis pihak yang terlibat.

Contohnya kayak tadi, kalau mau masuk rumah orang lain, kita harus selalu memastikan sang empunya rumah mengizinkan; kalau mau pakai barang orang lain, kita harus memastikan yang punya barang bersedia memberi izin; dan terakhir, jangan sembarangan colak-colek orang lain sebelum mendapatkan izin!

jangan pegang-pegang orang lain tanpa consent!

Dilarang menyentuh tanpa consent! pict by canva.com

Dalam edukasi seks, consent seharusnya menjadi hal yang paling wajib untuk dikenalkan pertama kali. Pasalnya, pemahaman yang benar tentang consent dapat membantu kita untuk lebih memahami hak atas tubuh, mencegah atau minimalnya mengurangi kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi, dan juga dapat membentuk kita untuk menjadi pribadi yang bisa menghormati hak dan keputusan orang lain. Pengajaran konsep consent itu sendiri bisa mencakup mengenai penjelasan pentingnya consent, cara memberi atau menolak, serta bagaimana menyikapi penerimaan dan penolakan tersebut.

Kalau dilihat dari pengertiannya, konsep ini terdengar sederhana, ya? Intinya hanyalah perihal memberi persetujuan atau izin. Tapi, ternyata consent ini gak sesimpel pernyataan “ya” yang permanen. Consent dapat berubah sewaktu-waktu sesuai sifatnya yang reversible. Ini berarti, seseorang bisa saja memutuskan persetujuan di awal dan menarik kembali persetujuan tersebut jika ia merasa tidak nyaman setelahnya. Nah loh? Emang boleh begitu?

Sifat Reversible dalam Consent

Consent bersifat reversible. Reversible memiliki pengertian dapat dicabut atau ditarik kembali. Maksudnya ialah, sifatnya yang reversible memberikan hak kepada seseorang untuk menarik kembali persetujuannya kapan saja, jika ia merasa tidak nyaman dan tidak ingin berada dalam situasi atau melanjutkan aktivitas tertentu.

Dalam konteks umum, kita bisa mengambil contoh ketika teman kita datang ke rumah untuk bermain. Di awal, kita memang sudah memberi izin kepada teman kita untuk memasuki rumah. Namun, ternyata teman kita malah menyentuh barang-barang pribadi dan hal itu sangat membuat kita tidak nyaman. Kita boleh dan punya hak untuk mencabut persetujuan kita dalam pemberian izin tadi. Tidak harus serta-merta mengusir begitu saja, namun kita dapat memberikan pengertian bahwa pemberian izin memasuki rumah tidak lantas memberikan persetujuan sekaligus untuk menyentuh barang-barang pribadi.

consent bersifat reversible atau dapat ditarik kembali

Consent dapat diubah sewaktu-waktu, pict by canva.com

Inilah yang disebut sifat reversible dalam persetujuan. Consent bukan “ya” yang mutlak dan permanen. Justru sebaliknya, konsensual adalah hal yang dapat diperbaharui dan berubah sewaktu-waktu. Untuk itu, penting sekali memastikan semua pihak yang terlibat dalam situasi atau aktivitas tertentu secara aktif menyuarakan persetujuannya. Hal ini dilakukan untuk menghormati dan menghargai keputusan seseorang terhadap batasan apa saja yang boleh/tidak boleh dilewati.

Pelecehan Seksual Terkait Consent

Tak jarang kasus pelecehan seksual terjadi akibat pelaku yang tidak menghormati perubahan consent. Sebagai contoh, dalam hubungan pacaran, misalnya, kedua belah pihak sudah memberikan persetujuan untuk berciuman. Akan tetapi, ketika aktivitas tersebut berlangsung, salah satu pihak tiba-tiba merasa tidak nyaman dan ingin menghentikan tindakan tersebut. Meski awalnya pihak tersebut sudah memberikan persetujuan secara sukarela, tanpa adanya tekanan, ancaman, atau paksaan manapun, ia tetap memiliki hak untuk mencabut persetujuan yang telah diberikan. Dan jika pihak lain yang terlibat tidak menghentikan aktivitas itu segera setelah consent dicabut, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai pelecehan seksual.

Atau, kita dapat berkaca pada kasus pelecehan yang terjadi pada pelantun kondang ‘Semua Aku Dirayakan’. Pada September lalu, Nadin Amizah mengalami pelecehan seksual seusai menghadiri konser di Ciwalk, Bandung. Menurut pengakuan Nadin, seseorang telah menyentuh bagian dadanya saat kondisi sedang chaos. Ia juga menegaskan dalam narasi di instagram pribadinya agar penggemar tidak sembarangan menyentuh badannya dalam kondisi apapun kecuali sudah ada consent. Peristiwa yang dialami Nadin adalah contoh bagaimana seseorang berhak untuk marah dan merasa tidak nyaman apabila anggota tubuhnya dipegang orang lain tanpa adanya persetujuan. Bahkan meski Nadin dikenal ramah terhadap penggemarnya, hal itu tidak lantas menjadikan mereka memiliki hak untuk menyentuh tubuh Nadin sesukanya.

Hal ini menegaskan prinsip consent yang harus diberikan secara sukarela dan tanpa paksaan. Pun, jika sewaktu-sewaktu consent diubah atau ditarik kembali, kita tetap harus menghargai keputusan tersebut dengan menghentikan situasi yang dapat membuat salah satu pihak tidak nyaman.

“Padahal di awal udah oke-oke aja, tapi kok tiba-tiba berubah pikiran? Labil, deh!”

Consent memberi pengajaran terkait pentingnya komunikasi. Untuk itulah, pada hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual, consent harus dinyatakan dengan jelas dan tegas guna memastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat memahami apa saja yang diberikan dan diminta.

Kita tidak boleh sembarangan menjustifikasi pihak yang mengubah consent sebagai seseorang yang labil, karena sekali lagi, merekalah yang mempunyai hak atas tubuh dan keputusan-keputusan apapun yang berkaitan dengan tubuh mereka. Pun, untuk itulah ada yang disebut dengan “age of consent” alias batasan usia seseorang dianggap memiliki kemampuan hukum untuk memberikan consent. Maksudnya ialah, seseorang tersebut sudah cukup dewasa untuk memahami konsekuensi dari keputusan seksual dan dapat memberikan persetujuan yang sah.

Sifat consent yang reversible menggarisbawahi bahwa kita tidak bisa semena-mena terhadap hak dan keputusan individu terhadap tubuhnya. Karena itulah dalam edukasi seks, tidak cukup jika hanya sampai pada pengenalan konsep saja. Akan tetapi, penting juga untuk belajar memberikan dan menolak secara tegas, dan bagaimana menyikapi penerimaan dan penolakan sebagai bentuk penghormatan atas hak orang lain.

jangan takut katakan tidak!

Jangan takut katakan tidak, pict by canva.com

Jika mau, suarakan bahwa kita setuju. Jika tidak, jangan takut untuk menolak dan bilang “tidak”. Yang terpenting, kita harus memahami terlebih dahulu konsekuensi terhadap keputusan yang kita pilih. Jangan sampai penyesalan datang karena adanya keraguan dalam memberikan persetujuan.

Selain itu, kita juga harus menghormati setiap keputusan pihak lain terkait pemberian atau penolakan consent. Jika dikatakan setuju, selalu pastikan bahwa pemberian izin tersebut dilakukan secara sadar dan atas dasar sukarela. Jika ditolak, hormati dan hargai keputusan tersebut dengan tidak memaksakan kehendak apalagi sampai mengancam pihak yang terlibat.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 148
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?