WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Cerpen Tema Mental Health “(Takut Beranjak Dewasa)”

Mencicil Langkah Menuju Dewasa

Oleh: Shela Oktaviani

Tepat hari ini aku berusia 17 tahun, masa yang amat kunantikan karena tinggal selangkah lagi aku benar-benar berada di dunia yang berbeda. Orang bilang usia 17 tahun itu istimewa karena fase inilah yang membawaku menuju dewasa dan meninggalkan masa remaja. Buktinya, di usia 17 tahun para remaja baru diakui oleh negara dengan membuat KTP sebagai identitas diri. Tapi, aku juga sudah bersiap untuk bisa menjadi pribadi yang dewasa dan perlahan meninggalkan sifat kekanak-kanakan.” 

Itulah penggalan kalimat yang kutulis dan kubaca kembali dari buku harian milikku. Wah rasanya aku sangat bersemangat menyambut diriku di usia 17 tahun kala itu dengan keyakinan menuju dewasa itu menyenangkan, hingga beberapa bulan kemudian aku dihadapkan oleh pilihan yang membawaku kepada keresahan, ketakutan, kekhawatiran, dan penuh bimbang yang menjadikan keyakinanku pupus.

Aku saat ini duduk dibangku kelas tiga SMA. Mulai bermunculan pertanyaan dari segelintir orang.

“Naya sudah kelas tiga SMA, kan?! Mau lanjut kuliah di mana?”, atau 

“Naya setelah lulus SMA mau lanjut kuliah atau bekerja?”, tak jarang juga seperti ini 

“Naya, mau kuliah jurusan apa?”, dan lain-lain.

Tak jarang beberapa orang menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum sempat kujawab itu, semakin membuatku pusing. Aku sempat lupa bahwa dewasa tidak selalu tentang kebebasan, tetapi ada keputusan yang harus diambil dan bukan hanya tentang diriku sendiri, melainkan ada harapan banyak orang yang bersandar di pundakku.

“Dek, kamu sebentar lagi lulus, loh. Sudah memutuskan mau kuliah di mana dan memilih jurusan apa?”, Tanya Kak Rian, satu-satunya kakak yang kumiliki dan di usianya yang menginjak 28 tahun ini ia tak kunjung menikah, padahal wajahnya lumayan juga. 

“Kak, gak ada pertanyaan lain kah?, tiap kita sarapan selalu itu saja yang ditanyakan di atas meja makan ini!”, jawabku kesal karena sudah bosan dihadapkan oleh pertanyaan yang itu-itu saja.

“Wajarlah Dek kalau Kakakmu bertanya, toh memang betul kamu sudah harus bisa mengambil keputusan saat ini tentang masa depanmu. Sudah jangan bingung, pilih Jurusan Hukum saja seperti Kakakmu”, sahut Ibu yang selalu membela anak laki-laki semata wayangnya itu.

“Kamu masih bingung memangnya, Dek? Coba cerita dengan kami, mungkin kamu bisa menemukan jawaban”, ucap Ayah kepadaku, beliau memang selalu hangat dan bijak, satu-satunya penolongku disaat aku terpojok.

Aku hanya bisa terdiam, seperti yang kubilang aku tak mau terlihat kekanak-kanakan walau di depan keluargaku sendiri. Ya, sebenarnya aku pun bingung mau bercerita bagaimana karena rasa khawatir, takut, dan bimbang sudah bercampur aduk di benakku.

“Tuhan, tak bisakah kau berikan ilham kepadaku, mungkin sedikit saja tentang gambaran masa depanku kelak akan bagaimana?!”, pintaku pada Tuhan, walau kutahu masa depan itu abu-abu.

Setelah sarapan bersama, aku berangkat ke sekolah diantar oleh Kak Rian. Sambil menyetir dengan perlahan tapi pasti, Kak Rian membuka obrolan.

“Dek, maafin Kakak ya. Kakak gak bermaksud membuatmu merasa tertekan, hanya saja Ayah, Ibu, dan Kakak sendiri pun khawatir sama kamu”, ucapnya lembut.

“Iya, aku tahu, Kak. Tapi tolonglah kasih aku waktu untuk berpikir dengan matang agar keputusan yang aku ambil itu gak salah”, jawabku dengan memohon.

“Dek, gak ada keputusan yang benar dan salah. Setiap keputusan itu ada risikonya masing-masing. Tinggal bagaimana kita bisa melawan rasa takut dari dampak keputusan yang kita ambil.” ucap Kak Rian penuh keyakinan.

“Kakak paham, jalan menuju dewasa itu gak selamanya indah karena Kakak sendiri pun pernah ada di posisimu. Banyak kekhawatiran dan ketakutan yang muncul, tapi masa depan gak ada yang tahu, Dek. Belum tentu yang kamu takutkan itu akan terjadi, dan ini hidupmu. Kamu sendiri yang akan menjalaninya”, lanjutnya.

Aku hanya terdiam, memikirkan ucapan kakakku yang harus kuakui sedikit memberikan pencerahan bagi diriku yang penuh kebimbangan ini. Sejujurnya, aku takut bahwa keputusanku untuk berkuliah di Jurusan Psikologi akan mengecewakan ayah dan ibu karena mereka berharap aku memilih Jurusan Hukum. Tapi, dari pada aku menduga-duga dan malah menambah beban pikiran saja lebih baik sepulang sekolah nanti aku bicarakan hal ini dengan ayah dan ibu, semoga saja mereka menyetujui keputusanku.

Tibalah aku di rumah sore ini, ayah dan kakakku juga sudah pulang bekerja. Saat makan malam tiba nanti akan ku bicarakan hal yang mengganjal pikiranku ini.

“Ada yang ingin kubicarakan”, ucapku ragu-ragu.

“Tumben banget, ada apa nih?”. sahut Kak Rian usil di tengah rasa takutku.

“Ada apa, Dek? Ayah dan Ibu akan dengarkan”, sahut Ayah diiringi oleh anggukan dari Ibu.

“Sejujurnya aku sudah lama tertarik dengan dunia psikologi, Yah…”, ucapku sambil melirik Ayah.

“Aku ingin kuliah dan memilih Jurusan Psikologi, Bu”, lanjutku melirik Ibu.

“Sebelum kalian marah dan kecewa karena aku gak mau memilih jurusan yang sama dengan Kak Rian, aku minta maaf sama Ayah dan Ibu”, ujarku dengan nada bergetar takut.

Setelah ucapanku tadi, suasana menjadi hening sejenak. Tak lama muncul senyuman di wajah Ayah dan Ibu.

“Jadi itu yang kamu takutkan sampai sekarang, Dek? Hahaha…. ya ampun Dek, Ayah dan Ibu tak akan kecewa karena keputusanmu ini. Kami bangga karena kamu bisa mengambil keputusan dengan yakin”, jawab Ayah sambil tertawa.

“Dek, kamu selama ini bingung karena itu? Masalah seperti ini kan bisa dibicarakan, jangan kamu pendam sendiri. Kamu punya keluarga dan teman, jangan menduga-duga sampai akhirnya kamu kebingungan sendiri. Ibu tidak berniat memaksamu untuk memilih jurusan yang sama dengan Kakakmu”, sahut Ibu dengan tatapan penuh kasih sayang.

Aku hanya tersenyum lega, salah satu keputusan terbesar dihidupku telah kuambil dengan penuh keyakinan. Dukungan dan doa dari keluargaku akan menjadi bekal yang kubawa dalam mencicil langkah menuju dewasa, aku berusaha melawan rasa takut akan kegagalan dan kenyataan yang kelak tak sesuai dengan ekspektasi. Menjadi dewasa memang tak selalu indah, namun mensyukurinya juga bukan hal yang sulit.

Leave A Comment