WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Perempuan Itu Tidak Boleh “Terlalu”

Seorang perempuan berusia 26 tahun sedang gencar mengejar karier. Di tengah viralnya nikah muda, ia tetap fokus dengan tujuan. Di lingkungan sekitar ia bahkan dikecam sebagai perawan tua. Hilatus namanya, seorang pekerja kantoran biasa yang sedang berusaha membahagiakan kedua orang tuanya, menjadi tulang punggung keluarga untuk kedua adiknya yang masih bersekolah. 

Seperti biasa, sebelum matahari menampakkan sinarnya. Hilatus sudah nangkring di depan rumahnya sambil memantau isi gawainya, tidak lain sedang memesan ojol langganannya. 

Hilatus: “Bang, lebih cepat ya, hari Senin biasanya macet di persimpangan depan.”

Abang ojol: “Siap, Neng.”

Tanpa percakapan, motor berlaku dengan kencang membawa sang penumpang. Sesampainya di kantor, Hilatus memulai tugasnya seperti biasa. Siklus menjadi pegawai yang gajinya hanya UMR Jakarta tak menutup kemungkinan membuat Hilatus kelimpungan saat akhir bulan tiba. Bayar listri per bulan, kebutuhan rumah, kebutuhan pribadi, dan biaya sekolah kedua adiknya yang masih duduk di sekolah menengah kejuruan. Hilatus mempunyai dua adik kembar, Arda dan Ardi. Mereka duduk di kelas 3 SMK. Dimana untuk mengejar kelulusan banyak praktik yang harus dilakukan dan pastinya bayar iuran kegiatan dan alat-alat praktik yang dibutuhkan. Hilatus sama sekali tak keberatan, sebab merasa bertanggung jawab sebagai anak sulung yang diandalkan. Kedua orang tua Hilatus sudah tak mampu membiayai Arda dan Ardi sekolah. Ibu Hilatus hanya ibu rumah tangga biasa, sedang Ayahnya sudah lama pensiun dini akibat kelumpuhan. 

Semenjak Hilatus memutuskan untuk bekerja daripada menikah pada usia 22 tahun setelah kelulusan, banyak ucapan yang tidak menyenangkan dari tetangga dan lingkungan sekitar. Katanya “Sok cantik, nanti juga jadi perawan tua. Sok menolak lamaran.” Ucap tetangga yang memang sedari dulu tak suka jika melihat Hilatus melanjutkan pendidikan, Bu Jeni namanya, sebab keirian. Namun, Hilatus tak pernah menghiraukan. Hilatus tetap fokus pada cita-cita membahagiakan kedua orang dan mendanai adik-adiknya sampai benar-benar dapat hidup mapan. 

Pukul 17.00 Hilatus bersiap kembali ke rumah, memesan ojol dan mulai menyusuri jalanan dekat rumahnya. Tak disangka di tengah gang menuju rumahnya, Hilatus mendengar sindiran yang membuat hati menggelegar. Bu Santi, tetangga Hilatus yang juga sering bergaul dengan Bu Jeni. 

Bu Santi: “Hilatus, baru pulang udah malam gini, biasanya sore?”

Hilatus: “Iya, Bu. Tadi macet di persimpangan depan.”

Bu Jeni: “Oh, kirain abis nyari sampingan.”

Hilatus mengabaikan sindiran mereka, karena sudah terbiasa dan tak mau mengurusi hal demikian. 

Sampai suatu ketika di hari minggu pagi, Hilatus ingin membeli sayuran di tempat Ibunya belanja.

Bu Jeni: “Tumben Neng belanja, Ibunya kemana?” (Sambil melirik Bu Santi, seakan memberi kode)

Hilatus: “Ada, Bu. Ibu saya sedang tidak enak badan, makanya saya yang belanja.”

Bu Santi: “Emangnya Hilatus bisa masak?”

Hilatus: “Sedikit-sedikit bisa, Bu.”

Bu Jeni: “Kok sedikit si, perempuan mah harus bisa masak Neng, nanti kalo udah nikah suaminya mau dikasih makan apa?”

Hilatus: (hanya terdiam dan tetap sabar)

Bu Santi: “Eh Bu Jeni, ga boleh gitu. Hilatus kan kerja jadi maklum lah, Bu.” (Dengan nada meledek)

Bu Jeni: “Makanya neng, jangan terlalu ambisi kalo kerja, sewajarnya aja. Lagian Neng Hilatus terlalu cantik klo cuma kerja di kantoran, kan bisa kerja sampingan sama anak saya di karaoke gajinya besar lho kerjanya juga gampang.” 

Bu Santi: “Bener tuh Hilatus, lagian kamu kan pinter. Sayang lho kepintarannya ga kepake, kan bisa buat minterin orang, ya kan Bu?”

Bu Jeni: “Ya, jangan pinter-pinter banget lah Neng, nanti lelaki pada minder kalo deketin Neng, makanya jadi susah jodoh.”

Bu Santi: “Eh buka sudah jodoh, Bu. Kemarin kan menolak jodoh.” (Bu Santi dan Bu Jeni tertawa)

Menghela napas panjang, Hilatus segera membayar sayuran yang sudah ia pilih dan meninggalkan tempat. 

Hilatus: “Ibu-Ibu, saya duluan, ya.” 

Ibu-Ibu: “Iya, Neng sok mangga.”

Meski begitu Hilatus tak menjawab sepatah kata pun, hanya membalas dengan senyuman dan tak mau berbicara panjang lebar. Hilatus merasa orang-orang di sekitarnya tak pernah memberi celah untuk menunjukkan kebebasan dalam hal pendidikan, pekerjaan, bahkan status sosial.

Karya: Ami Fahira

Leave A Comment