WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Cancel Culture Mentality

Pernah gak sih Sunners ngerasa gak suka sama perilaku atau kebiasaan seseorang, lalu kamu berusaha mengajak segerombolan temanmu untuk menunjukkan penolakan kepada orang tadi? Well, hal tersebut adalah salah satu bentuk cancel culture mentality.

Cancel Culture yang Dialami Para Seleb

Umumnya cancel culture terjadi pada public figure, yang dinilai buruk oleh seseorang atau sebuah kelompok karena adanya sentimen moral yang dirasakan. Contoh cancel culture pada selebriti Indonesia dapat Sunners lihat pada reaksi masyarakat dikarenakan akun twitter @quweenjojo yang menyatakan dirinya dilecehkan oleh Gofar Hilman. Tweet pada Juli 2021 tersebut menimbulkan reaksi berupa perundungan melalui media sosial maupun secara langsung, baik kepada Gofar maupun keluarganya. Walaupun di bulan Februari 2022 pengguna akun twitter @quweenjojo tersebut menyatakan dirinya berbohong dan mengalami gangguan delusi, reaksi masyarakat tetap tidak berhenti untuk melakukan penolakan dengan opini yang cenderung sulit untuk divalidasi.

Masih banyak kisah public figure lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri yang mengalami cancel culture. Mulai dari Denny Sumargo pemain basket yang sempat diduga menghamili mantan kekasihnya; Kevin Hart stand up comedian Amerika yang dirundung karena haters-nya mengangkat tweet yang sudah berselang beberapa tahun; Kim Seon Ho aktor Korea yang terkait dugaan pemaksaan aborsi yang melibatkan mantan kekasihnya; dan J.K. Rowling, penulis sohor dari Inggris yang ditolak karena dianggap kontra atas kelompok LGBTQ+. Pelakunya tentu netizen, dengan jari-jemari yang lincah berkomentar pedas bak ayam geprek level 10.

Kekuatan media sosial membuat public figure bisa menjadi korban dari cancel culture. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kamu atau orang-orang di sekitarmu pun juga sangat mungkin menjadi korban maupun pelaku cancel culture.

Mengulik Cancel Culture Mentality

Utpal Dholakia seorang lulusan doktor dengan fokus Science Behind Behavior menyatakan bahwa terdapat tahapan proses psikologi yang terjadi pada pelaku cancel culture

  1. Pelaku menyadari dan melakukan identifikasi terkait pelanggaran seseorang untuk dinilai secara mendalam;
  2. Pelaku mengalami emosi negatif yang kuat seperti murka, jijik, takut, dan marah pada orang yang dinilai melanggar nilai-nilai yang dianut;
  3. Pelaku bertindak aktif untuk menghukum dan menyakiti orang yang yang melanggar, bahkan menghimpun orang-orang lain untuk turut menghukum.

Menurut studi yang dilakukan oleh Pew Research Center, beberapa orang menganggap cancel culture adalah bentuk keikutsertaan untuk beropini atas perbuatan yang dilakukan orang lain. Ada juga yang memahami cancel culture tak jauh berbeda dengan “mob mentality”, mentalitas untuk melakukan hal yang sama sesuai dengan kebanyakan orang. 

Paul Booth, pakar media dan profesor komunikasi dari Institusi DePaul menyatakan bahwa cancel culture bukan hanya segerombolan orang yang tergugah dan sengaja menargetkan tokoh artis. Cancel culture menuntut orang yang melakukan pelanggaran untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, dan tuntutan tersebut kadang dilakukan dengan memaksa si pelanggar atau melakukan penghakiman.

Merespons Cancel Culture

Siapa pun dapat menjadi pelaku cancel culture. Begitupun sebaliknya, orang-orang yang berada di sekitar kita dapat menjadi korban ketika banyak orang berpikir bahwa sosok tersebut telah melanggar nilai dan norma tertentu. Jadi, agar cancel culture mentality ini tidak menjadi kebiasaan kita, Sunners perlu melakukan hal-hal berikut:

  1. Perluas batas toleransimu terhadap orang lain yang tentunya berlatar belakang berbeda dengan kita serta berbeda nilai yang dianut;
  2. Jika kamu merasakan emosi negatif terhadap orang lain yang melakukan pelanggaran, kelola dan lampiaskan kepada tindakan yang tidak bersifat merusak atau menyakiti orang lain, seperti olahraga, menyanyi atau lainnya;
  3. Jangan main hakim sendiri. Jika sosok yang melanggar aturan tersebut adalah orang di sekitarmu, sampaikan kepada pihak berwajib, entah guru/dosen, polisi, atau lembaga tertentu agar mereka menyelesaikan permasalah sesuai prosedur.
  4. Berfokuslah pada cara mengedukasi orang-orang di sekitar kita untuk hidup dalam nilai dan norma yang baik dan benar. Menyalahkan orang yang melakukan pelanggaran nilai atau norma, belum tentu membuat orang-orang tersebut tidak melakukan kesalahan yang berulang.

Cancel culture mungkin akan masih menjadi mentalitas yang dimiliki oleh banyak orang, terlebih dengan informasi yang semakin beredar cepat dan sulit untuk diverifikasi. Namun Sunners dapat menjadi agen perubahan yang tidak mudah terseret arus cancel culture mentality. Yuk lakukan tips di atas dan jadilah sosok yang empowering each other. 

Leave A Comment