WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual (Bag.2): FISIK

Hi, Sunners! Masih ingat kan tentang pembahasan sebelumnya mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual? Kalau waktu lalu kita membahas tentang pelecehan seksual secara verbal, maka pada kesempatan kali ini mimin akan menjelaskan tentang pelecehan seksual secara fisik.

Kurangnya pengetahuan akan pendidikan seksual di Indonesia menjadikan tingkat pelecehan seksual menjadi sangat tinggi dan akan terus bertambah jika pola pikir masyarakat di sekitar kita masih menganggap bahwa pendidikan seks sejak usia dini merupakan suatu hal yang tabu. Hal tersebut akan mengakibatkan mereka yang menjadi korban pelecehan seksual bahkan tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Durex Indonesia mengenai kesehatan reproduksi dan seksual menunjukan bahwa sekitar 84% remaja berusia 12-17 tahun mengaku belum mendapatkan pendidikan seks. Angkat tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja. Menurut Survei Lawan Pelecehan yang diadakan di change.org menyebutkan bahwa sekitar 60%  partisipan mengaku mengalami pelecehan seksual secara verbal, sekitar 24% mengalaminya secara fisik, dan sekitar 15% mengalaminya secara visual. Pelecehan seksual fisik yang sering dialami oleh para korban diantaranya adalah disentuh, diraba, disenggol, ditepuk, dicubit, dicium, dihadang, digesek dan diikuti.

Sebagian besar seseorang yang pernah mengalami kejadian tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, mengaku mengalami trauma yang cukup berdampak setelahnya. Mereka akan selalu dibayang-bayangi oleh kejadian tersebut, bahkan beberapa dari mereka mengaku menjadi takut saat akan bepergian seorang diri. Hal tersebut dialami oleh seorang perempuan berinisial B.

 

“Saat itu ia sedang dalam perjalanan pulang menaiki kereta, saat ia sedang menonton video di ponselnya, datanglah seorang laki-laki dan duduk di sebelahnya. Awalnya semua baik-baik saja, bahkan mereka sempat berbincang-bincang sedikit, hingga pada suatu saat, B memutuskan untuk tidur karena perjalanan masih panjang. Ia tidur dengan menggunakan selimut yang menutupi badannya. Namun, pada saat tertidur, ia terbangun karena merasa ada yang meraba-raba salah satu tangannya. Ia sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa, bahkan ia sampai menangis dalam diam pada saat itu. Akhirnya sambil berpura-pura tidur, ia mengirim pesan kepada seorang teman, kemudian teman tersebut meneleponnya. Pada saat itulah keberaniannya muncul, ia beranjak dari kursinya dan menghentikan tindakan tersebut, kemudian ia memutuskan untuk melapor pada petugas yang sedang berjaga.

Namun, sangat disayangkan, respon dari petugas saat itu kurang tegas. Petugas tersebut hanya meminta B, yang mana adalah korban pelecehan, untuk berpindah tempat duduk. Sedangkan pelaku tidak diberikan sanksi apa-apa, ia hanya diminta untuk berjanji agar tidak akan mengulanginya lagi, sampai pada akhirnya pelaku turun di sebuah stasiun dan lolos begitu saja.”

 

Meskipun B merasa kurang puas terhadap respon dari tindakan tersebut, namun keberaniannya patut kita hargai dan kita contoh. Keberanian dalam melawan pelaku pelecehan seksual merupakan suatu hal yang yang sangat luar biasa. Menurut Survei Lawan Pelecehan, sebesar 56% korban pelecehan mengaku berani melawan pelaku pelecehan seksual. Hal tersebut menandakan bahwa cukup banyak dari kita yang berani melawan hal tersebut dan menghentikannya. Saat pelaku dilawan , sekitar 38% dari mereka berpura-pura bodoh, dan sekitar 36% dari mereka malah mengumpat dan melontarkan sesuatu yang tidak pantas.

Jika kalian pernah mengalami hal serupa, jangan ragu untuk menghentikan tindakan tersebut, atau mintalah bantuan kepada orang disekitar kalian agar tindakan tersebut berakhir secepatnya, dan  jika kalian pernah melihat atau menyaksikan hal serupa, kalian juga bisa membantu korban agar terbebas dari tindakan tersebut. Berikanlah rasa aman serta dukungan kepada korban agar korban merasa bahwa ada seseorang yang melindunginya. Dan yang terpenting adalah ikut serta menjaga lingkungan agar tetap aman dan nyaman bagi kita semua.

 

oleh: Elfrida Sakti

Leave A Comment