WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

7 Hal yang Perlu Diketahui untuk Mengatasi Kecemasan Setelah Melakukan Seks Pra Nikah

“Mimin,mau tanya… Bagaimana cara mengatasi agar tidak stress/depresi karena menyesal sudah melakukan seks sebelum menikah?”

Setiap orang dan setiap budaya memiliki arti yang berbeda tentang keperawanan. Beberapa orang menganggap kehilangan keperawanan ketika  penis penetrasi ke dalam vagina. Selain itu, beberapa orang menganggap seks oral pun sudah dianggap kehilangan keperawanan. Definisi keperawanan itu sendiri adalah sebuah konsep tentang tidak pernah melakukan seks. Ada masyarakat yang meyakini bahwa seks adalah hal yang sakral sehingga melakukan seks hanya untuk orang yang sudah menikah. Namun ada masyarakat yang meyakini bahwa seks adalah kebutuhan biologis manusia sehingga tidak perlu menunggu menikah untuk melakukan seks.

Masyarakat kita memegang prinsip bahwa seks hanya untuk orang menikah. Tak jarang mereka mudah memberi label negatif pada individu yang melakukan seks pra nikah. Mereka yang sudah melakukan seks pra nikah akan dicap individu yang nakal, hina atau rendah. 

Tidak dipungkiri label dari masyarakat akan mempengaruhi kondisi psikologis individu. Padahal baik laki-laki atau perempuan sangat mungkin merasa tidak berharga, ragu, tidak percaya diri, frustasi pada hubungan cemas, stres atau bahkan depresi.  Seperti penelitian yang dilakukan Golden, Furman, & Collibee pada tahun 2016 dengan responden remaja di Amerika Barat yang terdiri dari 88 laki dan 86 perempuan menunjukkan bahwa pertama kali melakukan seks dapat mengakibatkan depresi.

Pink Flower on Ceramic Plate

Berikut 7 hal yang perlu kamu tahu untuk mengatasi rasa cemas setelah pertama kali melakukan seks pra nikah:

1.Keperawanan  adalah konstruksi sosial

Konstruksi sosial merupakan suatu pandangan yang diciptakan oleh suatu masyarakat itu sendiri. Saat pertama kali melakukan seks kita tidak kehilangan apa pun. Kehilangan keperawanan bukan lah hal medis karena WHO telah mengategorikan tes keperawanan sebagai bentuk kekerasan. 

 

2. Melakukan seks tidak akan mengubah dirimu

Setelah melakukan seks kamu akan tetap menjadi dirimu. Sebelum atau sesudah melakukan seks tidak ada yang berubah dari dirimu. Kepribadianmu dan keunikanmu tidak akan berubah setelah melakukan seks. Orang lain akan melihat kamu sama seperti biasanya. Kehilangan keperawanan bukan berarti kehilangan identitasmu.

 

3. Moralitas bukan ditentukan dari seks pranikah

Jika kamu merasa melakukan kesalahan atau mengambil keputusan buruk bukan berarti kamu adalah bad person. Good person pun juga melakukan keputusan buruk atau melakukan kesalahan. Sangatlah wajar manusia melakukan kesalahan. 

 

4. Penerimaan diri

Penerimaan diri adalah suatu keadaan individu memberikan penilaian positif pada dirinya sendiri serta mengakui dan menerima kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam dirinya tanpa rasa malu atau merasa bersalah (Ryff, 1996). Dengan kamu menerima dirimu kamu akan mempunyai kesehatan mental yang baik, menghargai diri sendiri dan memaafkan orang lain . 

 

5. Berbicara dengan jujur pada pasangan seksmu

Jika memang kamu butuh teman cerita, kamu bisa melakukan pembicaraan dengan pasangan kamu. Kamu bisa mengutarakan perasaan dengan jujur bahwa apa yang kamu rasakan seperti perasaan menyesal atau perasaan ragu dan kamu perlu menegaskan bahwa tidak melakukan seks bukan berarti tidak sayang pada pasangan. 

 

6. Bergabung pada support group

Masyarakat kita masih menganggap seks adalah hal tabu. Sulit rasanya jika ingin bercerita pada orang sekitar. Bergabung pada support group akan mewadahi kamu untuk mengutarakan perasaanmu dan akan mendapat dukungan sosial tanpa takut akan diberi label.

 


7. Datang ke profesional

Jika dirasa kondisi psikologis mengganggu aktivitasmu artinya kamu perlu datang ke psikolog. Psikolog akan mendengarkan permasalahan ini dan akan membimbing kamu untuk menyelesaikan masalah. 

 

References
Golden, R. L., Furman, W., & Collibee, C. (2016). The Risks and Rewards of Sexual Debut. American Psychological Association, 1913-1925.
Ryff, C. D. (1996). Psychological Well Being. San Diego: Academic Press.

 

*Penulis: Galuh Saraswati
Artikel ini merupakan kerja sama antara Majalah Sunday dengan KampusPsikologi.com

logo kampuspsikologi

Leave A Comment