WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

5 Fakta Sejarah Halloween, Ada yang Menyenangkan dan Menyeramkan!

Perayaan Halloween tahun ini akan tidak begitu meriah, mengingat dunia sedang menghadapi pandemi penyakit virus Corona baru (COVID-19) yang memaksa semua orang berdiam di rumah.

Meskipun begitu, Indonesia pun pada dasarnya tidak menganggap Halloween sebagai hari raya. Bahkan, dengan berbagai mitos dan sejarah kelam yang melingkupinya.

Indonesia menolak perayaan tradisional tersebut dan mencapnya sebagai salah satu hari “pemujaan setan”! Namun, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa titik di Indonesia nampak menggunakan tema Halloween sebagai keseruan liburan menjelang akhir tahun.

Apa itu Halloween? Mengapa Halloween erat dengan konsep mistis? Dan, kenapa harus labu dan permen? Ternyata, berbagai aspek perayaan Halloween pun memiliki sejarahnya sendiri. Inilah 5 fakta mengenai sejarah Halloween.

  1. Nama “Halloween” sebenarnya berasal dari “All Hallows’ Eve

Dari Paganisme, Halloween ternyata lekat dengan paham kekristenan zaman dahulu. Menurut sejarah, sekitar awal abad ke-7, Paus Bonifasius IV mengumumkan 13 Mei sebagai “Hari Raya Martir & Orang Suci”. Sejak abad ke-9, paham kekristenan telah menyebar di Britania Raya dan bercampur dengan paganisme yang ikut merayakan Hari Arwah pada 2 November.

Pada pertengahan abad ke-9, Paus Gregorius IV kemudian memindahkan hari raya tersebut dari 13 Mei ke 1 November, bertepatan dengan Samhain, sehingga 31 Oktober dikenal sebagai All Hallows’ Eve atau “Malam Orang Kudus”. Ketiga hari raya tersebut kemudian disebut “Allhallowtide” atau “Hallowmas“.

Pada akhir abad ke-12, perayaan Allhallowtide pun menjadi ritual keagamaan di benua Eropa. Lalu, kenapa bisa jadi “Halloween”? Pada abad ke-16, All Hallows’ Eve lebih populer dengan nama Hallows E’en. Nama tersebut kemudian diperpendek pada abad ke-18 menjadi… Yap!, Halloween yang kita kenal sekarang.

  1. Lomba makan apel saat Halloween berasal dari tradisi Romawi Kuno

Salah satu kegiatan di festival Halloween dan Samhain dapat ditelusuri dari kebudayaan Romawi Kuno yang menduduki wilayah kaum Kelt sejak 43 Masehi. Kalau menurut kalender Katolik 2 November adalah Hari Raya Arwah, maka menurut mitologi Romawi Kuno, tanggal tersebut adalah hari raya dewi kesuburan dan buah, Pomona, yang dilambangkan dengan memakan buah apel.

Sempat mengalami penurunan pada abad ke-18, aktivitas makan apel tersebut mengalami pergeseran makna di Britania Raya dan Amerika Serikat saat dibawa melalui imigrasi besar-besaran rakyat Irlandia. Bukan sebagai penghormatan pada dewi, mereka melakukannya untuk cari jodoh dengan cara menggigit apel dengan nama orang yang kamu suka!

Tapi, harus berhasil sekali gigit. Kalau tidak, maka bukan jodohmu!.

  1. Tradisi trick or treat dan soul cake saat Halloween

Tradisi meminta permen atau melakukan tipuan (trick or treat) pada awalnya dikenal sebagai souling. Sesuai namanya, souling adalah aktivitas berkeliling untuk mengumpulkan kue dengan motif salib yang disebut soul cake. Kue ini juga dikatakan sebagai “sesajen” untuk para Aos si agar tidak mengganggu.

Pada abad ke-13 di Eropa, soul cake sangat terkenal saat Halloween. Sebagai ganti soul cake, mereka pun akan berdoa demi mereka. Tradisi tersebut kemudian mulai dimanfaatkan oleh para pengemis saat Hari Arwah pada 2 November untuk mendapatkan soul cake. Bukan trick or treat, mereka menyerukan bahwa mereka siap berdoa untuk jiwa siapapun yang mau memberi.

Pada tahun 1911, praktik menyamar sebagai hantu untuk meminta permen di Amerika Serikat tercatat pertama kali pada tahun 1911. Namun, kalimat “trick and treat” saat Halloween baru naik daun di Amerika Serikat  pada tahun 1950 an, saat dunia hiburan marak menyuarakan kegiatan meminta permen atau dikerjai sebagai trick or treat.

  1. Sejarah mengukir labu untuk Halloween, Jack-O Lantern

Mengukir labu dengan ekspresi menyeramkan dan meletakkan lilin di dalamnya sudah umum untuk tradisi Halloween. Namun, mengapa mereka biasa melakukannya? Ternyata, tradisi tersebut diambil dari cerita rakyat kaum Kelt tentang “Jack-o-lantern”. Cerita ini pun memiliki berbagai versi tergantung negaranya. Bagaimana ceritanya?

Alkisah, pada zaman dulu, seorang pria bernama Jack suka ngerjain semua orang, termasuk iblis! Oleh karena tingkah usilnya terhadap sesama dan iblis, maka Jack pun ditolak di surga dan di neraka. Kena batunya, iblis pun meledek Jack dengan melempar sebuah bara panas pada Jack agar dapat “menerangi jalannya”. Jack pun mengukir umbi-umbian dan meletakkan bara tersebut di dalamnya sebagai lentera.

Awalnya, Jack-o-lantern tidak menggunakan labu, melainkan umbi-umbian seperti bit, kentang, dan ubi yang diberikan lilin untuk mengusir arwah Jack. Namun, setelah bermigrasi di Amerika Serikat, umbi-umbian yang mereka lihat cocok adalah labu, sehingga mereka gunakan itu hingga saat ini.

  1. Abad ke-20, Halloween tidak lagi mengenai hal mistis

Sebenarnya, sejak abad ke-19, Halloween telah mengalami pergeseran makna dari berbau mistis dan keagamaan menjadi tradisi yang berfokus pada kebersamaan dan keluarga. Namun, pada pertengahan abad ke-20, AS menghimbau agar masyarakat Amerika Serikat merayakan Halloween dengan aman bersama keluarga.

Namun, pada tahun 1950 an, Amerika Serikat  benar-benar berhasil dalam membasmi hal-hal mistis dan kerusuhan yang terjadi akibat Halloween. Sejak angka populasi meningkat di kala itu, Halloween jadi lebih identik dengan anak-anak yang merayakannya di sekolah dan rumah.

Itulah 5 fakta seru mengenai sejarah Halloween. Siapa menyangka, berbeda dengan pandangan tabu terhadap Halloween, tradisi ini terus mengalami perubahan seiring berkembangnya  zaman untuk beradaptasi dengan norma dan nilai sosial masa kini? Dari mengenang arwah anggota keluarga, upacara keagamaan, hingga jadi ajang keseruan dengan teman sampai cari jodoh!.

Penulis : Eliezer Ondo Bosta Purba X IPS 2 09 – SMAK Penabur Summarecon Bekasi

Leave A Comment