WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

YUK, KENALI MITOS SEPUTAR KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA PEREMPUAN

Sunners tahu enggak sih? Menjaga kesehatan reproduksi sangatlah penting, terutama bagi kalian sebagai remaja perempuan. Karena, masa remaja adalah waktu terbaik untuk membangun kebiasaan hidup bersih yang dapat menjadi aset dalam jangka panjang.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah mereka yang berusia antara 12 dan 24 tahun. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Artinya, proses pengenalan dan pembelajaran tentang kesehatan reproduksi benar-benar dimulai dari titik itu.

Secara sederhana, mereproduksi berasal dari kata “re-” yang berarti membuat dan “production” yang berarti membuat atau menghasilkan. Reproduksi bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan kembali keturunan.

Karena definisi yang terlalu umum tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebatas masalah seksual atau hubungan intim. Sehingga, banyak orang tua yang merasa tidak nyaman  membicarakan masalah ini dengan remaja. Padahal, kesehatan reproduksi khususnya pada masa remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi. Kurangnya edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi ternyata bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan sehingga membuat para remaja akhirnya penasaran terhadap hal tersebut. Pada dasarnya, kalian sebagai anak remaja perlu memiliki pengetahuan seputar kesehatan reproduksi. Tak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ tersebut, informasi yang benar terhadap pembahasan ini juga bisa menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Nah, sekarang aku akan mengajak kalian untuk mengenali Mitos Seputar Kesehatan Reproduksi pada Remaja Perempuan:

  1. Selama menstruasi tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi air dingin

Sunners harus tahu bahwa mengonsumsi air dingin nggak ada hubungannya dengan proses menstruasi. Karena air dingin akan masuk ke organ pencernaan, sedangkan menstruasi merupakan hasil dari kerja organ reproduksi. So? Pernyataan pertama termasuk mitos.

  1. Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak menyebabkan kehamilan

Sunners, ketika sperma telah masuk melewati vagina, sperma akan mencari sel telur yang matang yang sudah siap dibuahi. Jadi, potensi untuk terjadinya kehamilan tetap ada karena sperma yang masuk ke dalam sulit untuk dikeluarkan kembali. Sperma bisa bertahan hidup dalam vagina selama 5 hari. Jadi, hubungan seks yang dilakukan dalam rentang waktu 5 hari sebelum terjadinya ovulasi pun tetap dapat menyebabkan kehamilan. So? Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak menyebabkan kehamilan adalah mitos.

  1. Douching adalah cara terbaik untuk membersihkan vagina

Selanjutnya, perlu Sunners ketahui bahwa vagina dapat membersihkan dirinya sendiri. Tindakan douching justru menyebabkan lebih banyak kerusakan dibanding kebaikan. Bakteri alami yang ditemukan di dalam vagina dapat membantunya menjaga tetap bersih dan sehat. Sementara douching dapat mengganggu keseimbangan tersebut dan menyebarkan infeksi vagina ke saluran tuba, rahim, dan ovarium. Jadi, douching adalah cara terbaik untuk membersihkan vagina termasuk mitos.

  1. Penyakit menular seksual dapat tertular dari dudukan toilet.

Benar enggak sih? Kalau penyakit menular seksual dapat tertular dari dudukan toilet. Eits jangan langsung percaya dulu ya Sunners. Perlu kalian ketahui, bahwa hal tersebut hanyalah mitos kesehatan seksual dan reproduksi perempuan saja. Sebab, dudukan toilet bukanlah media umum penularan infeksi pada manusia. Meski banyak ditemukan organisme penyebab penyakit, namun mereka tidak dapat bertahan hidup dalam waktu lama di area tersebut. Ditambah organisme tersebut tidak ada dalam urin, jadi kemungkinan tertular penyakit menular seksual akan sangat kecil.So? Penyakit menular seksual dapat tertular dari dudukan toilet adalah hoaks.

Nah, itulah beberapa mitos yang beredar di sekitar kita padahal faktanya nggak gitu-gitu banget, ya, kan? Semoga kita nggak lagi terprovokasi pada mitos menyesatkan ini, ya!

Penulis: Lidya Setia_Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment